Tinggalkan komentar

Pengkhianatan

PENGKHIANATAN
Cerpen Odi Shalahuddin

Dia datang lagi. Selalu saja pada saat yang kuanggap tidak tepat. Saat aku mulai merasakan mabuk. Saat merasakan diri terbebas untuk menyatukan diri dalam irama lagu yang menghentak. Saat para penyanyi dengan para dancer meliuk-liukkan tubuhnya di panggung. Saat orang-orang segera bergegas turun bergoyang. Saat panas menggelora menikmati perjalanan malam, menyisihkan dinginnya desir angin di luar.

Ya, pada saat-saat itulah ia datang. Membuat diriku tak bisa beranjak dari tempat duduk. Kau pasti bisa memahami betapa tersiksanya situasi semacam ini. Seperti kita diburu perut mulas, dan berlama-lama nongkrong tapi tak bisa mengeluarkan. Atau seperti hendak bersin yang gagal.

Walau hati memaki, aku tak bisa menolak kehadirannya. Ini kali kelima ia datang. Padahal sejak kedatangannya yang pertama, aku langsung berpindah-pindah tempat. Selalu saja ia tahu dan bisa menyambangiku. Sampai pada malam ini, ke kafe dangdut yang kurasa ia tak akan menduga. Tapi nyatanya, ia hadir. Kini duduk di depanku. Saat aku hendak berdiri dan menuju  para pengunjung bergoyang di depan panggung.

”Bagaimana?”

”Hm,”

”Bergabung saja kok susah,”

”Eh,”

”Kami cukup sabar menanti,”

“he..eh…”

“Tapi tinggal hitungan hari,”

Aku menyalahkan korek gas. Seorang waitress mendekat. ”Gelas,”

Tidak lama waitress telah membawakan gelas, meletakkan dasar di atas meja. Menuangkan bir yang masih tersisa separo. Aku meraih gelasku. ”Ayo, minum dulu,”

Kami membenturkan sisi gelas. Kuhabiskan isi dalam tegukan tak henti. Ia hanya meneguk sedikit, meletakkan kembali ke atas meja. Suara musik berhenti. Sang penyanyi membuka kesempatan kepada para pengunjung untuk memesan lagu, dengan suara mendesah. Aku melirik ke arah panggung.

Tiga orang kawanku datang. Wajahnya berkeringat. Mereka langsung menyambut tamuku dengan hangat melalui salam tangan.

”Wah, habis,”

”Pesan lagi,”

Korek api gas menyala. Lima botol tersaji di atas meja. Botol-botol yang kosong diambil waitress.

Musik kembali terdengar. Sang penyanyi masih mengajak dialog kepada pengunjung. Dua orang kawan segera bergegas ke depan, setelah meneguk isi gelasnya masing-masing. Hanya Ardisa, sobatku sejak kecil, yang menjadi orang kepercayaanku, sekaligus kawan di mana aku mempercayakan penuh, tetap duduk di kursinya.

”Bagaimana kabarnya, Om?” sapanya kepada sang tamu.

”Biasalah,”

Aku mengambil sebatang rokok. Menyelipkan di bibir, Ardisa segera menyalahkan korek dan mendekatkan.

”Jalan angkasa. Bagaimana?”

Aku menghisap rokok dalam-dalam. Tawaran yang sangat menggiurkan.

”Angkasa Om?” Ardisa seolah tak percaya. Terdengar nada suaranya yang tampak terperanjat. Ia memandangku. Menghujamkan tinjunya ke pahaku. Pandangan matanya berbinar. Ia memberikan isyarat agar aku memenuhi tawaran itu.

”Aku joget dulu, ya,”

Kataku sambil berdiri. Tak menunggu jawaban, aku segera ke depan, bergabung, bergoyang, bergoyang-goyang dangdut. Lagu sedih-pun dalam dangdut masih enak dinikmati sambil bergoyang.

Selesai lagu. Kembali menuju meja. Orang itu sudah tidak ada lagi. Wajah Ardi tampak tidak enak dipandang mata. Kelihatan sekali ia kecewa bercampur marah.

”Tanpa pertempuran, tanpa darah, dapat angkasa,”

”Tapi tidak sesuai dengan prinsip kita,”

”Ah, dunia gila yang kita geluti, mana ada prinsip?”

”Bukankah itu yang dulu kau gaungkan? Karena itulah kita berbeda,”

”Tapi, angkasa…..”

Ardisa tampaknya tak ingin melanjutkan pembicaraan. Ia tahu bahwa aku pasti tetap akan berkeras menolak dan bisa mematahkan argumen-argumennya. Ini lantaran gagasannya yang kuterafkan. Berlaku untuk semua yang bergabung denganku.

”Joged aja, ah,” katanya dengan nada kesal.

* * *

Selepas Asyar kukira, Ardisa telah ada di dalam kamarku. Kamar yang tak pernah kukunci, namun kuyakin tidak akan ada yang berani memasukinya, kecuali Ardisa. Ia membangunkanku. Aku menggeliat, dan terkejut menyaksikan dirinya.

“Kita dikhianati,” katanya pelan. Wajahnya menunduk tak berani berhadapan mata denganku. Walau masih dibebani kantuk, mataku tajam menghujam matanya. Ia pasti tahu dan hafal dengan sifatku. Seandainya bukan Ardisa di hadapanku, orang itu tentunya sudah lemas dan terkencing-kencing. Bukan sombong, tapi selama ini, begitulah yang terjadi.

”Kita? Kita siapa? Kamu yang berkhianat,”

”Tapi….”

”Sudahlah, bersihkan luka-lukamu. Pakai pakaianku. Buang pakaian penuh darah itu,”

Ardisa masuk ke kamar mandi. Aku menyalahkan televisi. Titel berjalan di sebuah saluran televisi mengabarkan ada peperangan antar gank.  Aku menghela nafas, bersandar pada sandaran tempat tidur. Pikiranku menerawang. Membayangkan yang terjadi.

Ardisa keluar dari kamar mandi. Lebih bersih. Tapi beberapa luka di tangannya masih mengeluarkan darah.

”Katanya kita disuruh menakut-nakuti saja. Tapi begitu kita datang, belum sempat mendekati tanah yang akan digusur, belum juga  mendekati para pendemo,  sudah datang kelompok  gabungan Si Ragil, Sulite, Ngelon, dan sebagainya. Mereka langsung menyerang kita. Padahal kesepakatannya kita bersama-sama mereka menakut-nakuti rakyat itu,”

”Bukan kita! Kamu yang jalan sendiri!”

Layar televisi menyiarkan berita. Pertarungan yang terlihat tidak seimbang. Kulihat kawan-kawan menjadi bual-bualan beragam senjata tajam. Lalu seseorang tengah diwawancarai oleh berbagai media, ”PT KC menggunakan para preman untuk menakut-nakuti rakyat yang sedang berjuang mempertahankan tanah mereka. Tapi, sebelum sempat kelompok preman itu beraksi, ada kelompok-kelompok yang memang sudah menjadi musuh mereka bertahun-tahun melakukan penyerangan. Jadi, ini faktor kebetulan saja. Peristiwa ini hanya pertarungan dua kelompok preman,”

Orang itu, orang yang tengah diwawancarai, adalah orang yang berkali datang memintaku bergabung untuk melakukan teror ke masyarakat agar merelakan tanahnya dibeli oleh PT KC. Di kepalaku, sudah terbayang PT KC akan mengorek sakunya lebih dalam untuk mendapatkan lahan tersebut yang belum tentu dapat mereka miliki.

Yogyakarta, 09.02.11

_______________________

Ilustrasi gambar diambil dari SINI. Cerpen ini juga diposting di Kumpulan Fiksi dan Kompas.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: