Tinggalkan komentar

Ya, Masih Seperti Kemarin

MASIH SEPERTI KEMARIN
Cerpen Odi Shalahuddin

 

Percayalah. Sungguh. Benar. Sama sekali tiada  yang berubah. Matahari masih terbit dari Timur. Terbenam juga masih di ufuk Barat. Awan berjalan dan berlari, seringkali tak beraturan dalam bentuk dan perjalanan. Dipermainkan oleh angin dari segenap penjuru yang saling menunjukkan keperkasaan di langit. Beradu, kadang membuat berputar-putar.

Saat terik matahari. Awan terasa terhenti atau bergerak secara pelan. Tapi pastilah kuyakin mata kita tak kuat menahan lama menikmati pemandangannya. Secara tiba-tiba, pada masa sekarang ini. Di tengah terik, air bisa saja runtuh tiba-tiba. Pun demikian, ketika awan hitam mengkristal menghiasi langit. Kegelapan yang terasa menerkam. Malah panaslah yang dirasa. Bukankah begitu kemarin? 

Ya. Kemarin. Seperti kemarin. Seperti kemarinnya lagi. Dan Lagi.  Kekacauan memang telah menjadi  irama. Kenikmatan yang bisa saja terganggu. Saat tengah asyik bergosip di rumah tetangga. Hujan menderas di tengah sengat matahari yang menghujam. Berlari. Selamatkan jemuran setengah kering. Tak sampai hitungan menit. Air telah lenyap tanpa bekas. Sedang kita hanya bisa merasa dongkol mengiringi nafas tersengal.

Ya, seperti kemarin. Maklum pula kiranya. Ketidakteraturan yang teratur menjadi keteraturan sendiri. Menjadi biasa. Tidak lagi bingung. Tidak lagi resah. Tidak lagi jadi bahan cerita. Cuma harapan-harapan sesuai keinginan yang biasanya mengemuka. 

Ya. Seperti kemarin. Kemarin dulu. Kita juga pernah berdebar-debar. Pernah membelalakkan mata. Pernah terisak. Pernah marah. Pernah Jengkel. Pernah…

Segenap perasaan dihadirkan. Seringkali beragam rasa jadi satu. Ketika ruang-ruang pribadi dihadirkan. Disebar ke ruang-ruang publik. Dinikmati dalam ruang-ruang pribadi. Ya, kita pernah termehek-mehek. Menyaksikan berbagai kisah di layar televisi. Bercampur antara maya dan nyata. Kehidupan “seakan-akan”, tapi dongeng-dongeng tersembunyi adalah fakta. “Saat ini, semua bisa menjadi tontonan, bisa mengundang iklan, bisa pula mengundang hujatan, tapi acara tetap berjalan. Sekarang, apa-apa bisa dirubah sedikit. Menambah kata “bukan” sudah menjadi acara baru dalam kemasan atau format yang tak berbeda dengan sebelumnya. Itulah hidup jaman sekarang. Jangan sok belagu membawa masa lalu, yang memang situasinya terbatas. Sekarang kehidupan seakan tanpa batas, mengungkap borok secara terbuka, kadang memang dicipta, agar bisa menjadi iklan tanpa anggaran,” seorang kawan berceloteh. Kalau ditanggapi, pastilah akan panjang celotehannya memberikan beragam fakta dan argumentasinya.   

Tapi memang benar, tak terbantah. ya seperti dari kemarin dulu. Semangat  saling bisa berkisah. Sesama tetangga. Sesama teman sekerja. Tentang percekcokan pasangan selebritis. Sedang tetangga kita. Rekan sekerja kita. Sama-sama menonton pada ruang yang lain. Menghadirkan kisah sama. Aduh, seru nian pada saat itu. Mengalahkan suara bom dari dapur. Gas dalam tabung 3 kg. 

Kemarin dulu. Dulu sekali. Stasiun tv saja cuma satu. Punya pemerintah lagi. Akrab mata dan ingatan. Tentang para petani. Tentang indahnya desa. Tentang gedung-gedung menjulang. Tentang peresmian jalan-jalan tol. Tentang dibukanya pabrik-pabrik. Wah.. hati kita bersinar. Mata kita berbinar. Tatkala bicara tentang negeri. Makmur. Maju. Rakyatnya senang semua. 

Jadi seperti kemarin. Kemarinnya kemarin. Kemarin dulu. Dulu sekali. Sebenarnya tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Seperti matahari terbit di pagi hari. Malam ada bulan ditemani bintang-bintang. Tetap sama. Tidak ada yang berubah. Kepala kita. Tetap dijejali oleh televisi. Dulu cuma satu. Sekarang banyak Dulu waktu terbatas. Sekarang bisa 24 jam. Dulu acara monoton. Sekarang beragam. Dulu hanya saksikan para pejabat. Sekarang bisa saksikan penjahat. Jadi, tidak ada yang berubah bukan?

Sama. Seperti kemarin hidup kita. Kesadaran dipengaruhi layar kaca. Oh, ya ada tambahan memang. Ada komputer. Ada akses internet. Ada banyak situs. Tapi prinsipnya sama. Kita mendapat kabar. Dulu sedikit. Sekarang banyak. Itu saja bedanya. Kesadaran kita tetap sama. Dipengaruhi oleh mereka. 

Masih seperti kemarin. Walau sekarang lebih dinamis. Lebih banyak yang bisa dikisahkan. Kita hafal ratusan pemain sinetron dan penyanyi. Walau luput nama-nama tetangga sekitar. Kita hafal artis-artis yang berulang tahun dengan beragam (rencana) pestanya. Tapi luput di jalan banyak yang belum makan. Kita canggih bicara tentang nama dan pemikiran para politisi. Tapi luput mendengar suara dari para petani dan buruh. Kita tahu janji-janji  akan selalu diingkari. Tapi tetap saja mau terus dikibuli. Sedang para tetangga dan orang-orang sekitar kita. Mulai muntah-muntah kebanyakan makan janji. 

Seperti kemarin. Kemarinnya lagi. Kemarin dulu. Dulu sekali. Masih mengoceh saja aku ini. Mengoceh tidak jelas. Mengoceh sambil jalan. Mengoceh menimpali kumpulan ibu-ibu yang tengah bergosip di warung sayur. Ah. Tapi konsisten. Sama. Sama. Seperti kemarin.  

Seperti kemarin pula. Ada teriakan-teriakan ”Gila..! Gila..! Awas, Orang gila..!” anak-anak yang saling mendorong kawannya. Kalau lagi iseng aku berlari. Seolah ingin menangkap satu-satu. Menjaga. Mencegat. Sampai ada anak menangis. Nah, kalau sudah begini. Seperti kemarin-kemarin pula. Pasti kaum ibu, ada yang keluar ikut-ikutan. ”Dasar Gila..!!! Ayo pergi sana..!”  

Seperti kemarin. Memang, tidak ada yang berubah bukan?  

Yogya.02.01.11.

Ilustrasi gambar dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: