Tinggalkan komentar

Catatan Pagi hari Ketika Matahari Sudah Mulai Meninggi

CATATAN PAGI HARI KETIKA MATAHARI SUDAH MULAI MENINGGI
Odi Shalahuddin

tak biasanya, dalam kegelapan telah terbangun, tapi kali ini, badan terasa tak bersahabat, sehingga mata masih saja terpejam saat harusnya telah terbuka menurut diri sendiri. anak-anak telah rapi dengan seragam sekolahnya. ”ai..ai.. ya, mereka mulai ujian hari ini,” tenang saja, tak usah tegang, jangan toleh kanan-kiri atau ke belakang, yakin saja dengan kemampuan. apapun hasilnya, itulah terlahir dari usahamu, anak-anakku. tapi kuingin, engkau menjadi anak yang cerdas, tak hanya pintar.

ini musim penghujan. tapi beberapa hari panas luar biasa. mengenakan pakaian dalam-pun tetap terasa gerah. seperti halnya  penjahat berkerah, tertangkap endusan kpk masih saja bisa bersilat lidah, tak mau menyerah. hidup adalah permainan kata-kata sambil menyembunyikan kebenaran dan seringkali menyerang untuk menjadi pemenang. segenap ajaran di sekolah, terasa sirna semuanya. Segala peristiwa adalah berkebalikannya. kau anggap tidak terterima rasa dan logika. tapi itu adalah nyatanya.

hutan kehilangan pohon. danau rindu air. lahan persawahan berganti rupa menjadi perumahan-perumahan mewah atau pabrik-pabrik. gorong-gorong penuh dengan sampah dan berkeliaran tikus-tikus dan kecoa. nyiur melambai di tepi pantai, juga tinggal kenangan. bodohlah engkau yang bekerja dengan keringat. sekarang tinggal pencet-pencet tombol untuk cetak uang! tapi siapa, untuk apa dan mengapa?

oh, ya, kemarin ada pesta. dari dua raja. yogya dan jakarta. rakyat menyambut gembira, berada di jalan-jalan tempat kirab dilangsungkan. sambil berpesta dengan warung-warung angkringan rakyat. melambai-lambai, riang gembira. berebutan mengucap selamat, walau tak sampai pada sang empunya hajat. tapi satu pestanya lagi, terhidang dalam layar kaca, tak banyak pula orang melihatnya. gerundelan yang meraja. para penggemar buku dan penulis, tak mengucap selamat malah menggugat. belum lagi rakyat yang kehilangan pendapatan lantaran harus berlibur paksa.

berduka. bencana. jembatan runtuh. puluhan orang tewas dan hilang. belum genap sepuluh tahun. hai, harusnya terbuka mata, bila uang pembangunan digorok kanan-kiri, maka jutaan nyawa adalah taruhannya. terbayang atap-atap sekolah yang hendak runtuh. terbayang anak-anak yang menjalar kabel menyebrang sungai yang dalam dan deras. terbayang anak-anak yang hidup di jalanan dan kolong-kolong jembatan. di tengah kebanggaan gedung-gedung menjulang. tapi, ah, orang kaya-pun kehilangan akal. gaya hidup. berebut. orang-orang luka hanya uantuk mendapat diskon limapuluh persen. yang kita tahu, tak seberapa bagi kocek mereka. tapi itulah menunjukkan sejatinya cara berpikir bangsa kita yang telah terbuai kesadaran semu.

lah, kamu kenapa malah mencatat. mengoceh tak karuan. sana cari air, basuh muka biar segar, sehingga pikiran yang terlahir adalah kesenangan! Wah!

Yogyakarta, 30 November 2011
Odi Shalahuddin

_____________________

Terposting di Kompasiana, Klik di SINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: