Tinggalkan komentar

Mencari Hati

MENCARI HATI
Cerpen: Odi Shalahuddin

Terbangun dari tidur, Ray terkejut, hatinya hilang. Ia mengingat-ingat peristiwa sebelum tidur.

“Ah, tak ada yang istimewa,” desisnya.

Semalam, seperti biasanya, ia masih berada di tengah pesta. Ia larutkan diri dalam alunan musik yang menghentak, di rumah seorang mantan artis yang dulu sangat terkenal. Banyak para selebritis di sini yang kerap muncul di media massa. Semua berjingkrak. Semua bergembira atau setidak-tidaknya berpura-pura gembira. Menaburkan berjuta senyum. Walau ada beberapa pasang yang mencari tempat mojok sendiri, di halaman, di balkon, atau mungkin menyelinap di kamar-kamar.

Ray benar-benar menikmati. Untuk kesekian kali, ia mengalami keberhasilan mempertemukan orang yang berkepentingan. Tadi ia berhasil mempertemukan seorang pengusaha dari suatu propinsi dengan seorang anggota DPR, yang kemudian mengambil ruang sendiri. Apa yang dibicarakan, bukanlah urusannya.

“Aku hanya pembantu. Membantu orang-orang yang butuh. Bukankah membantu orang itu baik?” demikian  jawabnya ketika ditanya oleh seorang kawan tentang pekerjaannya.

Hinggap dari satu pesta ke pesta lainnya. Ini bukan hal mewah bagi Ray. ”Ini tuntutan pekerjaan,” katanya memberikan alasan.

Memang. Dari pesta ke pesta, ia berhasil membangun hubungan baik dengan berbagai orang penting di negeri ini. Tidak ada masing-masing yang merasa dirugikan. Semuanya untung. Termasuk dirinya.

“Wah, kalau begitu dirimu termasuk jaringan mafia kasus, tuch,” seorang kawannya mengkritik.

“Oh, tidak. Saya hanya pembantu. Mempertemukan orang-orang yang butuh,” katanya memberikan alasan yang sama. “Saya tidak terlibat dalam pembicaraan. Mereka yang berkepentingan. Saya hanya mempertemukan,”

Jasa mempertemukan, imbalan yang diterima memang dirasa memadai. Tidaklah kekurangan untuk hidup di Ibukota secara layak.

“Tapi kemana hatiku?” Ray bertanya sambil memandang dirinya dalam cermin. Tidak ada yang berubah dalam dirinya. Semuanya terlihat seperti hari-hari sebelumnya. Memang, hanya Ray yang bisa merasakan, ada yang hilang di dalam tubuh itu. Hatinya.

”Hati itu harus dijaga. Harus hati-hati biar tidak kehilangan hati,” seorang sahabatnya pernah memberikan nasehat kepadanya.

Kala itu Ray hanya menanggapi sambil tertawa. ”Hati kok bisa hilang,”

Tapi kini, memang benar, hatinya benar-benar hilang. Kemana? Ray masih saja bertanya-tanya dan masih mencoba mengingat peristiwa semalam. Apakah dirimu tahu, di mana hati Ray?

Yogya, 10 Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: