Tinggalkan komentar

Pertarungan Tanpa Pertaruhan

PERTARUNGAN TANPA PERTARUHAN
Odi Shalahuddin 

Lintasan-lintasan ide terasa tak pernah henti mengalir. Sungguh kurasakan sebagai satu karunia dari Tuhan yang sangat berharga. Biasanya, segera saja kutangkap. Kucerna, kuliarkan bersama imajinasi. Jatuh dalam pikir pula, mengundang banyak tanya, sehingga harus membuka lembaran pelajaran. Baik dari buku ataupun dari sang maha tahu: Mbah Google. Setelah itu dengan keterbatasan yang ada, menuangkan menjadi sebuah tulisan. Posting, berharap ada yang membaca dan memiliki manfaat. Itu tentunya akan membuat diriku sangat berbahagia.

Masih, masih lintasan itu terus hadir berkelebatan. Tapi entah, mengapa malas bagiku untuk melihat, menyapa, apalagi sampai menangkapnya. Malah, sekarang aku berusaha menepiskannya. Aku merasa malu. Biarkan ia lewat. Biarkan ia tidak mengganggu imajinasi dan pikiran yang hendak kurebahkan dulu. Biarkan, ia tidak mengganggu jemari. Biarlah ia beristirahat. Biarlah semuanya tertidur, larut dalam mimpi, bermain-main tanpa beban. Bebas. Merdeka. Hingga lelah. Hingga tertidur dan bermimpi lagi. Berlapis-lapis mimpi. Menembus batas waktu dan ruang.

Kelak kuyakin kembali hadir dengan pencerahan baru. Memberi makna bagi setiap kata yang tertuang, kalimat menjadi rangkaian penuh rasa dan imajinasi serta mampu menghadirkan kegelisahan dalam diri untuk bertanya, berpikir, dan merasa. Ah, ini tentu mimpi belaka. Mana bisa? Tapi bukankah harapan yang ditancapkan menjadi satu penyemangat bagi manusia untuk memaknai setiap jejak langkah kehidupan? Adanya harapan bisa menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Harapan, membuat manusia bisa membangun berjuta rencana dan berusaha mewujudkannya. Tanpa harapan? Sama saja kematian dalam kehidupan. Beku dalam pergerakan yang sekarang ini sudah luar biasa kencang putarannya.

Ah, tapi mengapa saja aku masih mengingkari apa yang telah terucap dan terjatuhkan? Masih saja aku memaksa jemari untuk membangkitkan pikiran dan perasaan agar bisa mengalirkan darah yang akan menggerakkan jemari memainkan tuts-tuts keyboard laptop butut ini. Menjadi kalimat-kalimat. Menjadi sebuah tulisan. Tapi, mengapa harus?

Sungguh aku tidak mengerti dengan kekontrasan di dalam diri sendiri, dengan segala perlengkapannya. Apa yang dicari sebenarnya? Jujur sajalah. Untuk hal ini-pun masih malu-malu kucing aku menjawabnya. Ah, sudahlah.

Yogyakarta, 18 Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: