Tinggalkan komentar

Cerpen: Pembalasan

PEMBALASAN
Cerpen Odi Shalahuddin

Membuka mata. Pandang langsung tertatap pada matamu yang memerah. Penuh bara. Membuat aku ingin memalingkan muka. Tapi tak bisa. Atau lebih jelasnya takut terluka. Lantaran leher terasa dingin oleh pedang dari baja.

Pada kesadaran yang belum seluruhnya kembali. Setelah menikmati aneka ragam perjalanan dalam mimpi. Saat dibangkitkan, aku merasa pada ruang sepi. Sendiri. Ketika langit warna-warni, sirna dalam kebasan angin yang kencang berlari. Ketika hendak beranjak pergi, tubuh terasa terlempar ke dalam kobaran api.

Kucoba menutup mata, kembali membuka. Masih ada sosok di hadapan, tepat di muka. Jadi, ini nyata? Masih sulit untuk kupercaya. Seberani itukah dia? Syetan apa yang mampu menumbuhkan keberaniannya?

Matanya masih membara. Merah darah warnanya. Menatap tajam lekat terasa.

Tubuhnya setengah membungkuk, tangan kanan memegang senjata. Masih menempel di leher sebelah kiriku. Sedang tangan kirinya mencengkram bahu.

”Ayo, bangunlah,!” teriaknya.

Aku tetap diam. Bagaimana tidak. Bergerak kepala, leher pasti dapat tersayat. Ya, kurasakan tajamnya. Tinggal ia memiringkan dan menekan sedikit saja, maka akan muncratlah darah segar.

”Ada apa?” mencoba bertanya.

”Jangan pura-pura!” hardiknya dengan nada tergetar. Ya, mungkin pengalaman pertama buatnya. Biasanya hanya diam saja. Kini berani memegang senjata. Dan berani menggunakannya.

Aku mencoba tersenyum. Ia, menekan pedangnya. Wah, bernafas-pun aku harus berhati-hati.

Ah, dialah Si Browo. Gelandangan yang biasa tidur di seputar terminal ini. Kami sering mengisenginya. Mengikat jemari kaki, memasang obat nyamuk, lalu pergi. Atau kami menyirami air di seputar alas tidurnya dari kardus-kardus, lalu lari. Bila tertangkap basah-pun, kami hanya tertawa-tawa saja. Walaupun tahu, ia diam saja. Tidak melakukan protes apalagi perlawanan. Ia hanya akan memandangi kami lalu menunduk dan segera berlalu.

Tapi, bagaimana ia bisa masuk ke kamar kost-ku? Bagaimana ia tahu tempat tinggalku? Berapa lama ia merencanakan ? Bertanya-tanya, lalu menguntitiku? Oh, jam berapa sekarang? Sudah pagikah atau masih dini hari?

”Sudahlah, Bro… angkat pedangmu,” aku mencoba membujuk.

Ia menggeleng. Ah, apa maunya sih? Sebenarnya mudah sekali kalau memang ia mau melukai atau bahkan membunuhku. Ketika tertidur pulas, ia tinggal menggorok leherku. Tapi dengan caranya ini, masih terbuka ruang untuk mengelak. Ia pasti takut. Masih meragukan apa yang hendak dilakukannya.

”Bro…”

”Tidak!” ia menjerit, sambil berpaling muka. Tangannya, tanpa disengaja telah menekan pedang, aku merasa pedih. Pasti telah tergores. Ah.

”Maafkan aku Bro…  Kalau kamu sakit hati lantaran biasa iseng dengan dirimu,” kataku terbata di tengah ancaman seperti ini. Benar-benar dalam posisi tidak menguntungkan. Bila dalam sadar, tentu akan mudah bagiku untuk mengelak atau mengambil alih senjatanya. Lalu berbalik mengancam dirinya.

Terasa rasa dingin baja hilang, ia berdiri, sambil mengangkat pedang itu, lalu membuangnya begitu saja ke sudut kamar. Ah, benar dia memang pengecut. Tidak berani melakukan tindakan. Ancaman, hanya gertak. Saat di bergerak menjauh, naluri-ku saja segera bangkit, baru hendak meraih tubuh si Browo, terdengar banyak tawa. Beberapa kawan dekat masuk ke kamarku.

”Bajigur…. Kalian mengerjaiku.. Kasihan si Browo….” kataku menahan jengkel.

Semarang, 31 Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: