Tinggalkan komentar

Di Balik Penyelenggaraan Pilkades Desa Rangkat

DI BALIK PENYELENGGARAAN PILKADES DESA RANGKAT
(Cerpen Odi Shalahuddin) 

Perbincangan di ranjang antara Kades Yayok dengan Mommy, pada suatu malam yang basah, usai hujan pertama, setelah kemarau yang berkepanjangan. Lampu kamar telah termatikan. Bias cahaya dari ruang makan menyelusup ringan melalui ventilasi kamar. Tetesan air hujan menimpa seng di luar, menimbulkan suara berirama yang terdengar jelas.

”Perubahan tengah bergerak di seluru penjuru dunia,”  Kades Yayok tiba-tiba berkata, membuat Mommy terkejut. Bukan apa-apa. Mommy mengira Pak Kades telah terlelap. Sedang ia sendiri tengah melamunkan tentang kehidupan Desa Rangkat yang tak pernah padam membangkitkan gairah. Lamunan atau pikiran seirama?

”Hm…”

”Saatnya, Desa Rangkat juga berubah,”

”Hm… Maksudnya,”

”Perubahan kepemimpinan sehingga bisa lebih demokratis sesuai tuntutan jaman. Kita mulai dari diri kita, menghentikan tradisi kepemimpinan turun-menurun hingga akhir hayat. Menurutmu?”

”Itu pula yang sesungguhnya menjadi pikiran. Ingin memulai, tapi takut Bapak tersinggung atau marah?”

”Ah, jadi kamu sepakat? Bahagianya hatiku. Ya, sebelum terlambat, perubahan harus dicipta. Desa ini harus dikelola oleh orang-orang pilihan yang dipilih dari suara para warga,”.

”Jika warga menolak?”

”Ya, kita jelaskan, ini merupakan tuntutan jaman. Desa Rangkat tidak harus dipimpin oleh keturunan pendiri Rangkat, Putri Tebu. Tidak harus dijabat seumur hidup. Selama ini, ajaran para pendiri, yang terjaga oleh para sesepuh desa, terus tertanam dan mengejewantah menjadi bagian dari  kehidupan sehari-hari yang berlangsung. Banyak tokoh-tokoh Desa Rangkat yang telah menunjukkan dedikasi yang tinggi untuk memajukan desa ini. Jadi kita tidak perlu khawatir dengan etafe kepemimpinan,”

”Saya berpandangan sama. Tidak ada yang perlu diragukan lagi,”

”Mengingat perubahan ini merupakan perubahan yang besar bagi warga Rangkat, dan menjadi tonggak bagi kehidupan selanjutnya, maka harus dijaga, agar proses dapat berlangsung dengan baik. Persaingan untuk mencalonkan diri, kampanye, harus menjaga kebersamaan. Boleh berdebat, tapi tidak boleh menyerang. Apalagi melakukan kampanye hitam. Apalagi melakukan serangan fajar mengumbar uang. Jangan sampai terjadi. Harus Jujur, adil, dan mengedepankan kepentingan bersama,”

”Bila memang demikian, kita bisa mengumpulkan para sesepuh dan tokoh desa. Pak Thamrin sebagai super hansip bisa dipercaya menjaga keamanan dan perdamaian selama proses kampanye berlangsung. Kita dan para sesepuh desa harus menjaga jarak dan tidak ikut dalam dukung-mendukung. Bagaimana Pak?”

”Ya, sepakat. Biarlah warga yang memberikan penilaian terbaik atas calon-calonnya tanpa ada pengaruh dari kita,”

”Kapan akan diumumkan?”

”Segera. Besok siang kita mengundang segenap warga untuk mengumumkan pengunduran diri. Panitia pemilihan dan pengawas bisa segera dibentuk. Bursa pencalonan segera dibuka,”

Demikian. Kemudian hening. Suara sisa hujan masih terdengar. Air yang terpecah berbenturan dengan seng di luar. Suara ayam jantan mulai berkokok. Telah dini hari. Sebentar lagi Subuh. Kades Yayok dan Mommy, masih berbaring, dengan mata yang masih terbuka. Pikiran dan rasa yang melayang-layang. Meyakinkan diri bahwa ini merupakan keputusan yang tepat.

Yogyakarta, 3 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: