Tinggalkan komentar

Sketsa Desa Rangkat #2

SKETSA DESA RANGKAT #2
Oleh:  Odi Shalahuddin

Desa Rangkat dalam imajinasi

 

Namun, selepas gerbang jejak kaki melangkah
tengoklah ke kanan, ke arah Timur tepatnya
itulah rimbun hutan ”kata hati bicara”
memanjang hingga menyelusuri lereng Gunung Naras nan Agung

sebenarnya, dulunya seluruh wilayah adalah hutan,
namun dengan berkembangnya jumlah warga,
telah dibuka untuk jalan, lahan pertanian dan perkampungan

tatkala Putri Tebu dan Pujangga Jagadunya bersama tujuh pengawalnya
memasuki hutan belantara yang masih perawan,
mereka harus berjuang mencari dan membuka jalan
sungguh, rapat sekali semak-semak, karena memang tak pernah terjamah

hutan ini sangat terkenal angker dengan berbagai jenis makhluk halus penjaga
tak ada seorangpun yang berani melewati pinggiran hutan menjelang senja
apalagi ketika gelap mulai mengaburkan wajahnya
irama malam dengan gesekan dedaunan telah membuat orang merinding
melalui pinggirannya saja orang-orang tak punya keberanian,
apalagi merambah memasuki ruang-ruang di dalamnya

beruntunglah sembilan orang ini memiliki kekuatan lebih
kekuatan dalam yang pantang untuk gentar terhadap tantangan
keyakinan yang kuat untuk mencari tempat bertahan
seperti takdir, terbuka jalan secara tiba-tiba,
hingga mereka tiba di sisi bukit, yang dikenal sekarang ini
dengan nama “bukit Cinta”

Di sinilah awal mereka menetap
Sang putri tebu bertapa
Didampingi pujangga Jagadunya
Selanjutnya kelak mereka harus membangun pemukiman,
sang putri tegar memimpinnya

Sebagaimana dalam catatan sejarah yang telah tergores:.

Suatu proses perjuangan yang panjang berkesinambungan
Begitulah Desa Rangkat didirikan
Dipimpin pewaris pena pusaka Puteri Tebu
Menyingkirkan siluman, jin, genderuwo dan setan kober
Menyelamatkan kata yang nyaris dealock di sudut Telaga Religi
Kini kata telah menempati pesisir samudera hikmah
Bagaikan lautan pasir yang memberi sejuta peluang untuk kreatifitas

(sumber, Klik Di SINI).

hutan ini masih rimbun, tapi bila engkau memasukinya,
engkau akan menemukan pemandangan yang indah
sungai yang mengalir dengan kejernihan airnya
dan air terjun yang lembut menjatuhkan gemericik
sungguh cocok dengan namanya
di sini tempat yang menyenangkan
ketika kita menyatukan diri dengan alam
berpasrah pada sang pencipta
dan dengarkanlah kata hati bicara
sebagaimana nama hutan ini

Yogyakarta, 21 Desember 2010

______________________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: