Tinggalkan komentar

Segenap Kenangan Menggumpal Yang Menggedor Dada, Sesakkan Rasa

SEGENAP KENANGAN MENGGUMPAL YANG MENGGEDOR DADA, SESAKKAN RASA
Cerpen Odi Shalahuddin 

Karya Yayak Iskra

 
kepada Engkau, para Sahabat, di mana-pun berada

Kusampaikan padamu, bergumpal kerinduan atas lintasan kenangan-kenangan masa lalu. Masa ketika kita benar-benar mensyukuri dan menikmati hidup ini, dalam keterbatasan, seringkali ketidakberdayaan, namun semangat menyala bagi harapan suatu perubahan. Perubahan bukan untuk kita, tetapi segenap manusia, khususnya yang kita nilai selalu terciderai, terpinggirkan, dan terhempas dari ruang hidup yang terus menyala dalam mesin-mesin yang tak henti bekerja siang-malam. Cengkramannya menggoyahkan jutaan tangan yang semakin melambai lunglai tak kuasa meraih sandaran, menunggu pasrah antrian yang akan terpelanting. Namun gelora menolak dikatakan sebagai pecundang.

Hari-hari kita lalui dengan berburu, mengedepankan bahwa semua orang adalah guru dan alam raya adalah sekolah tak terbatas ruang dan waktu. Mengais-ngais buku, dan pikiran orang-orang untuk mendapatkan sesuatu yang baru, obrolan-obrolan malam menyambut pagi yang selalu seru, guna menyegarkan dan mencerahkan hati dan pikir agar lebih maju.  Gairah yang tak pernah layu. Ah, tentu engkau tak akan melupakan itu?

Tentulah teringat saat kita menyapa berbagai sahabat dari satu pintu ke pintu yang lain, berjalan kaki, menikmati aura kota jogja yang selalu hidup dan menawarkan imajinasi yang teramat kaya. Bersatunya mitos-mitos dengan pengetahuan logika, yang hidup saling melengkapi dan berbagi pada ruang-ruang pinggiran jalan hingga ruang-ruang seminar di kampus-kampus dan hotel-hotel. Berlompatan : Imajinasi dan Fakta. Menjadi Fiksi, catatan kaki dan Opini. Tersebar dalam edaran terbitan bawah tanah yang berusaha gagah membangun gairah, tapi loyo dalam dana sehingga terbitan menjadi bulan-bulanan. Kita hanya tertawa menghadapi situasi yang terus berulang.

Kekonyolan-kekonyolan juga sering terjadi. Bagaimana kita berlomba, kencing di tengah jalan berupaya membangun bentuk, dan segera bergegas ke pinggir ketika kendaraan bermotor lewat. Seringkali saat air yang memancur belum tuntas. Kekonyolan pula ketika bertaruh pada hal-hal yang tidak mutu, tapi bisa sangat menantang. Berlomba siapa bisa menurunkan poster film di bilboard depan bioskop, siapa bisa mencuri rantai besar di depan kantor sebuah bank, siapa bisa lolos dari sergapan razia polisi tanpa terkena tilang ketika pelanggaran sengaja dilakukan. Ternyata, kita bisa. Diantara kita ada yang mampu melakukannya. Lalu uang taruhan untuk berpesta dihabiskan bersama. Hanya diantara kita saja. Ah…..

Keseriusan, kekonyolan, pastilah pula tak terlupa kegagahan sebagai kaum muda. Ilmu yang didapat bukan untuk sendiri, tapi untuk dibagi-bagi. Ilmu yang didapat bukan hanya ada di kepala dan tertuang dalam kata-kata saja, tetapi juga harus melekat dalam karya dan kerja.

Maka terbakarlah jiwa-jiwa muda kita atas ketidak-adilan yang meraja.Kekayaan yang tidak terbagi rata, terkuasai oleh para penguasa dan pengusaha, mengorbankan jutaan jiwa rakyatnya, tapi selalu saja terjaga, agar rakyat tak banyak bersuara, selalu didengungkan dongengan kisah-kisah surga, yang membuat terpesona, sehingga rakyat menjadi terlena, menjadi lupa segala derita, lalu bersorak gembira, ketika angka-angka yang terbuka, tepat benar dengan apa yang disangka. Kekalahan – walau bertubi-tubi – selalu disikapi dengan bijaksana, ”Belum saatnya tiba. Kelak suatu saat pastilah ada.”

Ini pembodohan terbuka!” teriak kita bersama, hanya diantara kita. Menjadi seperti himpunan orang gila, tiada sudi orang mendengarnya. Tak surut, tetap kita tumpahkan suara-suara di jalanan agar dapat menjadi gema. Proses merupakan pengalaman dan menjadi guru yang sangat berharga.

Para mahasiswa tahu apa? Hanya gosip,  baca buku, berdiskusi, semua hanya di kepala! Tidak tahu kenyataan sebenarnya” serangan terbuka. ”suara mahasiswa bukanlah suara rakyat indonesia. Pasti ditunggangi oleh organisasi tanpa bentuk yang senang gerilya.” serangan pula. Tak surut, tak surut, yakinlah kita.

Turun ke bawah, jangan segan bersapa dan bekerja. Bangun organisasi massa, walau dilarang penguasa. Rakyat harus cerdas, harus tercerahkan, membangun asa penuh daya! Persoalan memang ada di mana-mana. Sehingga letupan memecah, membawa langkah kita pada kaum miskin kota dan menyeruak ke berbagai desa.

Ah, terlalu banyak kenangan terbuka. Ketika rasa lelah telah menyapa. Pada hiruk-pikuk permainan politik yang tak berbeda. Intrik, pembunuhan karakter, penguasaan dan perebutan asset, informasi sesat, dan kampanye meraih simpati publik yang senantiasa dipenuhi dengan tanda tanya, ada apa dan mengapa?

Ah, kenangan adalah masa lalu. Menjadi catatan sejarah. Setidaknya dalam hidup kita. Menghidupkan kenangan hanya bisa di kepala tanpa bisa membangkitkan kehadirannya dalam dunia nyata. Itu sudah lewat. Tak bisa berharap.

Diantara kita, telah tersebar dalam berbagai jaring lingkar kuasa. Namun seolah tak berdaya. Tapi bolehlah bercuriga, jangan-jangan telah terlena dan menikmatinya. Demikiankah kiranya? Ah, memang buruk untuk berprasangka, tapi apakah yang telah diperbuat untuk bangsa? Keluarlah dari ruang sembunyi, tampakkan wajah dan lantangkan suara, seperti dulu kala, menjadikan jalanan sebagai ruang belajar bersama, kita berganti rupa, gedung terhormat milik negara. Masihkah dikau mampu melakukannya?

Ah..

Harapan sia-sia belaka kukira…..

Yogya. 28.01.11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: