Tinggalkan komentar

Cerpen: Namanya Sarman

NAMANYA SARMAN
Cerpen:  Odi Shalahuddin

Namanya Sarman. Bertubuh gempal, ramput cepak, sering menggunakan jaket kulit hitam. Di wajahnya, ada codet, terlihat panjang melintas dari kening hampir sampai ujung telinga. Melihat penampilannya, selintas orang akan menganggapnya sebagai tentara atau polisi. Tapi tanpa kumis. Karena selalu saja ia cukur habis. Demikian juga brewok dan jenggotnya. Tak pernah bisa tumbuh dengan nyaman. Ia akan bersikap dingin menuntaskannya walau harus mengerjakannya setiap dua hari sekali. Begitulah sosok yang tersebar mengenainya.

Tidak ada yang tidak tahu Sarman. Tidak hanya para preman, ataupun aparat keamanan, semua pasti tahu, atau setidaknya pernah mendengar namanya di kota ini. Terlalu banyak kisah-kisah heroik mengenainya. Tersebar dari mulut ke mulut membuat orang ternganga. Menimbulkan kekaguman sekaligus melahirkan kengerian. Sarman orang sakti. Begitu kesimpulan dari banyak orang.

Sayang, setiap orang yang kutanya tentang keberadaannya, semuanya menjawab hanya dengan gelengan kepala. Ketika kutanya, apakah bisa mengenali sosok Sarman, sama juga jawabnya. Padahal aku sudah bertanya pada orang-orang yang dianggap preman di terminal dan pasar, juga lokalisasi-lokalisasi tak resmi. Juga kepada beberapa aparat keamanan yang sangat berpengalaman dan mengarungi dunia malam yang penuh kegelapan. Jadi, Sarman hidup dalam mitos di kepala orang-orang. Termasuk juga di kepala anak-anak yang baru tumbuh remaja dan mencari jati diri dalam berbagai kelompok gank remaja. Semua tahu Sarman, tapi semua tidak tahu Sarman. Begitulah kesimpulan sementaraku.

Atau aku yang salah? Salah dalam menyisiri ruang-ruang dan menemui orang-orang atau juga salah dalam mengajukan pertanyaan? Ya, hampir dua minggu ini aku menyusuri banyak ruang-ruang tersembunyi, yang hadir dan dapat dirasakan tapi tak semua bisa melihatnya. Ruang-ruang kegelapan yang gemerlap dengan kehidupan nyata ketika setiap hari dinyatakan sebagai pesta walau esok harinya bisa terlupa atau menyesali berpindahnya isi dompet tanpa kendali.

Ya, ruang-ruang itulah. Dari cafe kelas menengah atas hingga kelas pinggiran jalan. Dari ruang karaoke mewah hingga ruang karaoke di ruang tamu lokalisasi. Dari ruang ber-ac yang tetap tak mampu menahan laju keringat hingga ac alam dari jendela yang terbuka. Aroma minuman keras dengan beragam merk-nya atau tanpa merk yang selalu menyeruak. Orang-orang yang menggila dalam goyangan tubuh entah apapun musiknya, tapi kecenderungan goyangnya tetap goyang dangdut, goyangan sensual para perempuan yang terus menggoda para tamunya dari atas panggung memancing saweran. Beruntung bila ada tamu yang naik ke atas panggung, maka jutaan rupiah akan melayang buat tips, dan goyang bersama. Atau para pemandu yang terus lihai mengajak bicara para tamu sambil terus menuangkan minuman sehingga gelas terlihat selalu penuh sedangkan berbotol-botol telah mengering.

Semua tahu Sarman, tapi tak tahu siapa Sarman. Begitulah kenyataannya. Aku mencoba untuk menanyakannya pada si Mbah maha tahu: Google,  tentang tokoh misterius ini. Beberapa tulisan memang kudapatkan namun tidak ada fakta yang tersampaikan. Seluruhnya masih konon dan katanya. Juga tak ada gambar-gambar mengenai dirinya.

Bagaimana mungkin orang yang sangat dikenal dan menjadi mitos di kota ini, tiba-tiba saja menghilang tak berbekas tanpa ada yang tahu jejaknya. Bagaimana dengan kawan-kawan seangkatannya? Ah, mereka juga hanya menggeleng.

Sarman, tokoh preman yang muncul pada tahun 70-an. Seorang pemuda nekat yang tidak mengenal rasa takut terhadap siapapun, termasuk para senior-seniornya. Tapi ada catatan, ia tidak haus kekuasaan untuk melakukan penaklukan-penaklukan demi menguasai wilayah. Ia hanya akan beraksi bilamana ada yang mendahului atau melukai kawan-kawannya. ”Saya tidak mencari musuh, tapi tidak segan-segan menghabisi orang yang memusuhi saya,” demikian seorang mantan tokoh preman seangkatannya yang kini lebih aktif pada kegiatan-kegiatan keagamaan menyampaikan padaku.

”Sarman adalah orang yang berpendirian. Tidak rakus, tidak haus kekuasaan, tidak mudah dikelabui, tidak mau juga dijadikan permainan alat kekuasaan. Walaupun kelompoknya tidak banyak, tapi orang akan gentar, karena mereka nekat, dan juga sakti,” tokoh itu menambahkan.

”Waktu tahun 83 dulu, katanya sekujur tubuhnya sudah penuh dengan lubang peluru. Tapi ia masih bisa menyerang balik, mematahkan tangan beberapa orang penculiknya, lalu berhasil melarikan diri,” seorang tokoh tua lain, yang sekarang sering nongkrong di tempat permainan catur di pinggiran jalan dekat penjual minuman ”jamu” yang memabukkan mengatakan demikian padaku.

Ah, siapa sih Sarman? Kalau waktu awal kemunculannya masih belum genap 20 tahun, maka saat ini, umurnya paling tua 60 tahun. Atau ia memang telah menjadi korban pembasmian preman di tahun 83 itu? Bukankah sejak peristiwa penembakan misterius, tidak ada lagi kabar beritanya. Hanya berhenti ada ia bisa melarikan diri setelah mematahkan para penculiknya?

Ya, mungkin saja Sarman memang sudah tewas. Siapa mampu menahan rasa sakit dari hujanan puluh peluru di tubuhnya. Pastilah ia kehabisan darah. Dimakamkan diam-diam entah oleh siapa. Namun tidak terkabarkan. Sehingga tidak terlacak sebagai sosok yang ditemukan di pinggiran jalan.

Ah, pikiranku jadi menari-nari di kepala. Aku sungguh merasakan penasaran tentang dirinya. Sosok atau profilnya pasti bisa memperkaya penelitianku tentang dunia preman di kota ini.

Sambil menyeruput kopi panas di sebuah angkringan dekat stasiun kelas ekonomi, kami semua dikejutkan oleh hiruk-pikuk dua kelompok yang tengah berkelahi dengan senjata tajam. Mereka saling membacok, bergerak mendekat ke arah warung angkringan ini. Kami, para pembeli, semua sudah berdiri, bergerak mundur, berhenti, bersiap mencari tempat berdiri yang aman. Satu orang terjatuh, di ujung lincak, yang menyebabkan lincak itu naik ke atas.

Tiba-tiba seseorang maju, memegang pergelangan tangan sosok yang akan menghujamkan orang yang terjatuh itu dengan senjata tajamnya.

”Eh, kalau ribu jangan di sini, pindah tempat lain,” teriak sosok itu sambil menghantamkan pukulan yang kurasa tidak keras, tapi membuat orang itu terjengkang. Kawan-kawannya menghambur, menghujamkan senjatanya ke tubuh sosok itu. Dengan tenang, ia menangkis dengan tangan kosong. Tanpa luka, mengambil alih senjata tajam, dan membengkokkannya. ”Sana hayo, pergi, semua!”

Aku melongo. Sosok itu adalah penjual angkringan. Kulihat sosoknya, persis seperti gambaran tentang Sarman. Walau sudah menua, tapi ia masih kelihatan gagah. Lihat saja, tubuhnya tidak mengeluarkan darah, tangannya juga tidak, padahal jelas terhantam senjata tajam itu. Orang-orang yang berkelahi, lalu berlarian menjauh.

”Hm, tadi apa? Kopi susu ya?” katanya dengan nada tenang kepada pembeli yang baru datang yang tampak wajahnya memucat.

Kuperhatikan wajahnya, ada codet melintang dari keningnya. Sarman? Aku bersorak. Pasti dia. Tapi…..

Yogyakarta, 28 Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: