Tinggalkan komentar

Sketsa Desa Rangkat #1

SKETSA DESA RANGKAT #1
Oleh:  Odi Shalahuddin

Desa Rangkat dalam imajinasi

desa rangkat,
desa terbesar di dunia
luasnya menyamai kota
berbentuk hati gambar petanya,
dengan kekayaan alam yang luar biasa
pastilah membuatmu terpesona

desa rangkat
desa sembilan dusun angka sempurna,
diantara dua bukit, gerbang alam membuka
janganlah ragu untuk memasukinya
niscaya, tersihir dirimu oleh kehidupan warga
jiwa-jiwa merdeka penuh cinta, senantiasa bersapa

selepas gerbang jejak kaki melangkah
tengoklah ke kiri, ke arah Barat tepatnya
memanjang sebuah perbukitan bernama ”cinta”
di baliknya adalah samudra
di situlah tempat putri tebu pernah bertapa
ditempa oleh sang pujangga ternama
jagadunya namanya, pemegang sah pena pusaka
ia mendapat titah dari ibunda
telah bantu pelarian keluar istana, putri tebu haruslah terjaga
mengasah hati, menggores pena, merangkai kata bermakna

putri tebu yang terpenjara di dalam istana
lantaran sang raja murka akan kelakuannya
selalu menulis tentang kehidupan rakyat jelata
mengaburkan dongeng-dongeng istana

sendiri
benar-benar sendiri
diantara meja dan kursi-kursi yang kaku
diantara bara dalam pemanas yang telah memusnahkan karya
diantara dinding-dinding kayu yang telah menghitam
diantara jejak-jejak kaki dan jejak-jejak suara
yang masih jelas terdengar dalam kepala  .

oh, nasibku,
betapa menderita bila tak mampu tuangkan rasa hati
mengabadikan peristiwa dan pemikiran
lantaran berbeda dengan nilai-nilai kekuasaan  .

oh, sendiri,
benar-benar sendiri
 bercumbu dalam sepi.

sembilan bulan dalam kamar terjaga
tanpa pena, sangatlah menyiksa rasanya
sampai akhirnya masa dari asa-pun tiba
sembilan dayang atas perintah ibunda
merancang pelarian untuknya
tiba di luar, sang pujangga telah menyambutnya
bersama tujuh pengawal keluar dari dinding ibukota
sembilan orang jadinya, memasuki hutan rimba
hilangkan jejak, tebar kabar maya
bertahun-tahun lamanya,
putri tebu mendapat bimbingan pujangga jagadunya
melatih jiwa raga agar senantiasa terjaga
sampai pada waktunya
jagadunya terkikis usia, meninggalkannya
mewariskan pena pusaka

itulah, putri tebu pewaris pena pusaka

menyibak awal mula
setelah pelarian dari istana,
telah menyusul sanak saudara
dari para pengawal maupun pujangga
terbangunlah ikatan keluarga,
terbangunlah desa-desa

Yogyakarta, 21 Desember 2010

_____________________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: