Tinggalkan komentar

Cerpen: Tarjo

 

TARJO
Cerpen Odi Shalahuddin

Setiap pagi, sekitar pukul setengah enam, Tarjo sudah berada di lapangan, di timur jalan raya, di sebrang sekolah dasar. Setelah melepas tiga ekor kambingnya, ia selalu merebahkan dirinya di rerumputan yang masih dibasahi embun.

Ia akan terlentang dengan kepala di Barat, matanya memandang matahari yang perlahan naik. Seringkali mulutnya komat-kamit dan tangannya bergerak-gerak  mengisyaratkan sesuatu seakan tengah bicara dengan seseorang. Terkadang ia tersenyum, tertawa kecil,terbahak, dan terkadang mulutnya terkatup rapat, matanya melotot dan tangannya terkepal meninju udara. Entah mengapa, hanya ia yang tahu. Kelakuan ini seakan upacara ritual baginya yang harus dijalani.

Setelah beberapa lama ia akan bangkit, memasukkan kedua tangan ke saku celana seraya melemparkan pandangan ke kambing-kambingnya. Hanya sebentar. Seakan meyakinkan diri kambingnya masih berada di lapangan. Kemudian ia mengambil nafas dalam-dalam dengan sikap kuda-kuda  seperti pesilat sampai kedua tangannya yang berada sedikit di atas pinggang, mengeluarkan  nafas secara perlahan dengan kedua  telapak tangan yang mengembang dan bergerak lurus ke depan. Berulang-ulang ia lakukan sampai nafasnya tersengal. Setelah menenangkan nafasnya, mengembalikan ke normal, kegiatan bisa beragam. Duduk dengan kaki mengangkang  dan memainkan rumput-rumput, mendekati kambingnya, mengelus-elus  kepala kambing dan mengajaknya bicara, atau berlari-lari kecil maju-mundur, atau tidur tengkurap memandang kendaraan-kendaraan yang mulai ramai melewati jalan raya yang membatasi lapangan dan gedung sekolah dasar.

Pertama kali mendengar cerita tentangnya dari istriku, aku hanya tersenyum dan menganggapnya sebagai cerita penuh bumbu biar sedap didengar dan ditangkap oleh imajinasi. Ketika ibu mertua dan adik-adik iparku bercerita sama, sama pula responku. Ketika satu persatu aku mengenal penduduk dan berdialog dalam kesempatan di gardu ronda dan cerita  tentangnya juga sampai telingaku, aku tidak juga menanggapinya dengan serius. Pertanyaan untuk mengetahui lebih banyakpun tidak. Seringkali cerita itu kudengar, sekedar lewat saja dalam kepalaku.

Dan ketika pekerjaan baru mengharuskan berangkat pagi, kujumpai apa  yang pernah kudengar. Tarjo! Itu pasti ia yang berada di tengah lapangan. Kelakuannya persis seperti cerita  yang selama ini ada. Lama tatapan mataku mengarah kepadanya sampai aku tersadar oleh klakson bus. Aku harus segera berangkat!

Demikianlah, hampir setiap pagi kujumpai Tarjo di sana. Mulailah aku bertanya-tanya kepada istriku, kepada mertua dan adik-adikku,  kepada orang-orang kampung. Jawaban yang mereka berikan benar-benar kuperhatikan.

“Mengapa Mas banyak bertanya tentang dia? Dia kan orang sinting. Ngomong sama tumbuhan dan hewan,” komentar Parjilan pemuda sebelah rumah. Aku tersenyum menanggapi.

”Datangi saja rumahnya, Om,” ujar Marno yang masih berpakaian seragam putih biru, ketika sama-sama menunggu bus.

Ah, benar juga. Nantilah bila ada kesempatan, aku akan berkunjung ke rumahnya. Bus datang, kami naik. Dari jendela kaca, masih terlihat Tarjo bercakap-cakap dengan kambing-kambingnya.

* * *

”Sudahlah, Mas. Jangan neko-neko. Apa kata orang nanti. Tarjo tinggal sendirian di gubuk dekat blumbang sana,” istriku mengingatkan tapi juga memberitahu dimana Tarjo tinggal.

”Ya, bertanya, gak papa kan?” kataku sambil melanjutkan hisapan sebatang rokok yang baru saja aku nyalahkan. Mengambil ubi goreng di piring yang masih panas, menikmatinya di pagi hari. Asyik juga.

Kebetulan hari ini libur. Dengan menggunakan sepeda milik anakku, aku berjalan melewati jalan-jalan kampung. Hitung-hitung berolahraga, juga menikmati suasana desa yang masih dipenuhi udara segar, sekaligus menikmati keramahan para warganya. Ya, walaupun sudah beberapa tahun tinggal di rumah mertua, tapi secara fisik aku lebih banyak berada di kota.

Keringat sudah mengucur, tapi hati terasa ringan. Kukayuh sepeda dengan santai saja. Namanya juga jalan-jalan, buat apa tergesah-gesah. Melewati lorong-lorong, dengan rimbun pepohonan yang hampir menutup jalan. Tiba-tiba pandangan mataku mengarah pada sebuah rumah berbilik bambu, ada blumbang di depannya, dan didekatnya ada kandang kambing: Rumah Tarjo?

Aku berhenti. Memandang rumah itu. Lalu mengayuh pedal, mendekat. Berhenti lagi. Agak ragu-ragu.

“Halo Om… Apa kabar?” terdengar suara menyapa. Sosok tubuh keluar dari rumah.

”eh,”

”Wah, habis pit-pit-an ya, Om… Tapi bener sih, biar sehat,”

”Ya, ya… Wah, ganggu ini,”

”Gak kok Om. Semua tugas pagi sudah selesai. Marco, Brando dan Meryl sudah sarapan, tuch, lagi pada istirahat,”

Ugh… Nama tiga kambingnya keren sekali.

“Ayo, sini, Om,” katanya mengajak duduk di sebuah lincak bambu di bawah pohon mangga.

Tarjo. Masih muda. Kukira umurnya 25 tahunan-lah. Wajahnya terlihat segar. Habis mandi. Pakaiannya biasa saja. Tapi terlihat bersih. Kaos yang dikenakan bergambar sebuah partai, sisa kampanye kemarin. Celana pendek. Tidak ada yang tampak aneh dari sosoknya. Kata-kata yang kelaur dari mulutnya juga. Tidak ada keanehan sama sekali. Sambutannya ramah, termasuk kepada diriku yang sungguh belum pernah bersapa dengannya.

Aku menuntun sepeda, menyenderkan pada pohon mangga, menyalami Tarjo.

”Libur Om? Tumben ada di rumah,”

Loh, tahu juga dia. Biasanya di hari libur, karena sering bepergian ke luar kota, teramat jarang pula aku ada di rumah.

Kami lalu berbincang-bincang. Sama sekali tidak ada pembicaraan yang menyimpang dari kewajaran. Ia malah banyak hafal tentang watak-watak orang desa ini, termasuk penilain-penilaian terhadap mereka. Menyeimbangkan pandangan negatif dan postifinya. Bagaimana orang-orang menganggapnya sinting? Termasuk diriku yang melihatnya bercakap-cakap dengan rerumputan dan kambing-kambingnya.

”Loh, aku dengar sempat kuliah? Kenapa berhenti?”

Ia tertawa, ”Bosan Om. Dosen-dosennya menjemukan. Om kerja dimana sih? Pasti bukan guru juga bukan pegawai negeri. Tapi kok berangkatnya pagi-pagi?”

Ah, berarti dia tidak hanyut pada dirinya sendiri, tapi juga mengamati orang-orang di tepi jalan menunggu bus.

”Hm, apa ya…?”

”LSM Om? Tapi yang saya tahu, orang-orang LSM biasanya berangkat siang-siang. Gak punya jadwal teratur. Enak ya jadi orang LSM, kerja tidak diatur-atur,”

Ha.ha.h.a.ha  aku tertawa sambil tersenyum kecut juga.

”Tapi saya suka loh, Om dengan adanya LSM. Dia bisa langsung membantu rakyat kecil, tidak perlu birokrasi berbelit-belit. Mau berbaur dan tidak sungkan-sungkan. Orang pemerintahan susah. Padahal mereka para pembantu kita, tapi selalu minta dilayani. Di tingkat desa saja sudah begitu, apalagi para mentri dan presiden, ya Om,”

Tanpa sadar aku mengangguk.

”Bener Om kerja di LSM. LSM apa Om?”

”Ya. Urusan anak-anak sih,”

”Wah, banyak persoalan anak-anak ya, Om? Kemarin di tv, saya lihat anak-anak jalanan di razia. Kasihan ya, Om. Lalu itu, ada anak-anak yang menjadi korban perkosaan dari Bapaknya sendiri. Terus ada berita juga kelompok anak-anak yang menjadi jaringan curanmor. Wah, kok jadi mengerikan begitu, ya Om,”.

Aduh, kok malah dia yang banyak ngomong. Bicaranya-pun banyak tahu. Tidak ketinggalan informasi. Sedang niatku tadi singgah, untuk mengetahui lebih jauh tentang dirinya. Ah, salah orang-orang memberikan penilaian terhadap Tarjo.

“Ya, begitulah. Kalau mau dikuliti satu-satu, semua banyak menyimpan persoalan,”

”Kok bisa begitu, Om?”

”Ya, begitu,”

Ia tertawa terbahak. Lepas sekali.

Angin datang, meliukkan pepohonan. Terdengar suara gesekan dari batang-batang bambu yang menimbulkan suara berirama. Tarjo memandang ke kandang. Kambing-kambingnya lagi asyik bermain bersama.

”Eh, kok nama kambingmu, bagus sekali, Jo. Itu kan nama manusia,”

”Ya, biar saja. Habis banyak orang-orang kota juga sering menggunakan nama-nama orang desa untuk sesuatu yang menjadi bahan tertawaan. Masak kita tidak membalas sih, Om? Saya kasih nama itu saja, orang-orang sini sudah pada geger. Minta saya mengganti nama kambing. Atau kata mereka, masak kambing perlu dikasih nama sih. Tapi biar sajalah,”

Mendengar penjelasan Tarjo, sontak muncul lontaran pertanyaan yang menggayut. ”Hm, kalau tiap pagi kamu di lapangan, kok kamu kelihatan aneh, to Jo?”

”Wah, kalau itu, ritual saya Om. Setiap pagi, bangun sebelum subuh, bersiap diri, shalat, lalu membawa kambing-kambing ke lapangan. Udara pagi kan menyehatkan Om. Di sana saya berusaha menghirup udara segar.Sangat sayang bila dilewatkan. Pada pagi saya bersyukur kepada Tuhan, masih dikaruniai kehidupan, dibangkitkan dari tidur. Di pagi hari, saya bersapa dengan alam, bersapa dengan hewan. Walau saya sendiri tidak tahu apakah mereka paham atau tidak, tapi saya yakin mereka tahu bahwa mereka disapa…. Awalnya iseng saja Om, tapi lama-lama jadi kebiasaan,”

Ah, cuma sesederhana itu alasannya?  Hal sederhana bisa menjadi luar biasa karena di luar yang ada. Pikiran kita saja yang banyak berprasangka. Berpadu dengan pikiran-pikiran lain, lalu membentuk sesuatu seperti seakan nyata.

Saya tertawa sendirian. Tarjo memandang wajah saya. Lalu ikut-ikutan tertawa.

Yogyakarta, 26 Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: