4 Komentar

Bukan Mimpi, Bukan Pula Imajinasi: Kopdar Desa Rangkat

BUKAN MIMPI, BUKAN PULA IMAJINASI: KOPDAR DESA RANGKAT
Odi Shalahuddin

Desa Rangkat dalam imajinasi

Pergaulan dalam dunia maya. Sapa, canda, caci-maki, diskusi, ekspresi, bebas merdekalah, semua ada. Walau belum bertatap muka, sering terasa sebagai saudara. Jejaring sosial semacam Facebook, walau kini tampaknya mulai banyak yang tidak mencandu seperti awal bertemu, tentulah sudah banyak berjasa, menemukan para sahabat lama, yang sekarang bisa berpencar kemana-mana, di seantero dunia. Teringat masa lalu, dibangkitkan kembali, dan reuni-reuni tergelar. Jangankan para sahabat semasa kuliah atau SMA, reuni para sahabat ketika SD-pun bisa terlaksana.

Selain jejaring sosial, persahabatan dan persaudaraan juga terbangun dalam blog keroyokan. Kompasiana misalnya. Ketika orang-orang bisa saling membaca, saling bersapa, membangun canda penuh tawa, pengusir rasa sepi, kadang juga amarah keluar dari tempat sembunyi, lantaran terjadi caci maki, ya, itulah ruang merdeka, semua orang bisa berapa saja.

Logo Desa Rangkat

Ambillah positifnya, membuat hati riang gembira, melewati hari. Bukankah kita terlanjur mual, perut mules, kadang saraf menjadi tegang berhadapan dengan dunia nyata yang dialami, didengar dan dirasakan? Berita membangun duka, mencari hiburan dalam infotainment-pun melahirkan kemuakan. Jadi, buat apa berselancar di dunia maya bila hanya mempertinggi gunung duka…?

Satu keberuntungan, ketika berada dalam lautan kata-kata, yang mengalir dan berputar tiada henti setiap hari, terkadang disertai gelombang yang membangun badai dan siap melemparkan siapa saja, ada dermaga yang terbangun. Desa Rangkat.

Desa Rangkat. Dialog Elok Saling Asah-Asih-Asuh dalam meRANGkai KATa. Begitulah kepanjangannya. Sebuah desa imajinasi yang terbangun dengan semangat kebersamaan, membangun persaudaraan yang hangat, membangun mimpi-mimpi yang bisa menginspirasi diri membangun dunia. Mimpi yang bukan sekedar mimpi. Mimpi akan suatu perubahan. Sekecil apapun, setidaknya bagi diri sendiri.

Meluncurlah berbagai kata-kata yang terbangun dalam berbagai cara, sehingga menjadi karya. Kerapkali kata bersahut sehingga karya bukan sendiri, melainkan menjadi karya bersama. Saya kira ratusan puisi telah hadir sebagai karya kolaborasi dengan beragam tema. Demikian juga beragam karya fiksi. Artikel, essai, reportase, pun hadir pula.

Armada bus rangkat, Impian, siapa tahu terwujud

Setidaknya pada hari ini tercatat lebih dari 200 orang yang memiliki akun FB tergabung dalam group Desa Rangkat. Sebagian besar sangat aktif saling bersapa. Sebagai Desa, para warga membangun dunia berkaca pada dunia nyata, namun tetap membangun mimpi bersama. Siapapun bisa berperan, mengambil posisi sebagai warga. Ada Kepala Desa, Ada ibu Kepala Desa, dan keluarganya, ada sekretaris desa, ada hansip dengan pembina, ada warung kopi, ada guru, ada dokter, ada penyair,  ada pengamat politik, ada yang membuka warnet, ada yang membuka panti pijat, ya, hampir sebagian profesi dihadirkan dalam desa imajinasi ini. Sosok warga sendiri, ada yang sangat serius, ada yang suka bercanda, ada yang genit, ada yang gemulai, ada yang kekar, ada yang lebay, ah, ada berbagai karakter manusia seperti dalam dunia nyata.

Dari maya menjadi nyata. Beberapa warga pernah berjumpa, dengan desain yang disengaja, walau masih terbatas pada wilayah yang berdekatan. Kopi darat. Mendaratkan mimpi menjadi nyata, setidaknya bisa bertatap muka. Jakarta, Bandung.

Menggelinding gagasan untuk melibatkan lebih banyak orang untuk bertatap muka. Diskusi saling isi, hingga tanggal tertera dan berganti, tapi mendekati pasti, hingga akhirnya bisa terjadi pada tanggal 2-3 Juli. Bertempat di Yogyakarta, tepatnya di Bantul, tepatnya lagi di Ganjuran. Sesepuh desa yang benar-benar sepuh namun tetap memiliki semangat dan jiwa muda, ialah Pak Astoko, telah rela bersibuk diri (dan keluarga dan rekan-rekannya) untuk menjadi tuan rumah.

Ketika nyatanya hadir, aku sendiri merasa ini seakan mimpi. Luar biasa. Para warga rangkat dalam desa imajinasi, kini benar-benar hadir di sini. Walau tak semua, lantaran kesibukan orang yang berbeda, dan jarak nyata yang sungguh bisa menjadi kendala, di luar itu juga butuh biaya.

  • Yayok Haryanto, selaku kepala Desa, di tengah kesibukan kerja, di Jember Jawa Timur, menyempatkan diri hadir walau satu hari satu malam. Tenang saja Pak Kades, asal tidak menyanyikan lagu “Malam Terakhir”. Bukan apa-apa, nanti pada gak tahan untuk turut berjoged.
  • Mommy, sang Ibu Kades, seorang penggagas kelahiran Desa Rangkat, pastilah hadir, dengan mata berbinar, dan bicaranya selalu penuh semangat, berbicara tentang mimpi-mimpi yang bisa terbukti dapat terjadi. Maka selalu membangun mimpi yang harus dilanjutkan dengan berbagai rencana agar dapat terlaksana dalam dunia nyata.
  • Lala Sangkrak, sang penyair dari Situbondo, menyempatkan untuk bisa hadir kendati ada kendala dalam keluarga, yang bisa membuat cemas jiwa. “Kakak masih sakit,” katanya dan bersiap bila harus segera pulang. Semoga saja bisa segera sembuh, Bung Lala…
  • Trihansyah dengan sapa akrab sebagai Bung Hans, hansip penjaga desa yang selalu setia. Dari Dubai ke Palembang, bersama istrinya, Mbak Yeni Depe dan kedua anaknya segera meluncur ke Yogyakarta juga. Ah, semangat yang luar biasa. Oh, ya aku berhutang ngopi bersama dengannya
  • Ibaybendz Andromeda Eduard, lelaki ini meluncur dari Menado, dan memenuhi janjinya untuk memperdengarkan hymne Rangkat yang digubahnya. Sayang ia sendiri tidak menyanyikan, hanya memperdengarkan suaranya dari HP… Wah, jadi belajar bersama untuk menyanyikan lagu itu tidak, ya…?
  • Babe Helmi, sosok kawan yang bisa berinteraksi dengan siapa saja, semua dianggap sebagai para sahabat, selalu menjaga diri untuk tidak terlibat dalam polemik yang tidak produktif. ”Bila saya mengkritik, maka bisa jadi niat baik malah melahirkan energi negatif saya menjadi menular,” demikian pengakuannya. Ya, ia hadir, dan juga membantu mempertemukan dengan kawan-kawan canting, kumpulan kompasianer Yogya..
  • Asih Suwarsih, dalam harap penuh doa, akhirnya bisa bersorak gembira, tatkala keluarga mengijinkannya pergi ke tanah Jawa, Yogyakarta. Maka meluncurlah ia dari Makasar dengan mata berbinar-binar. Asih, sang cerpenis yang gubahannya semakin asyik, tapi sayang lama tak terlihat lantaran ia sulit untuk memposting dari laptopnya sendiri, sehingga diposting atas nama kawan-kawan yang lain.
  • Edy Prihatna, siapa tak mengenalnya, ialah sang penulis aktif masa kini yang postingannya sekarang ini selalu menjadi headline. Tiada kalah semangat dengan para orang muda, menembus malam melewati pegunungan, menaik dan menurun, menghindari kemacetan di salah satu kota di Jawa Barat (sorry, lupa namanya). Dan berhasillah ia dari Depok tiba di Yogyakarta. Bisa bertatap muka dengan para warga. Lihatlah wajahnya selalu saja ceria.
  • Jingga Rangkat, perempuan seksi dari desa Rangkat, bahkan telah hadir dua hari sebelum Kopdar, lantaran tiket untuk hari yang pas, tiada didapatnya. Jadi, bisa berpuaslah ia menikmati ”suasana Yogya”
  • Bunda Selsa, meluncur dari keparakan, Temanggung bersama anaknya dengan mengendarai sepeda motornya. Wah, luar biasa ibu ini. Selalu tersenyum, dan lembut berkata… ha..h.ah.a.h.a.ha.ha
  • Lia Nathalia dari Bekasi, menuju Bandung, bersama Mommy meluncur ke Yogya
  • Iin, dari Semarang, juga tak mau kalah meluncur ke Yogya.
  • Bowo Bagus dari Klaten
  • Halim Malik dari Yogya
  • Dan saya sendiri bersama istri.
  • Tentu saja Pak Astoko sebagai tuan rumahnya, yang pasti sibuk mengatur penjemputan, penyediaan penginapan, makan, dan sebagainya.

(moga tidak ada nama yang terlewat ya..)

Rangkat dan Canting

Pertemuan ini, dimeriahkan pula dengan kehadiran para kompasianer Yogya, yang berhimpun dalam canting. Kumpulan ini tidak sekedar menulis, tapi sering membuat pertemuan tatap muka, berbuat nyata, sekarang tengah mengembangkan perpustakaan anak. Studio biru sebagai pusat kegiatannya.

Sungguh, ini bukan mimpi dan bukan pula imajinasi. Ini suatu hal yang nyata, walau saya merasa seperti bermimpi. Tapi, banyak para warga yang sungguh baru bertatap muka untuk ini kali. Terasa akrab, tak berjarak. Seakan mengenal lama. Ya, mengenal lama dan mendalam dari saling sapa di kompasiana dan group FB.

Memang, tentu banyak kawan yang berharap bisa hadir. Demikian pula kami di sini, tentulah berharap suatu saat kelak bisa berkumpul lebih banyak lagi.

Ah, tulisan ini hanyalah perasaan diri. Ayo, siapa akan membuat liputan kopdar ini, yang tentunya telah dinanti para warga lainnya…….

Sebagai penutup, saya sertakan puisi Bung Lala (pinjam ya, bung, maaf gak bilang dulu)

RANGKAT KU
Oleh: Lala Sangkak Laranta
(diambil dari group Desa Rangkat di FB, postingan 26 Maret 2011)

Bunga bunga dan segala yg tersimpan dibalik bumi jiwa mulai tumbuh
Semua yg pernah mati menjadi bebijian didalam kalbu kini mulai berkecambah
Aroma wewangin semakin semerbak mengisi tiap hati
Dan kicau merdu kehidupan mulai menyambut datangnya musim semi tiap insan
Kupu kupu yg sabar dalam penantian berkepompong telah menebarkan pesonanya
Bahkan para seranggapun tak ingin ketinggalan dalam menyiapkan segala pesta
Begitu pula sebuah Desa dikaki Bukit Naras Rangkat namanya 

Diladang paman petani bunga kolnya telah ranum meminta di petik
Ditaman galeri lukisan semua bunga menunjukkan semerbaknya membuatnya terpana
Di pelataran balai desa bunga matahari selalu ceria bersenda gurau
dengan tulip mengundang kumbang betah berlama lama
Jumlah mawar dengan segala warna tak lagi sanggup berbilang menampakkan senyumnya  

Di pos hansip bunga bakung kian nyaman oleh kerindangan flamboyan
Disudut sudut jalan bunga bunga baru dari spesies yang harum mulai bemunculan
Bahkan disungai desa bunga liarnya jauh lebih menawan dari bunga deposito peradaban

Kicau burung burung disekitar bunga semakin merdu menyanyikan asmara
Kumbang kumbang ikut bersolek mencari lawan seperjalanan
Simponi hidup telah menemukan sejahteranya
Bahkan edelwies yg kubingkai diantara gambar seorang wanita seakan tak mau kalah untuk sisih
Begitulah pelangi di desa rangkat menggambarkannya
Dan aku tetaplah sipencinta sebagaimana sejatinya awal harus menggambarkan keindahannya
Salam untukmu semua nama keindahan dari aku punya nama RANGKAT

_________

Semogalah benar kita diberi kesempatan untuk bertemu, bersapa, lebih banyak lagi, menularkan mimpi-mimpi, membangun imajinasi, sehingga semua banyak yang bisa terinspirasi, sehingga benar-benar bisa terjadi, menjadi nyata yang dialami…

Salam warga Rangkat

Yogyakarta, 3 Juli 2011

_______________________________

Catatan: Foto-foto diambil dari group Desa Rangkat di FB..

Iklan

4 comments on “Bukan Mimpi, Bukan Pula Imajinasi: Kopdar Desa Rangkat

  1. Mantab (pakai kolkolah ba’) bang odi, salam dari pak Nov di Desa Rangkat

  2. boleh minta alamat komunitas canting ga…? kayaknya aku bisa dapatkan teman eh sparring partner di sana

  3. boleh minta alamat komunitas canting di Yogya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: