Tinggalkan komentar

Cerpen: Negeri Berdarah

NEGERI BERDARAH
Cerpen Odi Shalahuddin

Suara pesawat. Suara sirine. Sesaat setelahnya, terdengar ledakan keras. Tidak cuma sekali. Api berwarna kemerahan. Kepulan asap besar seperti awan dalam aneka warna, putih, hitam, dan merah.  Di berbagai penjuru. Bangunan-bangunan hancur berantakan.

Di sebuah bungker. Seorang ibu muda memeluk anaknya yang tampak pucat. Sesekali ia memejamkan mata. Menggigit bibirnya sendiri. Menahan air mata agar tak tumpah. Ketika bayangan-bayangan tentangkotaini yang telah porak poranda. Ketika teringat orang-orang tersayang hilang. Ketika nyawa-nyawa melayang dengan jasad tersebar di berbagai ruang.

Perempuan itu merintih dalam hati. Rintihan dari jutaan orang yang bernasib sama. Rasanya seperti mimpi. Berada dalam ruang sunyi yang kelam mengerikan. Bisa berubah dengan berbagai kemungkinan.  Tapi kenyataan buruk memang benar-benar telah hadir. Rasanya baru kemarin, ia bermain bersama anak-anaknya di taman kota. Bersama para ibu muda dan ratusan anak-anak yang ceria menghabiskan waktu kala senja. Rasanya, rasanya, ah, rasa saat ini adalah rasa kepedihan mendalam.

Perjalanan waktu, dari detik demi detik,  malaikat maut terasa menari-nari di hadapan kita, memandangi satu persatu, dan tiba-tiba menunjuk siapa yang akan direnggutnya. Sosok-sosok dalam berbagai usia seakan berada dalam ruang tunggu. Menunggu giliran tanpa daya dan tanpa kuasa menolaknya. Terpenjara pada ruang yang teramat luas.

Bukan bermaksud mengingkari kematian. Tiada yang tahu kapan ia menyapa dan memanggil nyawa kita. Namun tarian-tarian maut yang dipertontokan, mau tidak mau membuat gentar. Ketukan di pintu terasa menjadi teror yang siap dihadapi oleh siapapun.

Perempuan itu membuka mata. Tak tampak siapa. Gelap. Hanya desah-desah nafas resah saling bersahutan. Anak-anak yang menangis tertahan. Mungkin tertutupi tangan atau kain dari ibunya.

Suara di luar, sudah hening. Cahaya menyelusup masuk. Pintu bunker terbuka, perlahan mereka bergegas keluar. Tangis pecah. Jeritan-jeritan membahana. Seperti kemarin, beberapa nyawa tak utuh bertebaran.

Perempuan muda itu, dengan anak balita di pelukan, dan seorang anak yang dituntunnya dengan tangan, menengadah ke langit yang gelap gulita. ”Oh, Tuhan,” kepasrahan.

Kini ia merasa hanya tinggal bertiga. Orangtuanya turut tewas dalam serangan di hari pertama ke kota ini. Suaminya, entah tengah berada di mana. Mengikuti panggilan untuk menjaga negeri ini yang baru saja terpecah. Hidupkah? Matikah? Entah.

Memang negeri ini tengah dilanda konflik. Penguasa yang bertahan 30 tahunan lebih telah membuat muak sebagian bangsa ini. Aksi-aksi protes di jalanan menyeruak ke berbagai kota. Mereka menuntut perubahan. Mereka menuntut keterbukaan. Mereka menuntut demokrasi. Mereka menuntut sang penguasa segera turun dari singgasananya. Aksi-aksi damai dihadapi secara brutal oleh pasukan keamanan sang penguasa. Orang-orang tewas terhujam peluru. Ratusan orang ditangkapi. Ini tidak membuat gentar. Justru semakin memacu semangat perlawanan.

Entah darimana, tiba-tiba saja para peserta aksi juga bisa mendapatkan pasokan senjata untuk melawan. Tembakan dibalas tembakan. Penguasaan-penguasaan sebuah wilayah, saling serang, saling melawan.

Sungguh, perempuan muda tidak bisa berpikir bagiamana semua bisa terjadi dengan cepat. ”Ini perang. Perang saudara. Mengapa bisa?”

Benar, perang telah pecah. Diantara sesama bangsa. Kekuasaan yang dipertahankan dengan mempertaruhkan dan mengorbankan jutaan nyawa, adalah kekuasaan yang haus darah.

Pada masa-masa seperti itu, tiba-tiba saja, bergerak pasukan asing yang juga menghujamkan bom-bom mereka ke berbagai kota. Atas nama apakah? Sungguh perempuan muda itu menjadi frustasi atas berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri.

Bangsa ini telah pecah, menjelang kehancurannya. Waktu yang teramat singkat, bisa bertahun-tahun dan membutuhkan biaya yang besar untuk memulihkannya. Ya, manusia adalah perusak. Mesin-mesin perang telah menghancurkan rasa kemanusiaan.

Perempuan muda itu masih menengadah. Sungguh, ia tak tahu harus beranjak kemana.

Yogya, 26 maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: