8 Komentar

Cerpen: Wajah yang Menari dalam Bayang

WAJAH YANG MENARI DALAM BAYANG 
Cerpen Odi Shalahuddin

 

 

Pintu kamar terketuk. Kututup buku yang tengah terbaca. Tiba-tiba saja dada berdebar tak karuan. Terbayang ada lintasan kamera menyorot dua tubuh telanjang berkeringat di atas ranjang. Pasangan tak berimbang. Sosok lelaki yang tiba-tiba berubah wajah. Ada taring menyeringai, tampak jelas dalam cermin. Sedang sang perempuan muda, teramat muda bahkan, tergolek tak berdaya seperti kehilangan nyawa.

”Santai sajalah,” Firman rekan kerjaku pernah mengatakan ketika kuutarakan kekhawatiranku. ”Itu hanya kekhawatiran tak beralasan. Cobalah sekali-sekali. Jangan lupa pakai pengaman,” tambahnya seraya terbahak. Sedangkan aku merasa berada di sudut ring terkena hantaman.

Kembali pintu terketuk, berkali-kali, dengan irama yang teratur. Tidak keras. Tapi membuatku menggigil. Terbayang wajah istriku dengan senyumannya yang teramat manis saat menyambut kepulanganku. Terbayang pula wajah anak-anak.

Aku masih belum bangkit. Teringat kembali pertemuan terakhir dengan Firman, seminggu yang lalu, setelah seminggu sebelumnya tak bertemu lantaran masing-masing bepergian ke luar kota.

”Bagaimana? Mantab? Tidak ada masalah, kan?”

Aku menggeleng.

”Nah, itu baru lelaki,” katanya sambil memukul bahu.

”Maksudku, belum,”

”Hah! Jadi percuma dong aku kasih nomor telpon ke dirimu bila tidak kau manfaatkan. Ah, dasar pengecut! Kalau mau, nanti aku antar langsung. Tenang, pasti aman. Aku kenal baik. Privasi sangat terjamin,”

”Hari ini, kerjaan menumpuk,”

”Ah, selalu saja alasanmu seperti itu. Ya, sudah, kalau senggang, jangan segan kontak aku ya. Pokoknya, beres deh,”

Waktu berlalu. Hingga akhirnya aku ke luar kota lagi tadi pagi. Firman yang kuberi tahu lewat sms, langsung membalas ”Di kota itu, kontak nomor ini. Bilang saja kawannya Firman, dijamin deh”

Awalnya aku hanya menanggapi sms darinya dengan menjawab terima kasih. Tapi setiba di kota tujuan, hari masih sore. Acara baru besok pagi. Sesorean aku berada di kamar. Ya, sebenarnya bisa saja waktu kugunakan untuk berjalan-jalan untuk mengenali sudut-sudut kota ini. Tapi lagi malas rasanya. Aku hanya membaringkan tubuh di ranjang, sambil membaca sebuah buku kumpulan cerpen karya seorang kawan.

Waktu yang terus berjalan. Mata juga sudah capek mencermati huruf-huruf. Ah, terbayang lagi wajah si Firman. Dasar itu orang. Memang racun. Semakin dihilangkan dari bayang, semakin dia mencengkram.

“Buktikan dong sebagai lelaki modern yang gaul,” suara Firman ketika bersama rekan-rekan kerja saat makan siang di kantin.

“Wah, jangan-jangan, dia bilang tidak, padahal bisa lebih jago dari dirimu, loh, Man,” Yadi memberikan komentar.

“Iya, loh… Cuma dia pintar menyembunyikan saja. Tidak mau cerita ke kita-kita hingga suatu saat kita dikejutkan oleh kisahnya yang luar biasa. Jangan-jangan ada rekaman videonya juga…” Saldi menimpali.

”Ah, aku gak yakin, ah. Istrinya sendiri belum tentu loh tersentuh oleh dirinya…”

Semua tergelak. Aku diam saja sambil menyeruput es teh yang dingin, memasuki kerongkongan, tapi panas juga dirasa hati. Aku tahu mereka semua bercanda. Tidak serius.

Selama ini, kawan-kawan selalu menceritakan kehebohan petualangan mereka, yang kadang aku anggap tidak masuk akal juga. Apalagi si Firman. Kisahnya bagaikan aku mendengar sebuah dongengan. Walau jujur pula harus diakui si Firman ini sungguh luar biasa buayanya orang itu. Entah ilmu apa yang dia gunakan, selalu saja ia bisa mendekati perempuan yang diinginkannya.  Tapi apa yang ia lakukan di bilik-bilik kamar? Apakah seheboh dengan apa yang dikisahkannya? Entahlah.

”Ayolah, buat apa meragu. Ini jaman modern. Sudah biasa. Jangan kolotlah,” kata Firman ketika kami berdua berjalan beriringan keluar dari kantin. ”Si Edo aja yang tidak banyak ngomong dan sangat pendiam begitu, kemarin sudah mencoba kok. Aku antar dia…”

Ketukan pintu lama tak terdengar. Tapi tidak pula kudengar suara tapak kaki menjauh. Mungkin masih di depan pintu. Aku masih belum beranjak.

Ah, ada penyesalan. Tapi sudah terlanjur. Ya, gara-gara ingatan kepada Firman, kepada kawan-kawan, akhirnya kubuka inbox HP, segera mengontak nomor yang diberikan Firman. Sesuai dengan yang dinyatakannya, nama Firman memang sangat berpengaruh terhadap respon penerima telpon. ”Wah, kalau kawan Om Firman, pastilah kami berikan yang terbaik,” suara perempuan.

Liarlah pikiran dengan segenap imajinasi purba. Berbagai bayangan tentang suatu peristiwa yang bisa kukisahkan dengan gagah dan menimbulkan kehebohan para rekan kerja.

”SMP ada?”

”Oh, gampang. Satu, dua atau tiga?,” suara kenes perempuan dari sebrang.

”Hm. Satu saja. Itu saja pasti gak habis, Bu…”

Terdengar suara ketawa, ”Om bisa saja deh. Wah, kok manggil Ibu sih. Saya sih masih muda. Masih sintal, dan masih bisa memberikan services terbaik, loh” dengan nada menggoda.

Selanjutnya, ia berikan harga. Memberi nomor rekening yang harus segera diisi. Ah, pada jaman sekarang, semuanya memang serba mudah. Tidak lebih dari lima menit semua sudah bisa terselesaikan.

”Segera meluncur,” suara perempuan itu.

Ketukan kembali terdengar. Setengah meragu, aku berdiri, berjalan mendekati dan membuka pintu. Seorang lelaki setengah baya, dengan seorang perempuan teramat muda. “Wah, tidur ya, Om?” tanya lelaki itu.

“eh, hm..”

“Sudah ya, Om, saya tinggal,”

Sebelum dia beranjak pergi, aku menahannya. Membuka dompet dan menyerahkan satu lembar ratusan.

Perempuan muda itu masuk dengan santai, memandangi sekeliling kamar, duduk di pinggiran ranjang, dan membuka jaketnya.

”Dari Jakarta, ya, Om?”

Aku mengangguk.

”Wah, kaya dong. Nanti pakai jalan-jalan gak Om?”

Glek…. Gugup dan gagap diriku.

Kupandangi wajah perempuan muda itu. Sosok yang masih sangat kecil, dengan pakaian terbuka, sehingga terlihat bahunya, dengan rok mini, dan sepatu yang lagi trend di kalangan anak-anak muda sekarang.

Ah, kulihat wajahnya, seakan aku memandang anakku sendiri. Tiba-tiba saja kecemasan menghantui diriku. Anakku empat orang perempuan semua. Dua sudah di SMA, satu di SMP dan satu lagi baru kelas 5 SD.  Apakah kehidupan anak-anak sudah seperti ini?

Terbayang wajah istriku yang cantik yang senyumannya selalu membuatku menggelepar. Senyuman yang telah menyeretku dan menggerakkan diriku untuk berupaya keras mendapatkannya. Menjadikan sebagai pacar dan tak sia-sia, telah ikrar suci terucap, hidup bersama, tanpa masalah apapun. Pertengkaran kecil pastilah ada, namanya juga berumah tangga.

Aku mengeluarkan dompet, memberinya lima lembar ratusan ribu. ”Ini, bisa untuk belanja. Tapi, sekarang pulanglah,”

“Loh, Om marah? Maaf, loh, Om,” wajahnya berubah cemas.

“Tidak.. Tidak.. Om tidak marah. Tadi Om cuma bercanda saja. Sampai kamu datang. Sekarang pulanglah,”

Sungguh, selanjutnya kata-kataku tak beraturan sama sekali. Sama halnya dengan tidak teraturanya perasaan dalam diri. Memegang bahunya, menghantarkan ke pintu,  tidak memperdulikan wajahnya yang cemas dan bingung.

Aku tidak peduli apa kata Firman dan kawan-kawan. Aku merasa keputusanku telah tepat. Keputusan terbaik bagiku. Walau wajah anak itu masih saja menari-nari dalam bayang.

Yogyakarta, 26 Juli 2011

____________________

Ilustrasi Gambar dari SINI

Iklan

8 comments on “Cerpen: Wajah yang Menari dalam Bayang

  1. keren mas…

  2. Kembali pada hati nurani.
    Sudah jadi manusia tak harus memaksa diri untuk jadi binatang.
    Duhhh….ngapunten kalo bahasa saya selalu begini mas Odi.

  3. Yang saya sukai adalah anda menceritakan tentang sesuatu tanpa menyebut sesuatunya, tetapi pembaca tahu apa dan kemana arah dan tujuan anda. Diperlukan imajinasi yang kuat untuk bisa menulis demikian. Jadi jangan heran kalau tulisan anda menjadi sarapan saya yang kedua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: