Tinggalkan komentar

Ketika Saya Telanjang

KETIKA SAYA TELANJANG  
Odi Shalahuddin 

“ketika saya telanjang,” baru saja kata itu kuucap, seseorang telah berdiri sambil mengacungkan tangannya.

“maaf, Bapak. Tidak baik menggunakan kata-kata vulgar semacam itu. Sebaiknya Bapak menggunakan kata yang lebih halus, misalnya ketika saya tidak berbusana,”

Hugh. Malu juga, lagi di depan presentasi, diprotes macam begini. Apalagi di depan ratusan orang yang pastilah kedua bola matanya mengarah kepadaku. Tapi, bukankah orang di depan pastilah memiliki kuasa, mengapa tidak kumanfaatkan saja?

“Terima kasih. Tapi apa yang salah dengan kata “telanjang” apakah sebagai kata ia menjadi sesuatu yang kotor? Menjadi berdosa bagi pemakainya?”

Orang yang tadi berdiri, mengacungkan jarinya lagi. ”Silahkan,” kataku.

”bahasa menunjukkan kualitas seseorang. Sebagai orang yang berpendidikan, Bapak tidak layak menggunakan kata itu. Itu bisa mengurangi penghargaan kami terhadap Bapak. Percayalah, ini kecintaan saya menyatakan hal itu,”

”Terima kasih. Sungguh, ini sangat meyakinkan saya, bahwa bahasa sesungguhnya tidaklah netral. Bahasa mengandung ideologi. Bahasa mengandung kesadaran tertentu. Karena itulah, bahasa bisa menjadi alat penjajahan yang seringkali menyelinap dan hinggap di kepala tanpa kita sadari. Bahasa sehari-hari dihilangkan dan diganti dengan bahasa-bahasa yang tidak sejati. Lantas terperangkap di dalamnya, lantas kita menggunakan untuk menghina diri kita sendiri….

Ini bisa menjadi awal yang baik dari pembahasan kita kali ini. Bahasa menunjukkan kesadaran seseorang. Bahasa menjadi berkasta, menunjukkan status sosial, menunjukkan kelas. Karena itulah, penindasan terjadi…”

Loh, ngomong apa saya ini… Saya tergeragap. Bangkit dalam kelinglungan. Ternyata, kepala telah menindih tuts-tuts keyboard. Layar terpenuhi huruf dan angka yang tak beraturan. Bisa terbaca, tapi tak bermakna. Ah, Cuma mimpi…

Membasuh muka, memasak air untuk membuat kopi, lalu duduk kembali, mengembangkan imajinasi, agar bisa melahirkan kata-kata yang indah tak terperi yang bisa menyelusup ke dalam jiwa-jiwa pembaca, demikian harap adanya.

Tapi jemari masih saja kaku. Lalu saya bingung sendiri. Ah, Memang seharusnya ngopi dulu. Mari…..

Salam hangat,

Odi Shalahuddin
2  Desember 2011

_____________________

Terposting di Kompasiana, Klik di SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: