Tinggalkan komentar

Cerpen: Biarkan Aku Menikmati Mimpi

BIARKAN AKU MENIKMATI MIMPI
Cerpen:  Odi Shalahuddin

Di luar dugaan. Tanpa pernah aku bayangkan sebelumnya. Tiba-tiba saja aku mendapatkan anugrah bisa menciptakan mimpi. Aku mampu menghadirkan apa yang ingin dihadirkan, mengendalikan sepenuhnya, dan menyisihkan hal yang tidak aku sukai, membangkitkan apa-apa yang kumau.

Betapa rasa kekuasaan meraja. Sungguh, ini merupakan anugrah dari Yang Maha Kuasa terhadap orang semacam diriku, yang dalam hidup nyata bagaikan berada dalam kubangan sungai-sungai yang telah menghitam dengan tumpukan sampah yang tergenang, dan bersembunyi mayat-mayat di dalamnya terikat dengan karung-karung dan beberapa diantaranya mengambang.

Tidak perlulah engkau bayangkan. Sungguh tidak enak menjadi orang sepertiku. Hidup di suatu negeri, yang kukira tidak kalah suburnya dengan Indonesia. Kekayaan alam-nya pun konon juga tak kalah hebat dengan Indonesia. Sekali lagi tak kalah. Negeri kami adalah negeri kaya raya. Hanya… hi..hi..hi.. banyak rakyatnya yang menderita. Tapi tak mengapa. Karena kami selalu bisa berkata bahwa negeri kami adalah negeri kaya raya.

Nah, soal ini selayaknya aku bertanya padamu. Sebab aku tidak tahu apakah nasibku sama dengan orang-orang Indonesia. Di sini, di negeri kami, tanah tergusur, hingga kami harus pergi dari desa, dari tanah kelahiran. Aku rasa bukan persoalan sebab kami bukan anti pembangunan. Apalagi lahan digunakan untuk kepentingan para penjaga keamanan negeri ini. Tentu akan kami relakan sepenuh hati. Hanya saja, kami berhak mendapatkan lahan pengganti, agar kami bisa melangsungkan kehidupan dari tanah yang akan terolah menjadi ladang-ladang pertanian. Ladang-ladang yang tidak sekedar menghidupi orang-orang macam diriku, tetapi juga bagi dirimu, yang kuyakin tak pernah terbersit di dalam kepalamu tentang wajah-wajah kami ketika engkau menikmati santapan di Rumah, di warung, atau bahkan di restaurant-restaurant terbaik negeri ini. Bukankah adil, bila orang sepertiku tetap hidup dan jutaan orang lain juga tetap bisa hidup? Masalahnya, kami tergusur begitu saja. Lahan milik keturunan dari eyang-eyang kami, terambil alih begitu saja. Kami diusir pergi.

Mana tahan? Engkaupun pasti tahu bahwa cacing-pun menggeliat bila terinjak. Apalagi orang sepertiku yang sangat tergantung dari tanah ini untuk hidup dan melangsungkan kehidupan. Tak mengherankan, tanpa provokasi dari pihak mana-pun, kami mencoba bertahan. Mendirikan tenda-tenda dan saling berjaga. Berjaga dari segala kemungkinan yang akan terjadi. Lantaran tindakan seperti itu, ini  disebut sebagai perlawanan.

Lha, kami menjadi bingung. Bagaimana disebut perlawanan? Kami hanya tetap ingin menjaga lahan yang sesungguhnya memang menjadi hak kami. Justru sebaliknya. Kami bersiap menjaga tanah leluhur dari penjajah. Itu kalimat kasarnya. Walau sekali lagi harus ditegaskan, kami adalah orang-orang santun, yang tetap menjunjung tinggi kehormatan seseorang, apalagi bagi korps yang menjadi pejuang bagi kami untuk mempertahankan negeri ini. Yakinlah. Tidak ada niatan apa-apa. Kecuali ada lahan pengganti. Atau janganlah mengusir orang-orang sepertiku dengan cara liar seenaknya saja, seakan kami adalah rerumputan kering yang siap dibakar.

Pada dini hari. Di tengah kantuk orang yang berjaga-jaga terasa tak tertahan. Menyaksikan orang-orang terlelap kelelahan. Orang-orang itu datang dengan beringas. Menghancurkan tenda-tenda. Tidakkah mereka bayangkan bagaimana bila kedua orangtua mereka, anak-anak dan istri yang tengah terlelap, terganggu sedemikian rupa? Ok, lah, bisa dikatakan itu adalah perintah komandan. Tapi sejauh mana sejarahnya seorang komandan di negeri ini pernah bertanggung jawab atas suatu peristiwa yang dinilai kesalahan prosedur? Hanya kroco-kroco lagi yang bisa dikorbankan. Ah, begitulah.

Ketika kayu-kayu dan senjata seadanya terpegang. Sungguh, kami bukan melawan. Tapi kami bertahan. Letusan menyalak di tengah kegelapan membuat keributan, tangis anak-anak dan jeritan para perempuan, serta erangan yang tak tahu miliki siapa.

Sejak itulah terpecah. Orang-orang banyak berlarian masuk ke hutan. Beberapa lama. Sampai ada keberanian untuk keluar secara diam-diam, menyelusup masuk ke kota. Ah, sial. Kabar tersebar, kami dianggap orang-orang sesat yang tengah mempersiapkan makar. Berada di tengah hutan, mempersiapkan barisan. Ah, kemana harus melangkah untuk kabarkan sebenarnya?

Sayang aku dan orang-orang sepertiku dari desa yang sama, tidak saling tahu. Bukan kami bodoh, tapi sungguh kami tidak tahu. Selama ini, bila ada persoalan, yang kami tahu, bisa diselesaikan di sebuah rumah adat di desa kami. Di sanalah kami berkumpul. Membahas berbagai persoalan dan perselisihan. Kabar dari luar, hanya kisah-kisah yang kami dengar tentang negeri kami. Negeri yang kaya raya ini.

Aku sendiri, akhirnya berpencar sendiri-sendiri, ketika memasuki kota. Rasa lapar mendera, tak tahu harus bagaimana, mengisi perut yang bernyanyi-nyanyi. Apapun yang bisa dilakukan, setelah melakukan pengamatan, kami lakukan. Mengais sisa makanan di tong-tong sampah. Menjijikkan. Tapi harus dilakukan. Demi perut. Demi kehidupan.

Begitulah. Entah sudah tahun ke berapakah? Sejarah kami memang telah hilang. Kami pun hanya dipusingkan untuk bisa bertahan. Dari remah-remah yang tersebar di pinggiran. Mengembangkan segala kreativitas. Membangun tempat-tempat peristirahatan menggunakan bangunan di bawah jembatan yang tersekat dengan batas-batas dari bahan bekas yang dihimpun dari tempat-tempat pembuangan sampah.

Nah, tidaklah berlebihan, bila kukata, ketika tiba-tiba hadir kemampuan untuk membangun dan mengendalikan mimpi, merupakan anugrah terbesar dari sang kuasa dalam kehidupanku sebagai manusia.

Tapi tenang sajalah. Aku tidak akan meliarkan mimpi-mimpi yang akan dihadirkan untuk membalas dendam. Tentang kegagahan kami bangkit melakukan penyerangan. Dengan senyum dan terbahak menembakkan peluru melepas jiwa-jiwa dari raganya. Bukan itu.

Kami hanya akan membangun mimpi-mimpi indah. Tentang kehidupan suatu masyarakat yang saling menjaga. Ketika tangis menjadi sirna dan wajah semua orang ceria. Bukan lantaran terbangunnya gedung-gedung tinggi dan plaza-plaza yang bertebaran dan menciptakan siang di kala malam dengan jutaan watt lampu-lampu di segenap ruang. Bukan itu. Sama sekali bukan.

Kami akan bangkitkan bintang-bintang, dengan rembulan yang terus menghiasai angkasa dengan awan-awan yang bergerak menciptakan berjuta wajah yang bisa bikin kita tersenyum dan jiwa menjadi tenang dan damai.

Ya, begitulah. Tapi kukatakan, aku belum memanfaatkan anugrah ini. Masih saja berpikir akan bermula dari mana. Di sini, di bawah jembatan, di atas air sungai yang menghitam. Kakiku mengayun, dengan pantat melekat pada beton. Harapku. Jangan ganggu aku dulu. Biarkan aku bermimpi…….

Yogyakarta, 11 Mei 2011 (menjelang pergantian hari)

HL_130721_Kompasiana_Cerpen_Biarkan Aku Menikmati Mimpi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: