Tinggalkan komentar

Cerpen: Di Tengah Jembatan Penyebrangan

DI TENGAH JEMBATAN PENYEBRANGAN
Cerpen:  Odi Shalahuddin

Berhenti. Di tengah jembatan penyebrangan. Arus lalu-lintas yang tak pernah mati. Orang-orang lalu-lalang. Tergesa. Semua tergesa. Tak ada tanda-tanda orang yang menikmati perjalanannya. Para pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya di sepanjang jembatan ini. Beberapa pengemis sudah berbaris di beberapa tempat. Mempersempit ruang untuk berjalan.

Ia berhenti. Tepat di sebelah kiri seorang pengemis dengan anaknya yang masih bayi. Bayi yang digeletakkan di pangkuannya. Seorang Ibu muda. Mungkin dua puluh tahunan. Tubuh yang masih bugar. Hanya wajah kuyu. Rambut yang memerah tertimpa cahaya matahari. Beberapa orang yang lewat. Memandang bayi yang terbungkus selimut kusam. Matanya terpejam. Tertidur. Ah, memang lebih baik ia tertidur. Tidak perlu pusing dengan pertanyaan di kepala. Tentang orang lalu-lalang tak henti. Tentang suara-suara mesin kendaraan yang terus berganti. Tentang asap-asap knalpot yang menggumpal.

Tidak seperti lelaki muda itu. Yang berhenti. Berdiri. Memandang ke bawah. Menyaksikan mobil-mobil yang merayap dan motor-motor yang terus menyelip membuka semua peluang untuk menyalip, memajukan jalannya.

Ah, berapa juta orang yang tumpah ruah di kota ini setiap harinya. Pemandangan di bawah, pemandangan serupa di berbagai belahan ibukota ini. Bahkan ada yang bisa lebih parah. Tak mengenal jam. Pagi, siang, sore, dan malam. Tetap sesak. Jalanan yang lunglai dipaksa menahan beban yang tak pernah berkurang. Barulah melewati tengah malam. Bisa terlihat sepi. Tapi hanya sejenak. Jam tiga sudah mulai memadat kembali. Ah, orang-orang tergesa. Seakan ingin merebut sang waktu. Terburu untuk berburu, malah jadi buruan.

Gedung-gedung tinggi yang menjulang. Di sini kanan-kiri jalan. Gedung-gedung berkaca. Terasa angkuh. Dingin pasti di dalam. Dengan fasilitas AC. Bila mati, pasti terasa bagai neraka. Seperti di luar sini. Matahari memainkan cahayanya yang luar biasa panas. Lepas menghujam. Menghantam tubuh, mengundang keringat. Menusuk aspal-aspal jalanan.

Sang bayi menggeliat. Panas telah menyambar wajahnya. Sang Ibu muda, berusaha menutupi dengan selimut. Ah, pasti terbayangkan bagaimana makin panas dirasa sang bayi. Tangis bayi terdengar. Ibu Muda sibuk, berusaha menenangkan. Menggoyang-goyang tubuh bayi dalam pelukan. Ke kiri dan ke kanan dalam irama yang sama. Tangis bayi masih tak mau berhenti. Orang-orang lewat. Pasti akan menoleh. Malah banyak yang melemparkan uang logam atau uang kertas ke dalam gelas bekas air mineral. Terlihat ibu muda itu tersenyum. Wajahnya berubah senang. Tidak masam dan khawatir atas tangis sang bayi.

Lelaki muda menoleh ke arah ibu muda itu. ”Biasanya, kalau aku lihat, akan tentram bila bayi diteteki,”

”Wah, tetek siapa? Tetekku tak ada susu. Nanti-lah kalau bertemu dengan ibu kandungnya, biar dia bisa puaskan menyusu,”

”Loh?” lelaki terkejut.

Perempuan itu hanya melemparkan senyum, dan pandangan berubah ke tempat lain. Tak menghiraukan sang lelaki yang mulai garuk-garuk kepala.

Seorang lelaki muda lainnya yang lewat, turut berhenti. Hampir serupa dengan lelaki yang datang sejak awal, melakukan hal yang sama. Jarak mereka terbatasi oleh ibu muda dan bayinya.

Lelaki muda itu, dengan map di tangan. Baju yang mulai basah. Wajah dan lehernya juga basah. Dengan map-nya ia coba kibas-kibaskan ke arah wajah, sambil sesekali menikmati angin yang lewat.

”Melamar juga?” lelaki muda yang baru datang bertanya.

”Iya,”

”Oh,”

”Anda?”

”Sama.”

Terdiam, mata mereka kosong menatap entah kemana, bermain dengan angin dan asap, menyembulkan berbagai bayang di kepala, menghanyutkan imajinasi, menembus memasuki ruang-ruang dari gedung-gedung menjulang.

”Ah,” hampir bersamaan dua lelaki itu. Sama-sama terkejut. Saling memandang. Lalu tergelak bersama. Sang bayi yang terdiam. Ibu muda melihat ke kiri dan ke kanan. ”Dua lelaki muda yang aneh,” lalu ia tersenyum sendiri.

”Susah cari kerja di sini. Padahal 80% uang negeri ini berada di kota ini,”

“Kerjaan banyak. Mas-mas-e, pasti lulusan kuliahan. Ya, begitu. Terlalu tinggi sih, jadi tidak melihat banyak kesempatan,” Ibu muda nyeletuk.

”Maksudnya?”

”Lah, saya saja bisa dapat uang. Di sini. Menyewa bayi, uang datang sendiri”

”Kerjaanmu itu mengemis. Di tambah kejahatan mengeksploitasi anak,” Lelaki yang baru datang berkomentar.

”Apaan tuch eksploitasi. Tuh, Mas-e ngomong aja terlalu tinggi, gak paham buat saya….”

“Hm.. menindas… hm…. Tidak manusiawi… Hm…. Ya, begitulah,” lelaki yang pertama datang mengomentari….

Perempuan muda tertawa. ”Lha, ini kan sewa. Saya bayar je…. Ibunya gak papa kok. Malah kalian para pemuda pencari kerja yang sewot. Mas-e, kerjaan biar dapat uang kan? Uang itu ada dimana-mana. Yang penting kita pinter melihat peluang. Mas-e kuliahan sih, jadi yang dicari yang tinggi-tinggi. Buat saya, dapat uang, bisa makan, bisa nabung pulang kampung, kasih keluarga, cukup sudah hidup ini. Kalau tadi dibilang apa itu, mengemis, menindas…. Ih, kayak Mase gak tahu aja yang ada di gedung-gedung itu, yang ada di tv-tv itu juga banyak yang mengemis toh minta proyek? Lalu menindas biar bisa bayar apa itu, uang, uang siluman… Ya, kan di sini banyak siluman… Di sini saja saya bayar preman, apalagi yang di gedung-gedung itu, pasti silumannya lebih banyak” ibu muda itu nyerocos saja.

Dua lelaki, mendengarkan dengan seksama. Mereka saling berpandangan. Mengangkat bahu. Panas masih saja menghujam. Ketika keduanya kembali memandang jalan yang tetap penuh sesak dengan kendaraan yang berkejaran. Sang perempuan menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia tersenyum dan tertawa sendiri. Sedang sang bayi mulai menggeliat.

Yogyakarta, 22 Juni 2011

__________________________

Sumber foto yang digunakan dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: