Tinggalkan komentar

Maaf, bila aku tidak menghargaimu

MAAF, BILA AKU TIDAK MENGHARGAIMU
Odi Shalahuddin 

Tentu, bila kata-kata yang tertoreh yang kau bangun sendiri menjadi nilai, kau berangus begitu saja, atas alasan apapun, sedang telah terang benderang terbuka, maka layakkah aku menghargai dirimu?

Kekuasaan bisa menjebak. Alasan dan pembenaran bisa melayang dan membutakan orang-orang yang hendak menuju langit, lalu panjatkan doa-doa keselamatan serta tepuk tangan meriah atasmu, pun kau telah bersimpang jalan. Maaf, aku sama sekali tidak peduli dengan itu.  Atas nama harga diri dan atas nama menjaga kewibawaan. Terserah bila engkau hendak membangunnya.

Kita sadar, sama-sama frustasi tentang berbagai mimpi yang tertoreh dalam tulisan yang menyimpan duka perjuangan jutaan jiwa yang berdarah dan hilangnya nyawa, namun menjadi kata beku tanpa makna, sedang kaki tangan yang bekerja, wajah mendongak, dengan mulut tertawa, dan mata memejam berpidato atas nama suara-suara yang selama ini digelapkan.

Ah, sungguh aku tidak akan menghargaimu bermuka dua, bicara atas nama warga, sedang kau menikmati kekuasaan atasnya…

20 Juni 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: