Tinggalkan komentar

Cerpen: Victim

VICTIM
Cerpen Odi Shalahuddin

Namanya  Victim.  Nama panggilan atau nama  sebenarnya  tidak jelas. Bila ia dipanggil, ia ingin nama itu  diucapkan lengkap. Dipanggil Vic, Tim, atau Im, jangan harap ia akan  menoleh.  Dan syukur kalau tanggapannya hanya tak menoleh. Seringkali ia  marah besar. “Nama saya Victim tahu!” bentaknya.

Nama itu amat aneh memang. Apalagi ketika ia mengatakan  asli Jawa. Jawa Tengah. Sebuah kota kecil lalu disebutnya. Aku jadi punya keyakinan nama Victim hanya julukan. Nama itu sangat asing bagi orang Jawa. Berkali-kali aku menanyakan hal ini sampai ia merasa risih dan sedikit emosi kepadaku. “Mas, ini sebenarnya mau apa, sih? Nama saya Victim. Saya hanya mau dipanggil Victim  oleh orang-orang.  Bukan Vic, bukan Tim, bukan Im. Apalagi nama  lain. Dan apa bedanya nama itu asli atau bukan? Saya saja tidak  perduli!” katanya dengan mata melotot.

Setelah  itu  aku tak berusaha untuk bertanya  lagi  mengenai namanya. Aku  cukup  menghibur diri bahwa nama itu  pasti  nama julukan.  Entah ia sendiri yang menemukan atau orang lain yang melekatkan nama itu kepadanya.

Selama aku bergaul bersama anak-anak di sini, Victim  menurut penilaianku  sangat berbeda dibandingkan  dengan  kawan-kawannya, terutama  kawan perempuannya. Lantih, Kari, Ila dan  Niha  tampak sekali  sebagai  anak jalanan. Mereka merokok,  kadang  menghisap ganja atau menghisap lem aibon kaleng kecil. Seringkali terdengar cerita mereka  bermain  cinta dengan teman  lelaki  sesama  anak jalanan, tukang parkir, tukang becak, atau sengaja mencari lelaki hidung  belang di taman. Berdasarkan informasi dari  kawan-kawannya, Victim tampaknya bersih.

“Merokok, ganja, ngepil dan ngisap aibon itu ngerusak  badan. Itu  kata Victim, lho. Tapi mau bagaimana lagi? Itu kan hiburan kita.  Biar saja Victim tidak begitu, asal jangan ngelarang kita aja,” Coro bicara dengan nada terputus. Dia sedang menikmati lem aibon. Matanya sangat sayu sekali.

“Victim itu cantik. Ingin rasanya main dengan dia. Bayar pun saya  mau. Tapi Victim bukan orang begituan.  Susah  merayunya,”  kata Joto ketika kutanya kesannya kepada Victim.

“Semua  orang menginginkan dia. Pernah Soyo, Loco, Katu, dan Elim membekuknya ketika tidur di kursi taman saat tengah  malam. Mereka ingin memperkosa Victim. Tapi entah bagaimana  ceritanya, perkosaan itu gagal,” cerita dari Joko.

“Ah, enggak ada yang aneh, kok. Biasa saja. Kalau saya tidak melakukan seperti mereka juga  tidak ada bedanya. Bukankah begitu, Mas?” Victim sambil melemparkan senyum. Manis juga. Dadaku sedikit bergetar.

*****

Terbayang  terus  sosok  Victim di  kepalaku.  Tubuhnya  yang bongsor terlihat seperti remaja yang tengah mekar. Sorot  matanya yang tajam, cara bicaranya yang blak-blakkan, bibirnya yang kecil menggemaskan, dan buah dadanya yang menggantung kecil di dada. Ia cantik.  Benar kata Joto. Kecantikannya pasti akan  lebih  tampak lagi  bila mengenakan pakaian yang rapi. Apalagi berdandan.  Wow, tak terbayangkan. Victim, Victim.

Mengapa ia bisa sampai di kota ini? Siapakah sebenarnya orang tuanya? Benarkah cerita Victim bahwa ia tidak tahu ayah dan ibu sebenarnya? Kekecewaan mendapatkan kenyataan bahwa keluarga yang ditinggalinya adalah orang lain dan ia adalah anak yang  dibuang oleh orang tuanya di depan rumah keluarga tersebut. Victim teramat frustasi menghadapi kenyataan itu. Lantas ia kabur dan hidup dalam  dunia luas. Hutan belantara yang penuh binatang buas. Ah, betapa  malang  nasibmu Victim. Bagaimana  dengan  masa  depannya kelak? Oh, putaran roda nasib, siapakah yang dapat memutarnya?

“Ah, Mas bisa saja. Kalau sedang penelitian, jangan terbawa emosi, Mas. Banyak sudah yang bilang begitu kepada  saya.  Sejak pertama kali saya hidup di jalan ini. Di kota ini. Nyatanya? Tiga tahun, Mas. Sampai sekarang tidak ada satu orang pun yang kembali ke  sini  setelah penelitian. Saya pikir-pikir, saya  dan  kawan-kawan banyak berjasa untuk mahasiswa, ya Mas?” kata Victim ketika kutawarkan untuk bersekolah di Yogya.

“Mas, serius, Victim,”

“Ah, Mas. Sudahlah. Tanyakan saja soal lain. Mas tinggal seminggu lagi, kan? Jangan buang waktu,”

Aku  terdiam.  Victim bergumam menyenandungkan sebuah lagu. Merdu pula suaranya. Pasti para pengemudi kendaraan di perempatan jalan tidak merasa terganggu saat Victim mengamen. Para penumpang bus pun tentunya akan menikmati suara Victim. Bila tidak, tentunya orang itu sama sekali tidak mengerti seni.

“Mau jadi penyanyi, Victim?”

“Sudah  kok. Penyanyi jalanan,” jawabnya sambil tertawa.

“Mau  makan?” tawarku kepadanya. Ia diam sejenak.  Lalu  mengangguk. Aku  berdiri dan pergi ke warung  makan  pinggir  jalan memesan dua nasi bungkus. Kami makan dengan lahap sambil duduk di trotoar. Tidak perduli dengan kendaraan yang lalu lalang  di jalan raya. Biarlah orang-orang memperhatikan kami. Apa perduli?

Mas, tidak adil. Kok hanya Victim yang ditraktir,” seseorang dari beberapa anak yang mendekat protes.

Aku tersenyum. Kuberikan mereka selembar uang sepuluh ribuan. “Ajak makan kawan-kawan lain secukupnya,”

Mereka kelihatan girang. “Terima kasih, boss!” teriak  mereka dengan menegapkan tubuh dan meletakkan telapak tangannya  miring di kening seperti serdadu tengah memberikan hormat. Aku  tertawa. Mereka tertawa. Ah, indahnya persahabatan ini. Tapi aku jadi malu sendiri. Kami sangat berjarak. Meski aku telah  berusaha  keras untuk mengadaptasikan diri dengan mengikuti gaya hidup dan sikap mereka, tentunya ini hanya sementara. Setelah kembali  ke  Yogya nanti,  aku  kembali  ke duniaku. Dunia  mahasiswa.  Dunia  kelas menengah. Sedangkan mereka?

Seandainya aku konglomerat, aku akan membangun sebuah  gedung sebagai asrama mereka. Seluruh biaya hidup dan biaya  pendidikan akan  aku tanggung. Sampai mereka siap  untuk  bekerja.  Sampai mereka  benar-benar siap untuk bertarung mengarungi  hidup  yang keras ini. Ah, pengandaian gila! Pengandaian yang baik karena aku bukan konglomerat. Coba kalau benar-benar konglomerat, apakah aku berpikiran  seperti itu. Sekarang saja sudah  banyak  konglomerat yang dulunya juga aktivis mahasiswa yang berteriak-teriak membela rakyat,  sekarang  cuma sibuk mengurusi  bisnisnya.  Ah,  pikiran manusia, siapa dapat menduga?

*****
Pencarian  bahan-bahan dari lapangan aku pikir  telah  cukup. Besok aku kembali  ke Yogya. Malam itu  aku  bersama  anak-anak berkumpul di alun-alun membuat pesta kecil.  Pesta  perpisahan. Ramai  sekali. Mereka sangat kreatif. Bernyanyi  dengan  diiringi musik mulut dan barang-barang bekas, berpantomim, berteater, dan membuat beberapa permainan. Senang bercampur sedih. Mengapa perpisahan secepat ini.

Hal mengganjal di hatiku pada saat pesta adalah tidak kujumpainya sosok Victim. Ke mana dia? Beberapa orang hanya mengangkat bahu ketika kutanya. Ah, Victim. Lewat  pukul  sebelas  pesta usai. Aku pulang dengan langkah terseok menuju rumah yang kusewa.

Sampai di rumah aku membereskan kertas-kertas yang masih di atas meja dan menyatukannya dengan barang-barangku yang sudah di dalam  tas. Selesai, aku merebahkan diri di tempat tidur. Memainkan lamunan.

Terdengar ketukan pintu dengan irama ragu. Siapa  malam-malam begini? Aku  bangkit, membukakan pintu dan tersentak.  Victim berdiri di hadapanku sekarang. Mataku memandang lekat seolah  tak percaya  dengan penglihatanku. Ia tampak berbeda jauh dengan  apa yang kusaksikan selama ini.

Ia mengenakan pakaian pesta berwarna biru muda. Bahunya yang putih mulus  terlihat bercahaya. Rambutnya yang  panjang  diurai lepas. Tercium bau harum yang memabukkan. Benarkah Victim?

Tatapanku  lekat ke wajahnya yang bermake-up tipis. Pancaran dua matanya  yang  bulat  kelihatan  menawarkan  keteduhan. Ia menundukkan kepalanya.

“Oh, ho,” gugup aku. “Masuklah Victim,” kataku  terbata-bata. Ia tetap berdiri.

“Ayolah,”

Ia tetap diam. Menyadarkanku waktu sudah lewat tengah malam.

“Maafkan saya, Mas. Saya tidak ke pesta tadi. Saya, saya ingin merayakan dengan Mas berdua saja. Malam ini,”  katanya dengan nada bergetar.

Jantungku terasa disodok. Membuat wajahku terasa panas.  Dada berdebar mengoyak kelaki-lakianku. “Oh,” tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aku diam. Otakku mencoba untuk berpikir.  Semrawut sekali. “Masuklah dulu,” kataku.

“Mas  mau  merayakan berdua?” kata Victim ketika  kami  sudah duduk berhadapan.  Aku menghela nafas. Aku merasa  Victim  telah menjadi seorang gadis yang matang. Kata-katanya.

“Saya  masih perawan, Mas. Ini saya persembahkan  buat,  Mas. Saya tidak tahu sampai kapan mampu mempertahankannya.  Mas  tahu sendiri kehidupan macam apa yang saya hadapi. Saya takut kehilangan, saya takut dirampas, oleh orang yang tidak saya sukai,”

Oh, Victim. Kata-katamu meluncur begitu lancar. Membuatku terjengkang. Menggelepar. Membuatku jadi tidak berdaya dan tidak bisa membuat keputusan apa pun. Jiwaku terasa dipermainkan  oleh angin. Imajinasi liar berkembang.

“Oh,  Tuhan,”  desisku pelan. Di dalam hati aku membacakan ayat-ayat-Nya. Tidak boleh terjadi. Tidak. Tidak! Perasaanku mulai tenang.

“Terima kasih Victim. Tapi kita tidak boleh,”

“Mengapa  tidak?  Apakah Mas jijik? Lantaran tidak jelas? Hidup di jalanan?”

“Tidak Victim. Bukan itu,”

Mata Victim mulai berkaca-kaca. Aku mendekat, ia berdiri dan merangkulku. “Baru sekali ini saya bersimpati dengan orang,  Mas. Mas telah menyedot jiwa saya,” bisik Victim sambil terisak.  “Mas telah memperlakukan saya dengan wajar, tidak seperti semua  laki-laki yang selama ini saya kenal,”

“Sudahlah, Victim. Pesta kita ngobrol saja, kau setuju?”

“Victim  memandangku. Ia berjingkat sambil tangannya  menarik kepalaku. Bibirnya mencium pipiku.

Dan bicaralah kami berdua sampai larut malam. Victim  kusuruh tidur  di kamar sedangkan aku di kursi tamu, terbaring menatap langit-langit dengan  jiwa melayang. Waktu terus saja merambat dengan pasti.

Menjelang  subuh  aku  tergeragap ketika  pintu  digedor  dan banyak suara memanggil-manggil namaku. Jantungku berdetak kencang manakala kuingat Victim ada di kamar ini. Menjadi  masalah?  Aku harus menjelaskannya. Apa mereka mau?

Ketika  kubuka,  sudah banyak anak-anak berkerumun  di  pintu rumah. Joko, Joto, Loco, Agus, Joni, Katu, Jati, dan lain-lainnya.

“Mas,  Victim  mati. Diperkosa dan dibunuh orang  di  pinggir kali Jalang,”  mereka bergantian mengabarkan berita  itu  dengan nada cemas bercampur geram.

Aku  tersenyum. “Kalian salah barangkali. Semalam  Victim  ke sini. Ia ada di kamar sekarang,”

Semua  mata  memandangku  dengan tatapan  aneh.  Mereka  lalu saling berpandangan. “Oh, jangan berpikir yang tidak-tidak.  Kami hanya ngobrol saja. Percayalah,”

“Victim mati sekitar pukul delapan ketika kita masih  pesta,” Joko berkata agak ragu-ragu.

“Sebentar,” kataku lalu mempersilahkan mereka masuk sedangkan aku menjenguk kamar. Tempat tidur kosong. Aku tidak  menjumpai siapa-siapa. Tidak mungkin. Tadi Victim di kamar. Tidak mungkin ia  keluar  tanpa aku ketahui. Aku ada di ruang  tamu.  Kalau ia keluar kamar pasti kutahu.

“Bagaimana, Mas?”

Aku menggeleng.

“Mas, pasti bermimpi,”  komentar Joto.

“Mayat Victim katanya ada di di rumah sakit umum,” celetuk yang lain.

Aku penasaran. Kembali ke kamar dan memeriksa dengan teliti, lalu memeriksa pula ruangan-ruangan lain sampai dapur, kamar mandi dan wc. Tidak kujumpai Victim.

“Kita ke rumah sakit nanti pagi,” kataku kepada mereka. Setelah itu pikiranku ke Victim. Aku masih percaya bahwa Victim datang semalam, mencium pipiku, berbicara panjang lebar tentang berbagai hal, dan tidur di kamar. Ya ia tidur di kamar. Aku sempat mencium  keningnya dan mengusap rambutnya. Sekarang saja masih dapat kuhirup bau parfum yang dikenakan semalam.

Imogiri, 8 Agustus 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: