1 Komentar

Rindu Malam

RINDU MALAM
Cerpen Odi Shalahuddin

Belum genap setahun Asih berada di Jakarta, ia sudah rindu untuk kembali ke desa. Malam itu, ia membuat pernyataan terbuka. Kawan-kawannya yang tengah berkumpul di ruang sambil menyaksikan sinetron, tertawa mendengar alasan Asih. Fitri yang tengah menyeruput es jeruk hamper saja tersedak.

“Asih, Asih. Kok kayak anak kecil saja sih,” Fitri memberikan komentar pertama. Disusul bersahut-sahutan oleh kawan lainnya.

“Aku sudah tiga tahun belum pulang-pulang Asih. Lebaran juga tidak. Habis malu, belum bisa membawa apa-apa,”

“Padahal sudah enak dirimu. Sudah jadi pegawai. Lha, kita-kita ini, masih pekerja harian lepas, loh…”

”Namanya perjuangan Asih. Hidup pada suasana yang baru, memang harus dijalani. Toh, nanti akan terbiasa,”

”Hm, rindu desa atau rindu dengan….Hi..hi..hi..”

Asih bersungut. Wajahnya kelihatan cemberut. Beruntung tidak terlihat dari tatapan kawan-kawannya yang kembali tersedot pada sinetron. Saat-saat menegangkan, ketika perjuangan seorang perempuan untuk bisa bertemu dengan kekasihnya kembali, seolah benar-benar akan terjadi. Perempuan berada di satu tempat yang sama dengan sang lelaki. Mereka berjalan, seharusnya bisa berpapasan sehingga pertemuan bisa berlangsung. Tapi, namanya juga sinetron. Sang lelaki, tersadar, memegang saku celananya, berpikir mencoba mengingat dimana dompet terakhir dia keluarkan. Ia tidak melanjutkan perjalanannya, berbalik arah dan tulisan ”bersambung” membuat pecah suara kecewa.

Ketika selesai melampiaskan kekecewaan, mata mereka menjelajah mencari Asih, yang ternyata sudah beranjak meninggalkan ruang tengah ini. Mereka saling berpandang-pandangan.

”Kamu Fitri. Kamu kan yang paling dekat dengan dia,” usul seorang kawan yang disambut persetujuan dari yang lainnya.

Fitri mengangguk. Ia naik ke lantai dua. Biasanya, ya biasanya, Asih senang berdiri di balkon. Memandangi sesuatu yang menurut Fitri tidak bisa dinikmati. Lha, dimana-mana cuma terlihat gedung-gedung saja. Apalagi di siang hari. Uh… tidak sedap sama sekali dipandang mata.

Benar tebakan Fitri. Asih, dengan kedua tangan  memegang tembok pembatas, tengah memandang ke depan. Entah apa yang disaksikan. Mungkin pula tak memandang apa-apa, tapi pikirannya yang melayang-layang terbang menembus berbagai ruang dan waktu, menciptakan dunianya sendiri.

”Ehem,” Fitri memberi tanda kehadirannya.

”Malam penuh cahaya, tapi bukan dari alam, ya, Fit,” kata-kata dari Asih membuat kening Fitri berkerut. ”Lihat saja, sepanjang mata kita memandang, lampu-lampu rumah dan gedung-gedung serta lampu-lampu jalanan berjuang keras memecahkan kegelapan malam,”

”Wah, aku gak ngerti bahasamu, Mbak,” Fitri berseloroh.

”Itulah, Fit. Itulah yang membuat aku rindu desa. Aku merindui malam-malamnya. Tatkala kelam malam terhiasi oleh bintang-bintang, aduh indah sekali. Terasa diri menyatu dengan alam. Ditemani oleh suara jengkerik dan nyanyian rumpun bambu seirama desiran angin,”

“Wah, Mbak Asih kok jadi puitis begini, toh, Mbak?”

“Bukan. Aku lagi mencoba mengingat kehidupan di desa. Masa-masa kecilku. Bermain di lapangan bersama kawan-kawan saat purnama. Para orangtua juga ikut berkumpul. Terangnya bulan jatuh ke hati,”

“Emang, desanya Mbak Asih belum ada listrik ya?”

Asih menggeleng.

“Beneran Mbak? Loh, masak sih? Gak percaya ah….. Desa saya saja sudah benderang dengan listrik,”

”Belum. Tapi bisa juga itu merupakan anugrah Fit. Kami tidak perlu bingung bila ada pemadaman listrik. Kami terbiasa menggunakan lampu-lampu teplok. Bila ada keramaian kami pasang beberapa lampu petromak,”.

”Ih, Mbak Asih, bisa aja deh. Kalau begitu, berarti gak ada sinyal hape dong. Wah, bisa mati orang di sana tidak bisa berkomunikasi, tidak bisa buka-buka dan posting ke kompasiana,”

”Ah, kamu Fit. Itu kan pikiran bila orang-orang sudah tersentuh dengan sesuatu di luar dirinya yang menyebabkan ketergantungan. Bila tidak kenal, maka tidak akan ada keinginan. Tidak ada keinginan tidak akan bisa berubah menjadi kebutuhan,”

”Wah, omongan Mbak Asih terlalu tinggi. Susah saya menangkapnya, Mbak,”

”Loh, saya omong apa adanya loh, Fit. Coba kamu ingat waktu kecil, di desamu pasti listrik belum ada juga kan? Pasti akan bermasalah kalau minyak tanah habis. Iya, toh? Kita belajar dalam keremangan lampu teplok, mata kita kuat-kuat saja tidak sakit. Tapi ketika ada listrik, kita diterangi oleh cahaya benderang, maka ketika hanya ditemani oleh lampu, terasa mengganggu dan tidak mungkin bisa belajar dengan baik”.

”Wah, berarti Mbak Asih anti perkembangan teknologi nih,”

”Bukan itu, Fitri. Aku cuma lagi rindu malam. Malam yang alami sebagai malam yang sempurna. Memandangi langit, memandangi keremangan, dan berharap ada cahaya bulan yang menyelusup lewat dedaunan dari pepohonan di sekitar kita,”

”Uh, Mbak Asih… Lantaran itulah Mbak Asih mau pulang ke desa?”

Asih mengangguk.

”Beneran Mbak? Jangan Mbak. Mbak kan sudah sekolah tinggi. Sudah sarjana, sudah dapat kerja. Di Kantoran lagi. Masak semuanya mau ditinggalkan?”

Asih diam. Fitri menunggu jawaban.

”Aku rindu malam Fit.”

”Tapi, kita bisa berlibur ke mana begitu Mbak. Tidak perlu kembali ke desa. Iya kalau diterima dengan baik. Kalau malah dicemooh para tetangga dianggap sebagai orang gagal. Sudah tinggi-tinggi sekolah, kok masih kembali ke desa. Bukankah begitu cara pandang orang-orang desa sekarang, Mbak? Seperti aku, pingin sekali tinggal di desa. Lebih bebas, tidak diburu waktu, ada ketenangan, tidak mengejar-ngejar bus kota. Ah…”

”Nah, kamu juga berpikir seperti itu,”

”Tapi saya tidak berniat untuk pulang Mbak. Mungkin nanti kalau sudah berhasil,”

”Ukuran berhasil itu yang sulit, Fitri.”

”Wah, kok malah jadi diskusi seperti ini. Sekarang?”

“Ya, kita nikmati malam saja. Sambil membayangkan perbedaan-perbedaannya dengan malam-malam indah yang pernah kita rasakan,”

Fitri dan Asih, di balkon, terlihat dari bawah, keduanya menengadah ke langit.

Yogyakarta, 3 April 2011

Iklan

One comment on “Rindu Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: