Tinggalkan komentar

Cerpen: Protes

PROTES
Cerpen  Odi Shalahuddin

Tiba-tiba semua orang sudah berkerumun di sekelilingku. Wajah mereka menunjukkan tanda tak bersahabat. Aku mencoba untuk tidak perduli, tetap memainkan jemari mencoba merangkai kata-kata, yang sejak tadi selalu saja terhapus kembali. Hingga di layar sejak tadi hanya berisi beberapa baris saja. Itupun belum memuaskan diriku.

Sungguh, sejak tadi aku merasa tersiksa. Tidak mampu untuk menuliskan sesuatu. Kepala terasa kosong, imajinasi terasa kering. Tapi nafsu besar untuk menulis. Pada posisi inilah mereka semua hadir, mengelilingi diriku. Sungguh, aku mencoba tak peduli, tapi mereka tampaknya benar-benar tak sabar untuk menunggu reaksiku. Bahkan ada yang mencoba turut memainkan jari-jarinya di keyboard yang segera aku kibaskan. Ada yang mencoba naik ke atas meja, berdiri di depanku lalu berjoged-joged seakan memancing kemarahanku. Satunya lagi memasangkan pantatnya pada ujung meja. Tapi, sekali lagi sungguh, aku tak peduli.

Satu sosok mendekatkan wajahnya ke mukaku. Menghalangi pandanganku ke layar monitor. Sosok lainnya mencoba menggelitik pinggangku. Rasanya sudah kebal, tidak membuatku tergeli. ”Kalian semua mengganggu, ayo segera keluar dari kamar ini!” akhirnya tak sabaran pula, kulampiaskan kejengkelan yang tertahan sejak tadi dengan berteriak sekuat tenaga.

”Kalian ini mau apa?!”

Ada yang nyengir. Ada yang menyenggol-nyenggol bahuku. Ada yang malah memantatiku.

”Sudahlah. Kalian mau apa?”

”Kami mau protes,” satu suara terdengar. Disusul yang lainnya. Saling bersahutan. Malah membuat kepala pusing.

”Sebentar, sebentar. Satu persatu. Kepalaku pusing. Kehadiran kalian membuat tambah pusing. Mbok kalian itu menghargai diriku,” ungkap jengkel sekaligus memelas minta pemakluman dari mereka.

”Loh, kami yang harusnya pusing,”

”Kenapa?”

”Kenapa tidak? Kami selalu dipermainkan oleh dirimu,”

”Kami lebih pusing,”

”kami lebih stress!”

”Kami capek!”

”Kami protes pokoknya,”

Bersahut-sahutan. Aku bangkit. Mendorong satu sosok yang menduduki rokokku di meja. Menyalahkan rokok. Lalu memandangi mereka satu persatu. Ada yang menunduk. Ada yang memalingkan muka. Ada yang mencibir. Ada yang menjulurkan lidahnya.

”Kalian ini sok-sok-an protes. Kalian itu seharusnya membantu diriku, bukan menambah masalah!”

”Loh, kami ini sangat terbuka, selalu siap membantu. Tapi kamu memperlakukan kami seolah-olah tak ada. Menghadirkan, tanpa mengajak diskusi,” seseorang bicara.

”Masak aku hanya dihadirkan sekilas. Dengan gerak yang sama, hampir selesai, tidak ada kata-kata. Padahal aku ingin bicara banyak juga,” Browo ikutan protes.

”Aku juga protes. Masak aku dibuat telanjang, mandi di tengah malam, tiba-tiba ingin diserang orang kampung,” perempuan dalam persembahan menggugat ”padahal aku ingin menyatakan tentang hal yang lebih prinsip daripada ketelanjanganku,”

”Kamu cuma mau cari sensasi saja,”

”Kamu cuma main-main,”

”Nanggung,”

”Biar kelihatan produktif ya? Padahal jadi kosong,”

”Kamu sekarang pemalas. Jarang membaca, jarang mengamati, jarang diskusi, maunya jadi terus….”

Kuseruput kopi yang sudah mendingin. Mengepulkan asap rokok yang bermain-main di ruang kecil ini. Kupandangi mereka satu persatu. Ya, aku merasa bersalah. Benar. Tidak salah mereka bila melakukan protes. Seseorang menepuk bahuku.

”Sudahlah, seperti dulu lagi, kita bisa berdiskusi. Biar panas, tapi hasilnya bisa dingin menyegarkan,” Sarman dengan bijak setengah menghibur.

”Kami pasti akan dengan senang hati berdiskusi lebih dalam,” Tarjo menimpali.

’Kita bisa membangun suasana lagi. Meneliti segenap ruang. Mencoba menghayati dan memaknakan kembali,”

“Jangan sekedar hadirkan sosok-sosok tak bersosok, yang tak jelas siapa,”

Kembali kupandangi sosok-sosok itu satu persatu. Wajah yang sudah menunjukkan rasa persahabatan. Walau tampak pandangan mereka seakan melihat aku sebagai sosok yang patut dikasihani.

”Baiklah, aku akan mencoba,” kataku yang disambut dengan teriakan gembira mereka.

”Kita lanjutkan perbincangan kita yang belum usai,” Tarjo memberikan usulan.

”Biar tidak penasaran, dan aku akan menghapus mitos tentang diriku, ayo dibuat lagi dialog antara kita, ” Sarman menawarkan diri.

”Kita diskusikan lagi tentang hakekat kesimbangan antara sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhannya,” perempuan telanjang turut memberikan usulan.

Bersahut-sahutan lagi.

”Baik, baik, tapi tidak sekarang. Sekarang aku sudah letih. Aku mau tidur dulu,”

”Huuuuuuuuuuuuuu….” serentak mereka menyorakiku dengan perasaan kecewa. Tapi tidak ada yang berani lagi untuk membantah. Membiarkan aku yang langsung menghempaskan diri ke atas ranjang. Satu persatu kemudian mereka pergi.

Sungguh, aku merasa bersalah. Tapi memang saat ini aku ingin memejamkan mata dulu. Mereka, adalah tokoh-tokoh yang pernah dihadirkan dalam kisah-kisah fiksi-ku. Kisah-kisah yang tidak pernah tuntas. Mengambang. Kering. Miskin imajinasi. Tak menunjukkan deskripsi yang mendalam. Maafkan aku.

Aku mencoba memejamkan mata. Tapi pikiran masih saja melayang-layang. Kubiarkan dia bebas. Entah akan hinggap di mana.

Yogyakarta, 2 April 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: