Tinggalkan komentar

Maaf, Saya Ingin Menipu

MAAF, SAYA INGIN MENIPU
Oleh: Odi Shalahuddin

Sungguh. Saya ingin menjadi penipu. Tidak perlu seperti dulu. Legenda tentang penipu ulung. Tidak. Cukuplah sebagai penipu. Titik.

Dunia memang sudah berubah. Manusia juga sudah jengah. Kebutuhan hidup membuat resah. Tapi orang selalu tidak mau kalah. Apalagi mengalah. Ya, sudah. Abaikan saja rasa bersalah. Jadilah penipu.

Bila dulu korban paling empuk adalah kaum ibu. Sekarang sudah tak terbatas lagi. Para remaja. Bisa. Laki-laki dewasa. Bisa. Tukang becak. Bisa. Presiden-pun mungkin bisa juga kita tipu.

Penipu jaman sekarang enak. Lantaran sikap orang sekarang sangat jaim. Menunjukkan sikap modern, di belakang masih percaya dukun. Pastilah orang-orang macam ini, paling mudah untuk ditipu. Tapi ingat, jangan berlebihan menipu. Sedang-sedang sajalah. Maka akan amanlah kita sebagai penipu.

Sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit. Begitulah peribahasa yang bisa menjadi ilmu para penipu. Menipu jangan menguras banyak. Sedikit saja. Tapi korbannya banyak. Pastilah jadi bukit. Malah sekarang bisa jadi gunung. Jangan panas-panas, biar tetap sejuk, gunung tak akan meletus.

Kekalahan terhadap situasi yang dibarengi dengan sikap Jaim, tapi juga bermain dengan hal-hal tak masuk akal, maka tak akan kapok-kapoknya orang di akal-akalin. Mereka tak akan mungkin melapor ke polisi. Mereka juga tidak akan bercerita pada kawan-kawannya. Tidak bercerita pada anak-istri atau suaminya. Tidak akan. Saya yakin itu.

Mereka, (calon) korban-korban kita bukanlah orang-orang bodoh. Mereka orang-orang pintar. Banyak makan bangku sekolah. Tentu tidak mau bila dianggap bodoh. Jadi bila kita akalin, bila kita tipu, mereka hanya akan gerundelan saja di dalam hati. Masak orang pintar kena tipu.

Nah, itulah. Tapi ingat. Jangan menguras banyak. Sedikit-sedikit sajalah. Lama-lama tidak sekedar jadi bukit. Tapi bisa jadi gunung. Bisa lebih dari satu gunung. Sepuluh gunung-pun bisa teraih.

Ayo, mari kita menipu. Kita mulai dengan sapa, ”Maaf,  Saya ingin menipu,”

Yogya. 05.01.11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: