Tinggalkan komentar

Cerpen: Ketika Awan Hitam Terus Terdiam di Langit

KETIKA AWAN HITAM TERUS TERDIAM DI LANGIT
Cerpen Odi Shalahuddin

Terdengar ketukan pintu. Aku yang masih bergulat di depan laptop, segera bangkit. “Siapa pagi buta begini datang?,” desisku sambil melihat waktu di bagian kiri bawah laptop yang menunjukkan angka 02.30. Rasanya aku tidak memiliki kawan yang berkunjung di pagi buta. Bila datang dari sore atau selepas Isya, pulang dini hari, memang rata-rata begitu kawanku. Cuma malam ini, tadi ada tiga kawan yang pulang sekitar pukul 01.00. Jadi kembali aku sendiri. Atau diantara mereka ada yang ketinggalan sesuatu? Ah, entahlah.

Kubuka pintu kamar, sesosok wajah pucat telah menyapaku. Aku melihat ke kanan dan ke kiri. Pintu-pintu kamar kawan-kawan tampak tertutup semua. Hanya lampu temaram yang menghiasi teras-teras setiap kamar.

“Maaf, Bang, boleh saya masuk?” nada tergetar dengan suara yang terbata.

“Eh, ,”

“Maaf, memang mengganggu pagi-pagi. Tapi yang ada di kepala saya cuma Abang. Jadi saya ke sini, Bang,” ia langsung menyambar sebelum sempat aku mengatakan apapun kecuali menunjukkan keterkejutan.

Kubuka pintu lebih lebar, membiarkan ia masuk. Setelah itu kembali menutup dengan memberikan sedikit sela biar terlihat dari luar. Bukan apa-apa. Orang bisa berprasangka yang macam-macam nantinya.

Ia masih berdiri. Memandang ke arahku. “Maaf ya, Bang,”

“Tidak apa-apa,” jawabku sambil memandang sosoknya. Ia menunduk. Kulihat penampilannya sangat kusut sekali. Rambut acak-acakan, pakaian yang dikenakan terkoyak di bagian lengan, ada percikan warna merah di beberapa bagian.

“Bersihkan dulu saja di kamar mandi. Hm, biar nanti pakai kaosku ya,” kataku sambil berjalan ke lemari,  mengambil kaos dan menyerahkan padanya. Ia menggangguk, menerima kaos dan masuk ke kamar mandi.

Pikiranku berkecamuk. Pasti sesuatu telah terjadi. Ya, pasti. Melihat penampilannya dan kehadiran di pagi buta ke kamar kost-ku. Ribut dan berkelahi dengan kawannya-kah? Terdengar suara gemericik air. Ia mandi. Di tengah malam. Wah, pasti bila kawan-kawanku ada yang terjaga dan mendengarnya, pastilah bisa bertanya-tanya.

Lama ia berada di dalam kamar mandi. Membuat aku semakin bertanya-tanya. Bukan soal mandi dan seberapa banyak ia menghabiskan airnya, tapi seringkali sepi tanpa suara gemericik. Apakah ia juga tengah merenungi apa yang baru saja terjadi. Tapi, ada apa?

Ia keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah. Mengenakan kaos yang tadi kuberikan. Kelihatan bersih. Namun wajahnya masih terlihat pucat. Matanya sangat sayu. Oh, tidak, malah kelihatan seperti orang ketakutan.

* * *

Aku mengenalnya, mungkin sekitar enam bulan yang lalu. Pertama kali aku mengenalnya ketika diajak seorang kawan ke sebuah tempat mangkal anak jalanan. Pada saat itu ia tampak mabuk. “Habis minum pil,” seorang anak jalanan tanpa kutanya.

Saat aku tengah duduk di emperan, ia langsung memeluk dari belakang. Aku segera menepisnya dengan halus.

“Eh, Mase gantheng je….”

Semua yang ada di sana tertawa. Menganggap sebagai kelucuan melihat sikapnya. Aku sendiri, tidak bisa tertawa. Tersenyum pun tidak. Justru merasa miris. Seorang anak perempuan. Umurnya kukira sekitar 12-13 tahun.

“Kamu itu, sudah berulang kali dibilang jangan ngepil, masih saja,” kawanku menegur anak perempuan itu. Ia hanya menanggapi sambil tertawa.

“Mas Roni juga ganteng deh,” anak itu malah menggoda.

”Hush, sudah, sudah, duduk aja,” kata Roni yang berambut gimbal.

Ya, Roni kawanku ini, sudah lama bergaul dengan anak jalanan. Ia terbiasa berkumpul dengan para anak jalanan di beberapa tempat mangkal di kota ini. Semuanya sudah terlihat akrab.ia menganggap anak-anak itu seperti kawannya sendiri. Bercanda, berdiskusi masalah kehidupan sehari-hari, tanpa jarak, membuat akrab.

”Aku tidak tahu lagi mencari cara. Lia selalu saja gak pernah bisa berhenti ngepil. Realitas dirinya lebih banyak saat dia tak sadarkan diri,”

”Jadi, kesadaran hidupnya ada pada saat dia tidak sadar,’ aku memberikan komentar, sambil melihat Lia tengah menggoda anak jalanan lainnya.

”Ia kabur dari rumah ketika bapak tirinya memperkosa. Tapi ibunya tidak percaya, malah membela suaminya. Ia datang ke kota ini. Sialnya, ketika di terminal, ia di pangris lima preman di sana,”

“Pangris?” tanyaku

“Jepang baris.. Artinya diperkosa bergiliran”.

”Oh,”

Ya, itulah pertama kali aku bertemu dengannya. Pada saat diajak Roni lagi beberapa waktu kemudian, aku tidak menjumpainya.

”Wah, Lia sekarang ikut Mami,”

”Loh, kok bisa?” Roni agak terkejut mendengarnya.

”Ya, kami sudah berusaha keras agar dia tidak ikut. Tapi Mas tahu sendiri kan bagaimana si Lia. Ngeyel. Dia ikut ngeloyor pergi dengan Mami,”

”Yuk ikut,” Roni langsung mengajakku pergi lagi.

”Kemana Mas?” tanya beberapa anak.

”Ke tempat mami,”

Rumah yang kami kunjungi terletak di sebuah perbukitan. Masih banyak tanah kosong. Di sebuah rumah yang tampak tertutup rapat, Roni menghentikan motornya. Aku segera turun. Roni membuka pintu pagar, memasuki halaman, lalu masuk ke sebuah lorong kecil di samping garasi. Aku mengikutinya dari belakang. Ternyata di bagian belakang rumah ramai sekali. Beberapa orang bertubuh tegap mengawasi kehadiran kami. Terlihat beberapa perempuan dengan pakaian seksi duduk di berbagai sudut. Roni menghampiri seseorang mengajaknya bicara, lalu masuk ke dalam. Aku disuruh menunggunya di situ. Beberapa perempuan menggoda. Ah…..

”Bajigur si Mami. Lia tidak diajak ke sini, tapi dijual ke daerah ”X” gerutu Roni. ”Susah bisa menemuinya,”

”Loh, kenapa?”

”Itu tempat rahasia. Backing-nya kuat. Tamu-tamunya banyak pejabat. Tidak mungkin kita bisa masuk ke sana. Kalau di sini, si Mami sudah kenal-lah dengan kita,”

Roni mengajakku keliling ke beberapa tempat mangkal anak jalanan. Aku setia saja mengikutinya. Setidaknya aku bisa banyak belajar darinya. Belajar menghargai sesama. Belajar juga tentang kehidupan mereka. Aku merasa sangat bersyukur lantaran hidupku tentunya lebih baik dari mereka.

***

Malam itu aku ke sebuah cafe. Ada kawan dari luar kota mengajak. Cafe yang terletak di sebuah lantai dasar sebuah hotel berbintang. Di sebelahnya juga ada diskotik. Baru pukul sembilan malam. Belum ada pengunjung. Kami pengunjung pertama. Ya, biasalah, dunia hiburan malam, justru baru dimulai jam sebelas. Tapi beruntung juga, kami bisa berbicara dengan enak, tanpa banyak terganggu.

Alunan musik lembut menyapa. Beberapa pegawai tampak masih sibuk mempersiapkan tempat, menata meja-kursi. Kesibukan di bar juga terlihat. Kami memesan dua botol bir dan sepiring mete.

Kawanku adalah kawan semasa SMA. Dia merintis usaha periklanan. Kedatangannya di kota ini dalam rangka kerjaan. Mumpung malam pertama, ia sempatkan untuk bersantai. ”Besok pasti sudah tidak ada waktu lagi,” katanya ketika menghubungiku lewat telpon.

Aku sendiri baru pertama kali masuk ke cafe ini. Kawanku yang bahkan lebih banyak tahu, “referensi dari kawan-kawan,” katanya sambil tertawa ketika kami memasuki areal hotel ini tadi. “Banyak perempuannya,”

Beberapa perempuan masuk, langsung menghilang di balik pintu dekat toilet. Tak beberapa lama, sudah keluar dengan pakaian yang seksi. Begitulah, satu persatu perempuan berdatangan.

“Nah, apa kubilang,”

Mataku tiba-tiba menatap satu sosok yang baru masuk. “Lia,” teriakku spontan.

Perempuan itu menoleh, langsung mendekat ke arahku. ”Eh, bagaimana kabarnya, Mas Ganteng?” dengan nada santai ia menyapa sambil menyalamiku. Oh, sangat berbeda sekali dari yang kulihat sebelumnya. Ia terlihat cantik sekali. Penampilannya benar-benar berubah.

”Mas Roni mencari dirimu,” kataku.

Ia tertawa saja. Aku lalu memperkenalkan kawanku.

”David,” kata kawanku menyebutkan namanya.

Setelah berbasa-basi, ia pamit. “Maaf mas, ganti dulu ya,”

David memandangi langkah Lia sampai hilang di balik pintu. “Cantik kali. Kau kenal?”

“Ya, kenal, tapi baru sekali ketemu. Sekitar dua bulan lalulah. Hm, dia dampingannya si Roni,”

“Roni gila itu? Wah, menghabiskan waktu untuk orang lain, tapi dirinya sendiri tak terurus,” komentar David.

“Masih mending ada orang-orang seperti Roni. Bisa menjaga keseimbangan kehidupan,” aku membela.

“Wah, hati-hati jangan sampai ketularan dia loh,”

Singkat saja, David membooking Lia agar menemani di meja kami. Di sinilah aku mulai banyak mengenali Lia. Orangnya enak diajak bicara, banyak bercanda, walau humor-humornya cenderung ke arah seksual.

Dari pembicaran dengan Lia, Lia mengatakan, belum tiga hari di tempat “X” dia melarikan diri. Kemudian melamar bekerja di sini, sebagai pemandu.

Setelah malam itu, beberapa kali aku ke cafe ini termasuk dengan Roni. Aku semakin mengenalnya dengan baik.

* * *

Kini ia ada di hadapanku. Berada di kamar kost-ku. Di pagi buta.

”Maaf, Mas. Mengganggu dan merepotkan,”

“Gak papa. Wah, maaf gak ada kursi. Duduk di kasur atau di karpet saja ya,”

”Tidak usah, Mas. Saya langsung saja ya….. Saya harus pergi. Kaosnya saya pinjam dulu ya,”

”Loh….”

”Saya habis membunuh orang, Mas. Tadi orang itu mengajak saya keluar sebelum selesai kerja. Tapi malah mengajak ke atas. Orang itu memaksa. Sampai di kamar, ia berlaku sangat kasar sekali. Saya lihat ada botol di meja, saya hantamkan ke kepalanya. Ia kesakitan dan melepas saya, saya hujamkan lagi. Sampai ia benar-benar terdiam. Dia mati, karena tak bergerak lagi,”

Aku melongo mendengarkan ia bercerita dengan lancar.

”Sudah ya, Mas, saya langsung pergi saja. Kalau benar mati, pasti saya dicari polisi. Nanti Mas pasti ikut terlibat kalau saya masih di sini. Doakan saja saya selamat ya, Mas,”

Ia mengulurkan tangannya mengucapkan terima kasih, lalu ke luar dari kamar. Sungguh. Aku sangat terpana dengan peristiwa ini. Tak sempat berkata apa-apa. Terasa singkat sekali. Lama baru tersadar, aku keluar dari kamar, menuju jalan raya, sudah tak tampak apa-apa. Ah…..

Di langit masih gelap. Aku merasa kehidupan Lia bagaikan langit pagi ini. Awan hitam menyelimuti, tapi tak pernah beranjak. Semoga kau baik-baik saja Lia.

Yogya, 2 April 2011

__________________

Ilustrasi gambar bersumber dari SINI

 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: