Tinggalkan komentar

Cerpen: Sisa Waktu Anda

SISA WAKTU ANDA
Cerpen Odi Shalahuddin

31 Desember.
Pukul 18.00

Ya, tiba-tiba saja aku terlempar. Melesat jauh. Menembus angkasa. Membentur. Matahari-bulan. Planet. Bintang. Merasa. Panas-dingin. Bumi-langit. Berganti. Berganti-ganti. Terlempar. Terumbang-ambing. Melayang. Jatuh. Tiba pada sebuah ruang. Sebuah meja. Laptop jadul di atasnya. Aku terduduk. Di kursi. Berhadapan dengan layar monitor yang terbuka. Warna biru. Ada tulisan besar di tengah. Tulisan yang tak asing. Setiap hari aku menggaulinya. Situs jurnalisme warga. 

Di bawah tulisan, ada timer. Bergerak mundur. Seperti bom waktu. Ditambah keterangan. Sisa waktu anda.

Tubuhku tiba-tiba saja menggigil. Adem-panas. Aliran darah terasa lebih cepat. Jantung berdebar-debar. Isi kepala berputar-putar. Kumelihat sekitar. Kutemui aku di segenap sudut. Wajahnya aneh. Hitam kemerah-merahan. Ih. Mengapa wajah jadi mengerikan?

Meja dan kursi ini. Tepat di tengah. Ruang yang kukira 4 X 4 meter luasnya. Lantai cermin. Dinding cermin. Atap cermin. Tak ada ruang ventilasi. Tak ada tanda-tanda hembusan dari AC.

Aku mencoba menenangkan diri. Menutup kedua mataku. Membangun imajinasi ruang. Membangun aneka warna. Membangun sosok-sosok. Terang-benderang. Hindari lorong-lorong. Aku ingin keindahan. Jangan bawa pada ketakutan. “Tuhan…”

Mengambil nafas. Menahannya. Mengeluarkan perlahan. “Tenang. Tenanglah. Tenang. Tenanglah.”

Kubuka mataku perlahan. Masih saja aku pada ruang yang sama. Memandang monitor. Sisa waktu makin sedikit. Detik demi detik. Kuikuti iramanya. Ada apakah?

Tiba-tiba menyelinap tentang kematian. Inikah batas umurku? Oh. Aku merasa belum siap. Aku merasa belum melakukan apa-apa. Aku merasa belum meninggalkan apa-apa pula. Bagi anak istriku. Bagi…

Oh, dimana aku? Di mana? Anak-istriku. Di mana mereka? Ketenangan yang baru saja kudapat, buyar. Kecemasan menggelayut. Berayun-ayun. Berat terasa beban. Aku berdiri. Mencari pintu keluar. Sama sekali tak ada. Semua rata. Tak ada sela. Pasti ada!!! Coba yakinkan diri.

Berdiri. Kumulai dari sudut. Meraba. Meraba-raba. Bergeser pelan. Berharap temukan celah. Terus. Sampai kembali pada awal mula.

Mungkinkah dari lantai? Maka aku menurunkan tubu. Meraba. Merangkak. Ke setiap centimiter. Tanpa lepas dari cermin. Wajahku tampak seperti orang bodoh. Biar! Terpenting bisa keluar. Sia-sia pula.

Di atap mungkin. Ah, ya, mungkin. Tidak mungkin ada ruang tanpa lubang. Bagaimana bisa aku tiba di sini. Pasti ada lubang menjerumuskan aku. Laptop masih menyala. Timer tetap menunjukkan waktu mundur. Laptop kuambil. Kuletakkan di lantai. Tidak ada kabel.

Kuseret meja. Ke sudut. Kuangkat kursi. Kunaikkan di atas meja. Tampak kokoh. Aku berhitung. Mungkinkah tubuhku mampu. Yakin. Yakin. Aku naik. Ah, sampai tanganku pada atap. Seperti pada dinding. Seperti pada lantai. Sama halnya aku lakukan pada atap. Berbeda. Tantangannya. Lebih sulit. Lebih letih.

Selesai satu ruang terjangkau tangan. Aku turun. Menggeser meja. Demikian berulang. Hingga seluruh ruang atap terjamah. Tetap saja tak kutemukan celah. Ini cermin tanpa sambungan.

Gila. Kegilaan macam apa yang tengah kuhadapi. Kesal aku. Menendang dinding. Menghentak-hentakkan kaki. Melempar kursi ke dinding. Merobohkan meja. Melempar Lap…. Oh. Tidak. Jangan. Ini bisa menjadi kawan.

Aku terpana. Kulepaskan kebrutalanku. Membabi-buta. Tapi tak ada suara terdengar. Kaca dan lantai masih utuh. Kupandangi ruang. Tidak ada apa-apa. Selain meja yang terguling. Selain kursi yang membujur. Selain laptop yang masih menyala.

Sisa waktu anda:

11.00:00

Ah.

Awal kulihat:

12.00:00

Berarti satu jam terlewati.

11 jam lagi

Itukah waktu untukku?

Seperti hilang akal. Aku mendudukkan pantatku di lantai. Kedua kaki kuangkat. Kulingkarkan kedua tangan. Wajah kutelungkupkan. Terlintas dalam kepala. Aku segera bangkit. Kurogoh saku. Saku kanan. Saku kiri. Belakang kanan. Belakang kiri. Ah. Cilaka. HP-pun tak ada. Bagaimana bisa lenyap pula? Padahal tak pernah lepas dari tubuh ini. Tak lepas dari jangkauan tangan dan telinga. Gilaaaaaaaaaaa!!!!

Kembali aku mencoba menenangkan diri. Memastikan ini hanya mimpi. Meditasi. Mendengar suara hati.

Tenang. Nafas teratur. Kubuka mata. Yakin diri. Bergerak. Membetulkan posisi meja. Meletakkan kursi di depannya. Laptop kembali menghiasi. Duduk tenang. Tanganku mulai menyentuh keyboard. Tampilan layar berubah. Seperti biasanya. Di sudut kanan. Sinyal kuat. Aha… Hati gembira. Bisa akses internet. Setidaknya aku bisa meminta tolong. Membuka account jejaring sosial, membuka site musik, membuka gambar-gambar lucu.

Tapi gila! Setiap membuka berbagai situs, tulisan di layar: Maaf, tidak bisa diakses. Kekesalan yang mulai menjalar. Tapi menahan diri lebih baik.

Kompasiana.

Klik.

Terbuka.

Aha. Aku bisa menulis. Aku bisa menceritakan situasiku. Aku bisa memposting. Biar kawan-kawan tahu. Biar kawan-kawan bisa membantu. Biar.

Jemariku  menari-nari. Di atas keyboard. Memainkan kata-kata. Bercerita. Kucoba buat setenang mungkin. Jangan sampai emosi meletup. Jangan sampai bacaan seolah kisah pemimpi. Fiksi. Tidak. Aku tengah menulis. Tentang diriku. Tentang keadaanku. Tentang perasaanku. Tentang situasiku. Tentang….

Selesai tulisan. Klik. Memilih rubrik. Ketika kursor sudah berada pada tulisan publish, aku meragu. Patutkah? Ah… kesal hatiku pada diri sendiri. Selalu ragu. Ingin kutinju kepala ini. Tapi pasti sakit. Aku sendiri nanti yang merugi. Ihhhhhhh…

Melirik waktu yang terus berjalan mundur. Kecil di sudut kiri. Seakan berlari. Sisa waktu anda. Semakin sedikit. Kugeser laptop. Kusandarkan wajahku pada meja. Pasrah. Biarlah. Apapun yang terjadi. Biarlah terjadi. Semoga ini hanya mimpi.

”Tretetetetetetetttttttttttttttttttttttttttttttttt,” suara terompet bersahut-sahutan. Memekakkan telinga.

”Dasar! Gak lepas dari Kompasiana. Diajak tahun baruan bersama gak mau. Katanya mau lembur kerjaan. Kompasiana teruuuuuuuuuuuuuuuussss” istriku sudah berdiri di belakangku memandang layar laptop. Halaman muka kompasiana memang.

”Selamat tahun baru, Pak!!!” Anakku berteriak-teriak sambil menyalami diriku. Kuucek-ucek kedua mataku. Aku ada di ruang kerja. Melirik waktu. Sisa Waktu Anda: 04:00:00.

Ah, sudah pukul dua pagi.

”Ya..ya..ya.. Selamat tahun baru,” kataku sambil menyalami kedua anakku dan istriku. Tidak lupa mencium kening mereka.

Aku bangkit, berdiri, ke kamar mandi, berbasuh muka. Segera menghambur, membuka bungkus martabak.

Selamat tahun baru ya…

Peristiwa tadi? Ah, janganlah dimasukkan hati. Anggap saja benar-benar mimpi.

Yogyakarta, 31 Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: