Tinggalkan komentar

Tak Layak Aku Di Sini

TAK LAYAK AKU DI SINI
Cerpen Odi Shalahuddin


Pertemuan baru saja selesai. Di hotel bintang lima. Di pusat kota. Di Ibukota Jakarta. Peserta yang sedari tadi mengantuk. Menjadi segar kembali. Segera bergegas. Ke kamar masing-masing.

“Kita keluar. Nanti ditunggu di lobby. Gak perlu makan malam di sini,” seorang kawan setengah berbisik. Langsung ngacir keluar ruangan.

Masuk kamar. Tirai jendela terbuka. Senja memerah. Mendekat aku. Sungai yang kotor. Terlihat di bawah sana. Dengan puluhan rumah-rumah petak. Di bantarannya. Ah, bukankah para penghuni-penghuni itu, menjadi bahan pertemuan. Program pengentasan kemiskinan. Seluruh Indonesia Raya. Bukankah mereka bagian darinya?

Termenung aku. Mengamati orang-orang. Tampak kecil. Wajarlah. Aku di lantai 20. Tinggi sekali.

Jalan yang sibuk. Orang-orang lalu lalang. Anak-anak kecil bermain. Pada ruang yang sangat sempit.

Ah, kukira mereka tak akan tersentuh proyek pengentasan kemiskinan. Aku yakin. Mereka tinggal di pemukiman liar. Tanpa ada RT/RW. Tak terdata. Mereka ada. Tapi dianggap tiada.

Mengapa mereka bertahan di ibukota?

”Ah, pertanyaan bodoh itu. Bukankah 80% uang Indonesia ada di Jakarta,” seorang kawan menyela dalam perbincangan informal saat makan siang.

”Tapi, mereka juga tak bisa mendapatkannya,”

”Salah dirimu. Di Jakarta, semua bisa menjadi uang. Memulung sampah-pun bisa kaya. Atau membalut tubuhmu dengan pakaian kumal, di traffick light, bisa pula kau dapatkan uang.” kawan yang lain

”Tapi,”

”Ah, maksudmu sebaiknya mereka kembali ke desa? Mau dapat apa di desa? Lahan pertanian sudah berkurang. Pekerjaan susah. Benar mereka bila menyerbu Jakarta,”

”Loh!”

”Ssssst, kita bicara hanya di sini. Kalau di forum, bedalah. Apalagi kalau bicara dengan rakyat. Pasti tidak seperti ini. Tetaplah menghimbau mereka bertahan di desa. Kita kasih program ekonomi. Walau kita tahu pasti gagal. Lha, uangnya ke sunat.. Termasuk oleh kita-kita juga,”

Semua tertawa.

Termasuk aku kukira.

Senja makin memudar. Gelap mulai menggeser. Terang di kamar. Terang pula berbagai gedung menjulang. Jalan-jalan utama. Tapi di pinggir kali. Pandang tak begitu tampak lagi.

Suara HP berbunyi.

”Ayo, sudah ditunggu di lobby,”

Ah.

”Rame-rame. Mumpung malam terakhir. Kita nikmati Jakarta sepuasnya. Badrun, jago kita, penunjuk jalan yang mumpuni.’

Aku diam

“Halo.. Halo.. Ayo…”

“Eh…”

“Ayolah. Pak Kepala juga ikutan kok. Dia bilang, loby dengan pusat berhasil. Walau kau tahu sendiri, berapa prosen harus terbagi. Dia lagi senang. Pastilah malam ini kita ditraktirnya.”

Aku tak tahu harus menjawab apa. Malas sekali kurasa. Ada yang menggelinjang di dadaku. Sesak. Ruang kamar pun terasa mengasingkan diriku. Seharusnya, Aku tak layak disini. Demikian juga kawan-kawan kerjaku. Abdi Negara ? Ah…..

Yogyakarta. 19.01.11

____________________

Gambar diambil dari SINI

 
 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: