Tinggalkan komentar

Cerpen: Manusia Kamar

MANUSIA KAMAR
Cerpen Odi Shalahuddin

Sejatinya aku adalah manusia kamar. Bergulat dengan ruang 2 X 3, dengan sebuah tempat tidur dan sebuah laptop yang biasa menempati tempat terhormat di meja kecil. Tidak boleh ada barang lain di atas meja. Gelas dan asbak harus menyingkir, walau keduanya senantiasa menemani saat aku menyetubuhi laptop itu sehari-harinya.  Cukuplah mereka berada di bawah. Gelas di sisi kiri, asbak di sisi kanan. Keduanya harus berpisah, tak boleh berdekatan. Menghindari salah masuk abu rokok ke dalam gelas. Tak sadar bisa terminum. Jadi, bukan tanpa sebab dibuat begitu. Lantaran ada pengalaman.

Akses internet, walaupun tidak memiliki kecepatan super, tapi cukuplah bagiku untuk berjumpa dengan ratusan kawan setiap harinya. Rekan kerja, rekan waktu sekolah dulu dari perguruan tinggi hingga sekolah dasar dan juga rekan-rekan baru yang teramat akrab di berbagai jejaring sosial.

Tiada hari tanpa sapa. Tiada hari tanpa canda. Tiada hari tanpa gossip. Tiada hari tanpa berita. Seringkali imajinasi juga bermain seolah-olah kami berhadap-hadapan. Menyeduh air panas, membuat kopi hitam yang paling laris terminta, teh panas, es jeruk dan sebagainya sesuai permintaan. Terbayangkan berada di tempatku, maka akulah yang harus berepot ria. Terbayangkan di tempatmu, maka dirimulah yang akan repot. Kerepotan yang dilakukan dengan hati senang.

”Oh, sebentar, mandi dulu ya,” kata Maya.

”Ikut,” si Gundul merajuk.

”Enak aja. Cucumu sudah lima mau ikut bersama gadis,” Rus menimpali.

Beberapa tertawa. Maya memberi tanda bahwa ia tengah tersenyum. Sedang si Gundul meringis.

”Malam semua sayangku. Sudah maem belum?” Nia sang ibu yang terkenal dermawan.

”Beluuuuuuuuuuuuuuum,” serentak jawaban.

”Ini, dibawakan martabak. Eits, jangan rebutan. Pastilah cukup untuk mengenyangkan perut, menghangatkan tubuh di malam yang dingin,” tutur Nia.

Seraya bersapa, membuka jendela lain. Mencermati hiruk pikuk yang terjadi dalam bidang politik. Para petinggi negeri yang tengah menciptakan fakta-fakta menjadi berita. Keesokan fakta yang dihadirkan bisa berbeda. Silih berganti. Tanpa kita tahu mana yang fakta mana yang fiktif. Media telah menjadi sarana untuk melahirkan fakta-fakta yang membentuk opini publik. Hal yang nyata belum tentu menjadi fakta.

Hari ini, seorang petinggi menjadi hujatan, atas dasar kabar ialah sang dalang yang menciptakan skenario pembunuhan terhadap seorang artis cantik. Proses yang berlangsung hadir dalam berita, juga dalam talkshow, eh, infotainment juga ikut memberikan karena ada selebritis di sana. Tapi kabar lain keesokan harinya segera merubah pandangan kita dan kita mengelu-elukannya sebagai pahlawan tatkala terus ditunjukkan fakta-fakta bahwa sesungguhnya sang petinggi negeri adalah dalang bagi operasi pembunuhan tikus-tikus badung yang merajalela di berbagi kota.

Gosip artis lebih menarik lagi. Di berbagai situs media, inilah berita yang selalu menjadi pilihan pembaca sehingga selalu masuk menjadi berita terpopuler. Apalagi kalau pemberitaan sudah menyangkut hal-hal yang nyerempet syahwat. Wah, tak terbendung arus IP yang mendatangi situs tersebut. Maka para pengelola media, selalu tak lupa untuk menyediakan ruang terhormat bagi berita semacam ini.

Hm, kemanusiaan yang tidak boleh dilupa. Jeritan dan derita para jelata harus dihadirkan di tengah gemerlap. Kisah tentang komunitas apabila menyangkut hubungan dengan negara. Tanah tergusur. Barang dagangan terazia. Operasi preman yang mengangkut orang-orang jalanan siapapun mereka. Atau kisah-kisah individu yang terabaikan atau mendapat perlakuan tak menyenangkan dari pelayanan negara. Solidaritas. Kumpul koin. Kirim ke rekening. 1,000,000 tandatangan menyetop penebangan pohon di pinggiran jalan.

Terus berselancar. Tak lupa asap rokok mengiringi. Telpon berdering,

”Hei, sudah deadline,” terdengar suara.

“Ok. Sebentar,” sahutku cepat.

Berpikir sejenak. Oh, kukisahkan pengalamanku ini saja sebagai reportase.

Yogyakarta, 23 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: