Tinggalkan komentar

Menjaga Fasilitas Publik

MENJAGA FASILITAS PUBLIK
Oleh: Odi Shalahuddin

Membaca tulisan Mbak yayat tentang hadirnya Kopaja AC di Jakarta, saya ucapkan selamat kepada para warga Jakarta tentang kehadiran angkutan umum yang diharapkan nyaman, tapi sayang saya tidak berkesempatan menikmatinya tiap hari, kecuali kelak ada keperluan di Jakarta..

Menggelitik pernyataan yang dikemukakan Mbak Yayat “…Yang penting lagi adalah adanya disiplin dari para penggunanya. Bukan hal yang aneh bahwa segala fasilitas umum yang awalnya bagus jadi rusak karena “ramahnya” tangan para warga…..”

Nah, pernyataan ini dalam konteks kehidupan kita, bukanlah suatu harapan yang lucu. Sebab, kita tahu pula, kita memang memiliki tangan gatal, pikiran yang nakal, dan lahirlah tindakan Bengal: merusak. Seakan ada kepuasan tersendiri.

Coba saja kita lihat fasilitas WC umum di terminal-terminal, stasiun, pasar, yang membuat kita seringkali menjadi jijik. Berbagai tulisan dengan nada-nada kotor banyak menghiasi dindingnya. Lalu kita lihat pagar-pagar pembatas jalan. Pastilah ada beberapa yang besinya dirusak, sehingga cukuplah bagi orang untuk menerobos. Demikian pula dengan pagar tamankota. Belum lagi dinding-dinding yang dicoret-coret yang sangat mudah kita jumpai di mana-mana.

Ketika KRL Jabotabek dengan fasilitas baru yang lebih nyaman, tidak beberapa lama, kursi-kursi sudah pada rusak. Tali untuk berpegangan-pun banyak yang menghilang. Dirimu pasti ingat telpon-telpon umum yang dulu banyak tersedia, tempatnya penuh coretan, dan seringkali gagang telponnya juga sudah lenyap. Dirimu juga mungkin pernah jengkel ketika memasuki sebuah gedung bioskop yang baru didirikan, tapi kursi-kursinya sudah robek dengan gabus yang tersayat-sayat dan banyak yang berkurang.

Ah, mengapa ya, kita punya kecenderungan merusak fasilitas publik. Merusak fasilitas yang tidak hanya kita gunakan tapi digunakan oleh banyak orang. Atas nama kepentingan apakah?

Saya khawatir, kecenderungan seperti inilah yang pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan yang tidak menghargai kepentingan banyak orang. Ini tercermin misalnya, betapa para pejabat sangat mudah melakukan korupsi, yang notabene menggunakan uang Negara untuk kepentingan kesejahteraan rakyat banyak, menjadi hanya termanfaatkan oleh diri sendiri ataupun oleh kelompoknya saja.

Bila itu benar, maka saya kira mulai sekarang kita mengekang diri dan mengajarkan kepada anak-anak kita betapa merusak fasilitas publik adalah sebuah kejahatan serius dengan ancaman hukuman yang cukup berat.  Tapi, apakah sudah ada pengaturan hukum demikian?

Yuk jaga fasilitas publik, sehingga ketika kita menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan juga terbiasa untuk menjaga kepentingan orang banyak.

Tulisan iseng lagi ketika tiba di yogyakarta, 3 Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: