Tinggalkan komentar

Cerpen: Kawanku yang Unik

KAWANKU YANG UNIK
Cerpen Odi Shalahuddin

 

Kawan satuku ini memang unik. Unik bukan karena hanya penampilannya yang berbeda dengan kawan-kawanku pada umumnya, tapi karena cara berpikir yang diwujudkan dalam kehidupan kesehariannya, itulah yang semakin membuat beda.

“Kita memang tidak bisa hidup sendiri, tapi jangan sampai hidup kita tergantung dari orang lain,” pernah ia katakan padaku pada suatu hari ketika masih sama-sama duduk di bangku SMA.

Maka, seringkali ia menolak untuk dijemput atau diantarkan pulang dengan motor. Ia lebih suka naik sepeda onthel-nya. “Nanti aku bisa manja kalau diantar-jemput,” katanya.

Padahal, biasanya kalau ada suatu acara, kita akan melanjutkan membuat acara tambahan, entah pergi kemana atau hanya sekedar putar-putar kota. Dengan demikian, maka ia bisa dipastikan tidak bisa ikut terlibat.

”Sudahlah, jangan ragu, tinggal saja,” katanya bila aku meragu setelah gagal membujuknya untuk ikut dan menyarankan dirinya agar menitipkan sepedanya di tempat parkiran umum yang dekat dengan lokasi acara.

”Nah, seperti inilah yang aku suka,” komentarnya, ketika aku main ke rumahnya, keluar bersepeda ria dengan membonceng dirinya, lalu singgah di warung pinggir jalan, menikmati nasi-nasi bungkus.

”Saya heran, mengapa orang-orang untuk mencari tempat makan saja susah. Kalau makan adalah kebutuhan, mulut bisa mengunyah dan perut bisa menerima apa ada yang salah bila membeli makanan murah,” komentarnya lagi.

”Ya, makan sekarang bukan sekedar makan, Bung. Tapi seringkali menjadi ajang untuk lobby bisnis. Jadi harus ada performance yang baik dong untuk calon mitra,” aku mencoba membantahnya.

”Lah, tapi banyak anak-anak muda seperti kita, nongkrong dan makan di tempat mahal. Apa gak sayang uangnya ya…”

”Tapi kan bisa bergaya,”

”Ah, masak hidup untuk gaya,”

Kami-pun menikmati nasi bungkus isi teri pedas dengan lahap. Aku habis dua, kawanku habis empat.

Entah mengapa, aku bisa dekat dengan dia. Bisa berbicara banyak dan bisa bercanda. Kawan-kawanku juga heran, kadang menyindir atau juga mengejek. “Kamu mau ikut-ikutan dia? Jadi makhluk dari planet lain. Atau biar ketularan pintarnya?”

Ya, kawan satu ini memang selalu juara. Bila aku cermati sebenarnya tidak ada yang salah dengan dirinya. Ia hanya tidak suka hal yang berlebihan. Pesta ulang tahun-pun ia jarang mau datang. Bukan karena tidak menghargai yang mengundang, tapi memang ia tak suka. Bila-pun terpaksanya datang, ia akan lebih banyak menyendiri, sambil membaca buku.

”Buat apa pesta? Apalagi hanya untuk merayakan ulang tahun. Seharusnya bersyukur dan berdoa saja cukuplah. Aku sendiri hanya bisa memberi doa,”

Ya, aku bisa dekat dengan dia, karena sebenarnya secara tersembunyi terkagum dengannya. Pada masa-masa SMA, masa-masa yang paling indah, ketika orang mencoba mencari jati-dirinya dengan melakukan berbagai cara, yang mungkin dianggap salah oleh para orangtua, ia sama sekali tidak terpengaruh. Ia malah sudah memiliki prinsip. Itulah yang sesungguhnya membuatku iri.

* * *

Dua puluh tahun memang sudah lewat. Tidak terasa. Bila hanya menunggu, pastilah akan bisa tersiksa. Ketika berkesempatan datang ke kota di mana dulu aku sekolah, semasa SMA dan kuliah, maka ingatan pertama adalah dengan kawanku itu.

Maka aku mencoba bertanya kepada kawan-kawan semasa sekolah, menanyakan nomor HP-nya. Tidak ada satupun yang punya. Walaupun dengan rasa ragu, aku mengunjungi rumah yang dulu ditempatinya. Ternyata ia masih tinggal di sana.

Kami berpelukan erat. ”Terima kasih, kamu masih mengingat saya. Kamu memang kawan luar biasa,” komentarnya. ”Tinggal di mana sekarang? Jakarta? Ah, tak terbayang aku hidup di Jakarta. Pasti ruwet,”

Aku tertawa.

”Kok sepi rumahmu?” tanyaku.

”Ya, aku tinggal sendiri. Bapak Ibu telah lama pergi,”

”Inna lillahi wa inna illahi roji’un. Ikut berduka ya? Sudah lama,”

”Bapak 10 tahun lalu, ibu tiga tahunanlah,”

”Anak-istrimu?”

”Aku masih sendiri,” dia sambil tertawa. “Dirimu?”

“Masak masih sendiri? Aku sendiri anakku sudah tiga,”

“Mana adalah perempuan dengan aku?”

Kami tertawa bersama dengan pikiran masing-masing.

Kulihat sekeliling ruang tamu. Ada satu lemari buku. Penuh isinya. Ruang tengah yang terlihat dari sini, hanya ada satu meja makan dengan kursi-kursi. Tidak terlihat barang mewah, tapi sejuk terasa rumah ini.

”Oh, ya? Nomormu berapa? Biar gampang dikontak,” kataku.

”Wah, aku tidak punya hape. Belum butuh sih,”

”Jadi kamu juga tidak punya account di FB?”

Ia menggeleng sambil tersenyum.

”Kamu tidak berubah,”

”Lho, kamu tahu kan bagaimana sikapku. Aku hanya berusaha untuk mencari apa yang kubutuhkan atau menjadi kebutuhan. Toh tanpa hape dan FB, alhamdullillah aku masih sehat, dan tidak mati,”

Ah, komentarnya biasa saja, tapi terasa menohokku. Aku yang selalu merasa hidup tidak lengkap bila tidak berkomunikasi, bila tidak membuat status-status dan memberikan komentar-komentar kepada banyak kawan. Belum lagi berselancar di kompasiana. Aku yang bisa memaki-maki bila listrik mati atau akses berjalan lambat. Anak-anakku saja dari yang paling kecil kelas 6 SD dan yang tertua kelas 2 SMA, semuanya memiliki dan rasanya tidak pernah lepas dari Hpnya masing-masing.

”Kita makan yuk,” aku menawari kawanku itu.

”Di angkringan Lik Sardi seperti dulu? Ayuk,”

Aduh, terasa lemas juga. Penampilanku yang rapi, makan di angkringan? Tapi, kusisihkan pikiran-pikiran yang mengganggu. Toh, aku makan di sana pasti tetap sehat dan tidak mati, hiburku mengutip kata-kata kawanku itu.

Yogyakarta, 28 Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: