Tinggalkan komentar

Pernyataan Terbuka untuk Warga Desa Rangkat

PERNYATAAN TERBUKA UNTUK WARGA DESA RANGKAT
Cerpen:  Odi Shalahuddin

Desa Rangkat dalam imajinasi

Sungguh tak terduga. Benar-benar tak terduga. Seperti dunia yang terus bergerak, demikian pula Desa Rangkat. Semakin menggeliat saja. Promosi wisata lingkungan tampaknya berhasil menarik perhatian dari orang-orang di segenap penjuru untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya Desa Rangkat. Hampir seluruh orang yang berkunjung terasa lekat, terikat, akan pesona alamnya yang hebat dan masyarakatnya yang sangat bersahabat. Tidak mengherankan bila orang-orang juga ada yang sulit untuk bergerak, melangkahkan kakinya meninggalkan Desa Rangkat. Sehingga akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal.

Desa Rangkat memang semakin ramai. Luar biasa ramai. Rangkaian-rangkaian kata penuh cinta mengelantung sepanjang ruang. Sejak dari pintu gerbang hingga ke seluruh pemukiman. Matahari, bulan, gunung, danau, sungai, awan, angin, semuanya begitu sempurna dalam irama yang mampu membangun dan menerbangkan imajinasi. Saya yakin putri tebu tentu akan terharu. Tak sia-sia ia membuka hutan belantara, daerah pengasingan dan tempat yang dianggap menyeramkan, menjadi sebuah desa terbesar di dunia. Desa yang mampu memadukan antara pergerakan jaman dengan kelestarian alam.

Ya, sejak meninggalkan desa Rangkat, atas perintah dari Pak Kades untuk melanjutkan studi, kesibukan membuat lama tak berkabar kepada semuanya. Walau dari kejauhan tetap saja terasa terdengar suara-suara renyah penuh canda dan cinta. Ah, betapa hampa seorang manusia tanpa cinta.

Memang Desa Rangkat penuh cinta. Termasuk kisah-kisah cintanya yang mengharu biru, menegangkan, sekaligus menggairahkan.

”Pastilah dirimu akan terheran-heran. Atas segala perubahan. Namun tetap bertahan. Pada nilai-nilai agung desa ini,” demikian Pak Thamrin, sang pembina Hansip tatkala menjamuku di rumahnya.

Oh, ya, memang aku tidak secara tiba-tiba di rumah Pak Thamrin. Sesungguhnya, aku mencoba mengendap memasuki Desa Rangkat, ingin membuat kejutan. Jadi aku memang tidak mengabarkan kepada siapapun atas kunjungan kepulangan ini. Aku melewati jalan yang bukan jalan umum, tapi melewati jalur sungai dan pematang. Berjalan kaki, menikmati pesona alam. Sayang, tanpa sengaja aku bertemu dengan Pak Thamrin. Ia tengah berlatih silat di pinggiran sungai. Untuk hal ini, aku baru mengetahui kalau secara diam-diam ia memiliki kemampuan bersilat yang luar biasa. Aku sempat menyaksikan bagaimana ia melompat tinggi dengan tendangan lurus ke depan, dan tiba-tiba terhenti lalu langsung berbalik arah. Luar biasa.

Ia menghentikan latihannya ketika menyadari ada orang yang tengah mengintipnya. Tertangkaplah aku. Beruntung tak sempat dihajar karena ia segera tahu siapa yang mengintip. Bukan orang asing yang katanya sekarang banyak berkeliaran dan mencoba membuat kenyamanan warga desa terganggu.

Kami sama-sama memiliki rahasia. Aku menginginkan Pak Thamrin tidak mengabarkan kepada siapapun tentang kehadiranku. Aku tidak akan menceritakan kepada siapapun tentang kehebatan silat dari Pak Thamrin. Adil bukan.

Nah, aku minta waktu dua hari untuk mempersiapkan diri membuat kejutan. Kejutan kepada para warga desa Rangkat. Untuk itulah aku bermalam  di rumahnya, di bagian belakang yang terpisah dari rumah induk. Hal ini menyebabkan keluarga Pak Thamrin-pun tak mengetahui bahwa aku tengah menumpang di rumah mereka. Soal kebutuhan pangan, aku sangat percaya Pak Thamrin mampu mengadakannya tanpa ada kecurigaan dari siapapun. Heh.e.h.e.he. benar kan Pak?

Nah, di hari ketiga, Pak Thamrin bergegas mengajakku ke pos hansip. Ada hal penting yang harus diselesaikan. Ia bilang tak usah khawatir. Tidak perlu membuat kejutan lantaran kejutan di desa Rangkat sudah menjadi hal biasa sehingga susah untuk membuat kejutan yang luar biasa. Mendengar omongan ini, aku menjadi merasa malu sendiri. Bisa jadi apa yang kupersiapkan malah jadi bahan tertawaan.

Begitulah kami tergopoh-gopoh berlari mendatangi pos Hansip. Sudah banyak warga yang berkumpul di sini.

“Yess…… foto kita nggak ada, mas..” Pak Thamrin sambil berbisik. Bisikan yang keras, yang kukira didengar pula oleh Bung Hans dan Mbakyu Dorma yang tengah menjaga pos hansip.

Aku melihat gambar foto-foto yang tertempel di pos Hansip. Ada delapan wajah terpampang. “He eh… berarti kita aman,” aku langsung menyahut tanpa tahu sebenarnya apa yang terjadi. Sungguh, aku tak berbohong soal ini.

Setelah itu, tanpa basa-basi, Pak Thamrin langsung menggandengku pergi yang membuat Hans dan Dorma melongo. Ya, aku sendiri tak sempat bersapa dengan mereka. Aku juga tidak sempat menanyakan kepada Dorma melihat penampilannya yang berbeda. Dorma yang cantik, berpakaian hansip, tapi tetap kelihatan menarik. Bahkan sangat seksi kelihatannya… He.he.h.e.he Maaf ya, Dorma.

Ya, begitulah yang terjadi. Begitulah yang kualami. Sungguh. Aku tak mengada-ada apalagi mencampur dengan khayalan. Sama sekali tidak.

Barulah setelah jauh, Pak Thamrin menceritakan tentang sebuah kalung berinisial D yang tiba-tiba ditemukan di dalam kamar Mommy. Ini membuat geger warga desa karena bisa bermasalah. Masalah pertama, Pak Kades bisa berprasangka bahwa istrinya tengah main mata dengan warga desa atau warga kota yang beranjangsana. Kedua, sistem pengamanan Desa Rangkat patut dipertanyakan. Hal ini karena ada orang yang bisa menyelusup ke rumah yang menjadi pusat kekuasaan Desa, tanpa terdeteksi oleh para Hansip sang penjaga Desa.

”Jangan-jangan dirimu,” Pak Thamrin langsung menghentikan langkahnya dan menatapku. ”Bukankah kamu sudah tiga hari di sini. Kamu bilang mempersiapkan kejutan. Tapi siapa tahu kamulah yang mengendap memasuki kamar Bu Kades dan meletakkan kalung itu. Itukah kejutan yang ingin kamu perbuat? Ya, jangan-jangan dirimu. Maaf, dalam kasus semacam ini, semua orang harus dijadikan sebagai orang yang layak untuk dituduh. Termasuk juga Bu Kades sebagai pelapor, bisa ditempatkan sebagai tertuduh utama,” Pak Thamrin langsung menghujamkan berbagai pertanyaan dan pernyataan.

”Loh, masak Pak Thamrin tidak percaya dengan diriku? Bukankah setiap Pak Thamrin ke belakang, pastilah melihatku tetap di ruang pengap itu?

Dan kutegaskan sekali lagi. Aku bukan pelakunya. Walau kedatanganku juga membawa oleh-oleh, tapi bukan kalung D. Walaupun aku pernah membayang-bayangkan sosok berinisial D, tapi itu tak menggerakkan hati untuk memesan secara khusus sebuah kalung. Apalagi memasukkannya ke kamar Bu Kades. Sungguh. Inilah Pernyataan Terbukaku.

Aku mohon maaf, lantaran juga tak sempat berpamitan kepada semuanya. Masa liburan memang singkat. Jadi aku harus segera kembali melanjutkan studi yang merupakan amanah dari Pak Kades….

Desa Rangkat, 5 April 2011

Keterangan:

Selepas tengah malam, tepat di pintu gerbang rangkat. Aku berharap pernyataan ini, yang kuselipkan di dekat rimbun bambu yang pasti mudah untuk terlihat oleh orang yang lewat, bisa sampai dan terbacakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: