Tinggalkan komentar

Hanya Mimpi dalam Mimpi

HANYA MIMPI DALAM MIMPI
Odi Shalahuddin

Aku bermimpi. Mimpiku berada di depan komputer. Akses internet sangat lancar. Kubuka beberapa jendela sekaligus. Sambil mendengarkan lagu-lagu yang lembut. Sampai membuatku tertidur. Lalu bermimpi.

Mimpiku dalam mimpi. Aku juga berada di depan komputer. Sambil menjelajah berbagai berita dalam negeri. Lagi asyik-asyiknya. Tiba-tiba listrik mati. Kurang ajar PLN. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Mati tiba-tiba.

Beruntung. Cuma sebentar. Listrik telah kembali menyala. Segera pencet power. Program berjalan. Sambil menghisap rokok, menunggu program siap diperintah. Segera saja, membuka berbagai jendela. Kudapati sesuatu yang sangat berbeda.

Pada mimpiku dalam mimpi, aku mengucek-ngucek mata. Mencubit tangan sendiri meyakinkan bukan mimpi. Membuka berbagai situs media. Sama saja. Semua sudah berubah.

Gila! Gara-gara listrik padam sejenak, dunia maya berubah total. Betapa cepat berubah. Siapa gerangan yang memiliki kekuatan maha dahsyat sehingga mampu membuat sikap media menjadi seragam?

Ah, jangan-jangan listrik padam tadi bagian dari sabotase untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Pastilah rancangan dari suatu perencanaan yang tidak lahir tiba-tiba.

Sungguh. Berita seragam dalam tema, namun kaya dalam makna. Isu yang dibawa, memang tidak berubah. Tapi para narasumbernya? Nah, itulah yang mengejutkan diriku.

Bicaralah para tukang becak tentang arah negara. Bicaralah para petani tentang perubahan industri. Bicaralah para buruh tentang hubungan luar negeri. Bicaralah para pedagang pasar tentang korupsi. Bicaralah para anak jalanan tentang kesejahteraan. Semuanya menjadi headline di berbagai media online. Oh, ya para pengamat dan politisi masih memiliki ruang bicara, pada kolom kecil di pojokan.

Tidak ada kisah-kisah rakyat yang dieksploitasi penderitaannya, tapi dieksplorasi aspirasinya. Kebalikan yang hadir. Wah, luar biasa. Benar-benar maha kuasa yang mampu melakukan perubahan radikal dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Sayang, ketika membaca, kakiku tersenggol kabel. Aliran listrik menyengat, mengagetkan diriku. Sehingga terbangun dari mimpi. Jadi dalam mimpiku aku terbangun. Belum sadar benar, sebuah tepukan di bahu membangunkan diriku. ”Ayo pindah kamar,” istriku dengan senyum manisnya, membangunkan dan menghilangkan mimpiku. Wah, ini pastilah nyata. Jadi bergegas tanpa diminta dua kali. Masuk kamar.

Yogya, 27 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: