Tinggalkan komentar

Cerpen: Mengejar Headline

MENGEJAR HEADLINE
Cerpen Odi Shalahuddin

Benar-benar ingin menulis. Maka menulislah ia. Menulis apa saja. Lintasan di kepala. Secepat apapun segera ditangkapnya. Jemari tangan segera bermain kata. Jadilah. Tentang air. Tentang tanah. Tentang matahari. Tentang bulan. Tentang sampah. Tentang rasa. Tentang cinta. Tentang tarian-tarian angin.

Terhubung akses internet. Klik. Torehkan judul. Copy paste apa yang telah ditulisnya. Pilih rubrik. Save. Lihat tulisan. Cari gambar di google. Lekatkan. Publish. Puaslah ia. Seakan telah penuhi kewajiban. Berbagi. Tidak pernah peduli apakah orang mau dibagi.

Demikian hari-hari. Terlalui hampir sama. Tiga jam sehari setidaknya. Selebihnya disibukkan kerja. Ia belum bisa hidup dengan kata-kata. Ibu warung depan selalu bicara angka. Tentu saja dengan lembaran kertas berangka. Sah sebagai alat pertukaran di Indonesia. Karena itulah ia bekerja.

Pekerjaan rutin. Di balik meja. Setengah melingkar. Di pojokan. Dekat pintu. Menyapa orang datang. Menanyakan keperluan. Menyodorkan buku tamu. Menghubungi lewat telpon ke ruang orang yang akan didatangi.

”Silahkan tunggu sebentar,” kata-kata paling sering keluar. Sudah jutaan barangkali. Selama setahun bekerja di sini.

Penghasilan tidak besar. Beruntung masih sendiri. Cukuplah bertahan hidup. Entah esok. Sekarang tidak perlu pikir uang untuk kost. Masih tak malu numpang Pakde. Kalau sudah menikah nanti? Itu soal nanti. Pentingnya sekarang saja.

Dibilang puas, tidak mungkinlah. Mana ada manusia normal mengatakan puas. Berapapun besar pendapatan diterima, tentu dibilang kurang. Pengeluaran selalu mendahului pendapatan. Pendapatan bertambah, kebutuhan seolah bertambah. Padahal tidak. Tapi, bila bergaji di bawah satu juta dengan gaji di atas 10 juta? Tempat pilihan makan-pun pasti berbeda. Pun jenis makanannya. Bukankah sama-sama mengisi perut? Itulah. Manusia tak akan pernah puas. Bila cepat puas. Maka berhentilah gerak dunia.

Ah, kok ngelantur. Tapi begitulah tokoh kita ini. Bekerja di front office. Senang menulis. Senang berbagi. Lintasan dalam kepala. Tak dibiarkan berlenggang.

Beberapa hari ini ia resah. Setelah kantor memberikan fasilitas komputer, di mejanya. Empat hari lalu tepatnya. Ditambah lagi diberi fasilitas akses internet. Wah. Seharusnya senang. Bukankah bisa akses internet selama jam kerja? Tamu toh tidak datang terus menerus. Ia bisa menulis. Menulis. Menulis terus. Daripada bermain game?

Persoalannya: Isi kepala terbatas juga. Ia tidak mau mengulang tulisan sama. Setelah lahir, biarlah berkelana. Tak perlu diganggu-ganggu lagi. Sejauh mana? Ia sendiri tak pernah mengintainya.

Sejak ada komputer. Sejak bisa akses internet. Peluang berselancar semakin tinggi. Produktivitas bisa ditingkatkan. Seharusnya. Tapi juga tidak. Kebiasannya belum berubah. Hanya menghasilkan satu-dua tulisan. Minimal satu. Memaksakan diri? Ah, memangnya pabrik. Soal menulis adalah soal rasa. Soal hati. Soal pikiran.

Lantaran tidak menulis. Maka ia punya cukup waktu. Ia jadi bisa mengunjungi lapak kawan-kawan. Ah. Dia bisa menulis. Menulis komentar-komentar. Bersapa. Bercanda. Tidak peduli komentar tak berhubungan dengan tulisan. Tak peduli berpanjang-panjang. Ini kan ruang merdeka. Tidak membayar. Tidak pula dibayar. Jadi bebas kan?  Asal sopan. Asal santun. Asal tidak melanggar tata-tertib.

Maka banyaklah kawan. Saat itu pula ia mulai mencermati berapa tulisannya yang di klik. Selama ini tak pernah ia intip. Menulis. Posting. Sudah. Oh. Ternyata banyak pula. Komentar juga menumpuk. Tak satupun terbalas. Apalagi tulisan-tulisan lama. Tulisan-tulisan akhir. Setidaknya ada tiga-empat komentar. Oh. Kawan-kawan pasti menganggap sombong. Dikunjungi. Tak pernah mengunjungi. Lha, wong dikunjungi, pemilik tak pernah ada di beranda.

Terhibur. Ada pekerjaan. Membalas komentar-komentar. Cukup waktu. Sambil menunggu tamu-tamu. Bila ada.

Tapi keresahan muncul lagi. Berulang kali baca komentar. Ucapan selamat atas tulisan HL. Ah, apa pula HL itu. Lama baru tersadar. Ia ada di halaman muka. ”Hm. Apakah tulisanku pernah HL?” ia bertanya. Tentu tak ada yang menjawab. Menggelayut saja dalam pikiran.

”Tulisanku harus masuk  HL” obsesi lahir. Tapi bagaimana caranya? Ia baca semua tulisan di HL. Terus menerus. Setiap hari. Ia ingin belajar. Tapi, ia tak menemukan benang merah. Bisa jadi tulisan HL pendek sekali. Tapi bisa panjang. Bisa berisi kutipan orang-orang pintar. Bisa pula hanya pandangan penulisnya. Bisa lagi wawancara. Bisa lagi mengutip berita. Lah, bagaimana memulainya? Memulai tulisan biar bisa HL. Biar mendapat ucapan selamat dari kawan-kawannya.

Berputar otak. Tersadar kelemahan. Selama ini apa yang ditulisnya. Hanya curhat. Curhat tentang apa saja. Tentang yang berkelebat di kepala. Kalau pada pilihan, ia memilihnya puisi. Habis pilihan rubrik curhat gak ada sih. Mau dibilang bukan puisi, ia tak peduli. Kan tidak mungkin tulisannya masuk ke rubrik politik? Nah, jenis tulisannya, banyak pesaing. Tapi jarang HL. Berarti harus berubah tema. Berubah jenis tulisan.

Semakin ia berpikir. Ia merasa semakin sulit menulis. Draft-draft tulisan banyak sekali. Tapi selalu dihapusnya. Ia merasa tidak mungkin tulisan yang ditulisnya masuk HL. Ia mencoba. Menulis. Menghapus. Menulis lagi. Menghapus lagi. Seminggu tak ada tulisan baru. Dua minggu tak ada tulisan baru.

”Gila..! Aku sudah gila!!!” ia memaki dirinya sendiri.

Berpikir semacam ini, malah jadi mati. Maka ia buang jauh-jauh. Ia ingin menulis. Menulis apa yang akan ditulisnya. Tak peduli HL atau tidak. HL syukur, tidakpun tak mengapa. Terpenting menulis. Lepaskan beban dari rasa dan pikiran. Berbagi. Bersapa. Menjalin persaudaraan.

Ketika ia mencoba menulis. Seperti dulu. Kesulitan dialaminya. Ia harus melatih diri lagi. Membuat draft, menghapus. Tak puas. Ah, mengapa jadi begini? Biasanya mengalir begitu saja. Gara-gara HL, malah mati.

Yogya. 02.01.11

Catatan: Hanya imajinasi belaka, bukan berdasarkan fakta. Semoga tidak ada kisah serupa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: