Tinggalkan komentar

Hanya Bayangan

HANYA BAYANGAN
Cerpen  Odi Shalahuddin

Berkelebat sesosok bayang tertangkap mata Ri. Ri segera menoleh ke arah ruang tak berpintu. Hanya buffet sebagai pembatas antar ruang. Ruang tengah. Tak terlihat sosok apapun. Hanya kursi sofa berwarna biru. Berhadapan dengan tempat ia duduk. Pintu-pintu kamar yang tetap membeku. Lampu yang menggantung, memancarkan terang. ”Ah, hanya bayangan dalam kepala saja yang membangun ilusi” hibur hati Ri.

Ri berada dalam ruang tamu. Sendiri. Pintu sengaja dibuat setengah terbuka. Ia tersipu, tanpa sadar itu sebagai pertanda siaga atau justru ekspresi rasa takut. Bila terjadi apa-apa, akan memudahkannya berlari keluar.

Lha, apa yang ditakutkan di dalam rumah? Bukankah lebih berbahaya, bila pintu setengah terbuka, dan ada orang-orang berniat jahat menyantroninya? Ih, ngeri Ri membayangkannya.

Sekali lagi, Ri segera menoleh. Ia masih merasa ada bayang berkelebat di ruang tengah. Melintas dari pintu kamar yang tertutup ke pintu kamar di seberangnya. Ya, ada empat kamar yang dekat ruang tengah. Satu di sebelah utara, satu di sebelah timur yang berjajar dengan kamar mandi, dan dua kamar berjejer di sebelah barat. Tapi tetap sama. Tak ada tampak sosok apapun.

Ri menenangkan diri dnegan jalan berusaha keras mengatur setiap helaan nafasnya.  Ri juga berusaha menenggelamkan diri dalam lembaran-lembaran majalah terbaru. Tanpa sadar ia hanya membalik-balik saja, tanpa bisa melarutkan diri dalam kata-kata dan gambar-gambar yang ada. Jelas Ri terlihat resah. Sesekali ia menoleh ke luar ketika mendengar suara mesin kendaraan. Tapi tak ada yang berhenti. Melintas saja. Kembali sepi.

”Ah,” desah Ri.

Angin keras dari luar melewati pintu, menyibakkan lembaran-lembaran majalah, membuatnya terkejut. Dingin menyapa tubuhnya. Suara gemericik air yang keras, tumpah dari langit secara tiba-tiba. Angin kembali masuk, menghantam daun pintu hingga terbuka penuh dan mengeluarkan suara keras juga menubruk dirinya. Petir bersahutan, kadang keras dan berkepanjangan hingga suara menjauh.

Ri merasa tegang.  Setengah menyesali keputusannya tadi. Bagaimana bila lampu tiba-tiba padam? Hm, ia mencoba mengingat-ingat, dimana biasa lilin tersimpan. Apakah bersama korek api?

Ia berdiri, memegang daun pintu. Ingin menutup penuh, tapi keraguan hinggap. Pikirannya berkecamuk. Ah, kenapa tadi ia memutuskan tinggal di rumah? Sendiri. Kelebatan bayang bersinar tertangkap dalam pandang. Ah, itu hanya bayangan dari petir, hiburan diri.

“Rumahmu itu angker loh, Ri. Dulu banyak orang sering melihat ada sosok-sosok di rumah ini,”

Ampun… kok malah jadi teringat omongan Manda!

”Benar Ri. Kata Bang Ecep, pernah ada tukang sate lari tunggang-langgang ketika tengah melayani pembeli, tiba-tiba ia teringat bahwa rumahmu itu kosong tak berpenghuni” kata-kata Mina menimpali omongan Manda, terngiang.

Ri merasa bulu kuduknya berdiri. Kata orang, bila bulu kuduk berdiri? Ih….. Ri tak berani untuk melanjutkan bayangannnya.

Ia biarkan pintu terbuka penuh. Ia melangkahkan kaki keluar, berdiri di teras sambil memandang keluar. Air yang jatuh berbias tertimpa lampu jalanan. Terang, tapi sepi. ”Ayo, cepatlah pulang,” desis Ri.

Ri memaki-maki dirinya. Tiba-tiba saja ia ingin pipis. Ia menoleh ke dalam. Menimbang-nimbang. Menutup pintu, masuk kamar mandi, nanti kalau ada sesuatu? Ah.

Langit terpecah oleh cahaya petir. Keinginan pipis seakan tak terbendung. Ia berusaha menahannya. Jangan sampai tumpah di depan pintu. Jadinya kan ngompol. Ri memandang ruang tengah, kembali menimbang-nimbang. Sekelebat bayang seakan melintas.

Suara mobil, berhenti, ia menoleh, dan bersorak. Sesosok tubuh, turun, berhujan-hujan, membuka pintu gerbang. Mobil melaju masuk.

“Hebat, kamu Ri. Sudah berani di rumah sendirian. Tidak menyesal tidak ikut?” komentar Papanya yang sudah berada di teras, diikuti mama dan dua adiknya.

“Iya, anak mama sudah berani sendiri jaga rumah walau masih SMP. Hm, sudah jam sembilan malam. Ini mama bawakan roti kesukaanmu,”

Ri tidak menerima bungkusan tas plastik yang diulurkan mamanya. Ia langsung ngacir ke dalam.

”Lho, kenapa Ri?” teriak mamanya.

”Mau pipis….”

Yogya, 10.03.11

Ilustrasi gambar diambil dari SINI
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: