Tinggalkan komentar

Cerpen: Bom (2)

B O M  (2)
Cerpen Odi Shalahuddin

“Ada bom lagi,”

“Ah, biar. Dah biasa,”

”Tapi tidak cuma satu loh,”

”seratus juga gak ngaruh,”

”Kamu kok gitu sih,”

”Lah, situasinya dari dulu juga begitu,”

”Maksudnya?”

”Lagi ada geger apa sih?”

”Lah, kok malah nanya,”

”Kalau ada geger politik, mengacaukan kekuasaan, pasti dibuat gegeran lain,”

”Pikiranmu kok prasangka,”

”Tapi selalu begitu,”

”Hm.. iya juga ya… Tapi….”

”Apalagi?”

”Kalau beneran bom? Dan memang bener bom beneran. Bener meledak, bener ada yang terluka. Ini berbahaya,”

”Siapa bilang bom tidak berbahaya?”

”Tapi kok tadi ngomongnya kayak begitu?”

”Aku gak ngomong begitu kok. Pikiranmu saja menyimpulkan begitu,”

”Jadi..?”
”Bom itu ya berbahaya. Bukan untuk mainan,”

”Lha, kok tadi gak kaget?”

”Masak aku harus meloncat kaget atau terpingsan?”

”Gak juga sih,”

”Ya, sudah,”

* * *

”Ada bom lagi,”

”Di mana ?”

“Di mana-mana?”

“Masak sih?”

“Kok gak percaya?”

* * *

“Bom meledak lagi,”

“Oh, ya?”

”Gak baca berita ya?”

”Malas. Dari dulu begitu, cuma rame doang. Hasilnya gak membuat berubah”

“Ya, kan dimulai dari rame. Kalau gak rame gak diperhatiin,”

“Tapi kan buat capek,”

“Namanya perjuangan, ya harus capek,”

”Berjuang untuk siapa?”

”Setidaknya berjuang untuk diri sendiri. Berjuang untuk orang banyak, lebih baik lagi,”

”Oh, saya kira berjuang dah selesai. Sudah gak ada perang sih,”

”Perangnya berubah. Enggak tembak-tembakkan pakai peluru. Tapi pakai otak,”

”Tapi kok masih ada bom ya?”

”Itulah… aneh juga sih,”

”Tapi kok ada senjata keliaran di jalan-jalan ya?”

”Iya, sih, tapi…

”Kok ada pengrusakan, intimidasi, ancaman, bahkan pembunuhan berjamaan”

”Iya, sih, tapi..”

”Kok, tapi, tapi melulu sih?”

”Tapi.. iya, ya… kok saya bisa ngomong begitu,”
”Artinya otakmu sudah teracuni. Nonton berita terus sih,”

”Iya, tapi.. Wah, kok masih tapi juga….”

* * *

”Ada bom,”

”Di mana?”

“Tuh di teras depan,”

“Lihat yuk,”

“Hush.. lapor polisi aja,”

”Kita bukan siapa-siapa. Pejabat bukan, penjahat juga tidak. Kita rakyat biasa, belum tentu mereka percaya,”

”Loh, kan tetap harus lapor,”

”Kamu aja yang lapor. Aku lihat bom nya dulu”

”Jangan diapa-apain loh.. Kalau meledak bahaya,”

”Tau……”

* * *

”Bom beneran?”

”Lha, iya. Masak kalau bukan beneran bisa meledak,”

”Tapi kok bom-nya di taruh di situ ya?”

”Ya, gak tahu…”

”Kuburan kok di bom. Kayak penghuninya bersalah saja,”

”Gak tahulah…”

* * *

”Bom..”

Tak ada sahutan. Matanya celingak-celinguk. Memang tidak ada orang. Sepi sekali. Di jalan juga begitu. Rumah-rumah yang keringatan. Tak ada suara. Radio atau televisi yang biasanya mengisi ruang-ruang jalan juga tak terdengar. Sepi. Hening. Nyenyet. Padahal siang hari. Penjaja juga tidak ada yang lewat. Pada kemana ya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: