Tinggalkan komentar

Rapat Paripurna #1

RAPAT PARIPURNA
Oleh:  Odi Shalahuddin

Desa Rangkat dalam imajinasi

Pak Kades Yayok tiba-tiba memberi perintah yang membuat Desa Rangkat geger. Perintah yang sesungguhnya sama sekali tidak bertentangan dengan konstitusi yang ada di Desa Rangkat. Perintah yang memang bisa dikeluarkan sebab sudah menjadi hak khusus, menjadi hak istimewa, hak yang diatur secara jelas dalam konstitusi. Jadi, memang tidak ada yang salah.

Rakyat geger lantaran perintah itu dianggap tidak biasa. Hal-hal yang tidak biasa, maka bisa ditempatkan sebagai hal yang luar biasa. Walaupun sesungguhnya hal tersebut bisa disikapi sebagai hal yang biasa. Toh sudah diatur, bukan? Artinya sudah bisa diproyeksikan. Soal digunakan atau tidak sebuah hak yang dimiliki, tentu bukan persoalan salah dan benar. Bukan pula persoalan dosa dan tidak dosa. Bukan pula soal biasa dan luar biasa.

Maka, seperti biasa angin berhembus, iklim bisa menciptakan beragam sosok terhadapnya. Apalagi sekarang diketahui banyak orang tengah terjadi perubahan iklim yang kerapkali susah tertebak. Berbagai pertanda, telah kehilangan makna. Jadi, tidaklah mengherankan apabila sosok angin semilir, bisa berubah menjadi angin kencang, menjadi badai, menjadi gelombang yang terus berputar-putar siap merobohkan segala yang dilewatinya. Seperti itulah reaksi yang hadir. Reaksi yang menjadi bahan pergunjingan yang cepat menyebar ke seluruh antero desa Rangkat, desa terbesar di dunia ini.

Ini bermula dari pengumuman yang dibacakan oleh Sekretaris Desa, si centil Acik Muchtar, yang hilang kecentilannya dan berwajah sangat serius ketika membacakannya di hadapan para kepala dusun dan perwakilan tokoh-tokoh masyarakat, yang kebetulan tengah pertemuan membahas rencana pembangunan desa jangka panjang. Pengumuman berisi informasi “Perintah Kepala Desa untuk mengadakan Rapat Paripurna Desa Rangkat”. Ya, cuma itu. Cuma itu yang dibacakan oleh Sekretaris Desa, dengan wajah tegang, didampingi oleh Pembina Hansip Pak Thamrin Dahlan bersama Komandan Hansip, Bung Hans.

Rapat Paripurna. Artinya seluruh warga tanpa kecuali akan dihadirkan dalam pertemuan. Rapat Paripurna adalah rapat maha penting. Acara ini belum tentu diselenggarakan setahun sekali.Limatahunan-pun masih diragukan. Berdasarkan catatan sejarah Desa Rangkat, Rapat Paripurna terakhir dilangsungkan sekitar 60 tahun yang lalu. Generasi yang ada pada saat ini, tidak ada yang mengikuti. Jadi hanya mengingat-ingat kisah dari para orangtua yang satu persatu telah pergi menuju ke tempat abadi. Atau membuka arsip-arsip Desa Rangkat, untuk mengetahui secara lengkap. Pada saat itu, Rapat Paripurna digelar untuk membahas ketahanan warga Desa Rangkat agar tidak terjebak pada beragam isu dan gerakan yang tengah menghantui seluruh negeri yang pada akhirnya menyebabkan pertumpahan darah antar saudara. Beruntung, pada akhirnya memang Desa Rangkat tercatat sebagai satu-satunya wilayah yang bebas dari pertumpahan darah negeri ini yang menjadi catatan kelam bagi sebuah bangsa yang mengagung-agungkan harkat dan martabat kemanusiaan. Ketahanan Desa Rangkat telah teruji. Tidak terpengaruh oleh beragam gerakan kekuatan-kekuatan partai politik dan kelompok-kelompok penguasa.

Lantas, ada situasi genting macam apakah sehingga Pak Kades memerintahkan Rapat Paripurna? Tampaknya tidak ada yang genting. Semua berlangsung seperti biasa-biasa saja. Bilapun ada persoalan, selalu bisa teratasi. Ah, atau Pak Kades tengah mengigau atau Ibu Sekdes mengacau salah mengetik surat perintah? Entahlah. Jelas, pengumuman telah dikumandangkan. Artinya sudah terdengar puluhan telinga, yang kemudian berkembang dari mulut ke mulut sehingga terdengar di ribuan telinga Warga Desa Rangkat.

Warnet Nyimas semakin tak pernah sepi. Antrian menjadi panjang, sehingga dibutuhkan kupon agar antrian berjalan lancar. Ada pembatasan waktu. Masing-masing orang hanya bisa mengakses paling lama 25 menit. Semua berlomba saling mengabarkan atau mencoba mencari tahu dari sumber-sumber yang mungkin saja membocorkan melalui berbagai situs di internet.

Warung Kopi Bung Budi ketiban rejeki. Sudah letaknya strategis berdekatan dengan balai desa, juga berdekatan dengan Warnet Nyimas. So, sembari menunggu, kongkow-kongkow dululah di warung Kopi ini. Sambil bergosip ria juga sesama warga.

Sama sibuknya dengan Jeng Herlia yang terus saja mengulek, karena pesanan gado-gado tak pernah henti. Sedang di ujung desa, Kang Ibay sudah merekrut banyak orang untuk membantunya agar pelayanan Warung Pojok tetap tokcer.

Paling tidak enak memang pasukan Bung Hans. Dengan kekuatan personil yang tidak seberapa, ia harus menjaga keamanan desa. Sebenarnya ia sudah mengusulkan agar ada perekrutan relawan untuk menghadapi Rapat Paripurna untuk menjamin acara bisa berlangsung lancar, tanpa ada gejolak berarti. Sayang, usulannya ditolak. Maka wajah kusam yang terlihat di wajahnya. Sama juga yang akan kita lihat dari Mbak Dorma.

Rizal Falih, sang pemilik Rangkat TV, sampai turun tangan sendiri bersama crew-nya untuk mendapatkan kebenaran berita dan membuat siaran langsung 24 jam non-stop, menampilkan berbagai dokumentasi puluhan tahun lalu. Nah, Bung Relly, yang kebanjiran job menjadi narasumber untuk memberikan analisis atas situasi sosial-politik yang tengah terjadi di Desa Rangkat.

Mbah Astoko Datu, sebagai sesepuh, dihadirkan dalam iklan-iklan kemasyarakatan yang menyerukan agar hati tetap tenang jangan mengembangkan pemikiran yang macam-macam demi menjaga stabilitas Desa Rangkat. Sebagai penghibur, Bung Lala kerapkali masuk TV menyiarkan syair-syair cintanya. (Bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: