Tinggalkan komentar

Cerpen: Ia yang Terus Berlari

IA YANG TERUS BERLARI
Cerpen:  Odi Shalahuddin

Ia terus saja berlari. Orang-orang mengernyitkan kening. Terutama pada waktu-waktu yang ganjil. Di tengah siang hari bolong ketika matahari tengah ganas menghujam bumi. Atau pada tengah malam atau pada pagi buta. Ya, pada waktu-waktu yang tidak lazim berolahraga.

Nasib memang tidak selalu baik. Beberapa kali, ia dikejarmassalantaran ketika berlari di tengah malam dianggap tengah melarikan diri setelah melakukan kejahatan. Dikejar anjing, wah, kalau itu tak pernah terhitung lagi. Tapi ia tidak pernah kapok. Terus saja berlari. Berlari hingga kini.

Saya kira, wargakotaakhirnya hafal juga tentang sosoknya. “Sang pelari” begitulah julukannya kini. Siapa nama dan asalnya tidak ada yang mengetahui. Ketika ditanya ia hanya tersenyum saja, tentu saja dengan berlari. Ketika rasa lapar atau haus menyapa, ia akan singgah di warung-warung pinggir jalan, tetap berlari. Berlari di tempat. ”Saya tidak boleh berhenti berlari. Bila berhenti berarti saya jadi orang kalah,” demikian pernah ia katakan saat ada orang bertanya.

Bertaruh dengan siapa dan untuk apa? Entahlah. Ia tidak akan melanjutkan kata-katanya walau kita setengah memaksa mencoba bertanya.

Saya sendiri yang awalnya tidak peduli. Kisah yang semula saya anggap sebagai gosip murahan, telah menarik perhatian ketika pada dini hari, di tengah hujan lebat, dan saya menggigil di atas motor dari rumah seorang  kawan, tengah bergegas untuk segera sampai di rumah. Di saat itulah saya melihat orang tengah berlari. Saya pikir ia tengah berjuang melepaskan diri dari hujan lebat agar sampai tujuan. Saya memelankan motor dan menawarinya untuk mengantarkan dirinya.

Ia hanya tersenyum. Tawaran berikutnya saya sampaikan.

”Biar, Pak. Biarkan saja saya berlari,”

”Tapi anda bisa sakit,”

”Ah, selama ini saya tidak pernah mengalami sakit?”

Wah, sombong sekali orang ini, pikirku. Tawaran ketiga saya lontarkan lagi.

”Terima kasih, Pak. Terima kasih. Tapi saya memang memilih untuk berlari,” katanya tanpa menghentikan larinya.

Saat itulah saya baru tersadar tentang kisah ”Sang Pelari”. Oh, inikah orang yang dimaksud. Seseorang yang masih terlihat muda. Wajahnya tak menunjukkan kelelahan. Bahkan cerah. Segar. Usianya kukira belum genaplah 30 tahun.

Akhirnya aku mengalah, berpamitan yang disambut senyumnya. Melaju menuju rumah yang masih jauh.

Ketika kuceritakan pengalamanku bertemu ”Sang Pelari” dengan semangat, istriku hanya tersenyum saja. Membuatku sedikit jengkel.

”Lha, kita kan ceritanya sudah lama. Mas saja yang Cuma tertawa menganggap itu Cuma gosip murahan,”

Eh, he… Tersipu diriku. Benar juga sih. Lantas kenapa, orang itu, lelaki muda itu berlari terus sepanjang hidupnya? Ah, banyak pertanyaan di kepalaku. Semoga saja aku memiliki kesempatan untuk bertemu dengan dirinya, dan aku akan berusaha menanyakan kepadanya. Ya, aku akan mencarinya besok di setiap penggal jalan kota ini.

Bila aku berhasil bertemu dengannya dan bisa melakukan wawancara dengannya, tenanglah, aku akan menuliskan dan berbagi kepadamu tentang kisahnya.

Semarang 21.03.11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: