6 Komentar

Dia Yang Selalu Hamil

DIA YANG SELALU HAMIL 
Cerpen Odi Shalahuddin

Selalu saja. Ya, kukira demikian. Empat kali pertemuan terakhir dengannya, dengan rentang waktu dalam hitungan tahun, selalu saja aku melihatnya dalam kondisi hamil.

Demikian pula, pada saat ini, pertemuan kelima. Pertemuan tanpa sengaja. Ketika keluar dari sebuah pusat pertokoan, di pintu masuk parkir motor, aku melihatnya tengah melintas. Segera saja aku memanggilnya

“Oh, eh, he…. Mas,” agak terkejut. Tapi setelah mencermati wajahku, mengingat-ingat, ia langsung tersenyum, melambaikan tangan.

“Bagaimana kabarnya ?” sapaku lontarkan tanya sambil mengulurkan tangan.

”Kalau ditanya orang, menurut orang tua wajib menjawab baik,” sahutnya. ”Baru datang, Mas?”

”Ya, semalam,” aku mengernyitkan kening ketika sekilas melihat tubuhnya, terlebih di bagian perut. “Hm…kamu…Hamil lagi?”

Ia tertawa.

”Wah, subur sekali. Ketempelan langsung jadi. Hati-hati, loh. Bahaya,”

“Rejeki, Mas… Sudah takdir,” katanya sambil tertawa.

Setelah berbasa-basi, akhirnya Kami memutuskan mencari warung di pinggiran jalan, di belakang pusat pertokoan. Sebuah jalan yang panjangnya sekitar 500 meter. Jalan yang terkapit dua bangunan. Berbeda bila melihat sepintas wajah di seputaran jalan utama yang bersih dan penuh dengan gedung-gedung menjulang tinggi, maka pada penggalan jalan ini kelihatan kebalikannya. Warung-warung kaki lima berjejer tak beraturan. Gundukan sampah menumpuk di beberapa tempat. Aroma baunya kentara sekali.

Pada jam-jam seperti ini, saatnya orang makan siang, seluruh warung-warung yang berjejer semuanya penuh. Para pegawai berdasi  dan para perempuan berhak tinggi banyak tampak di dalamnya. Penampilan boleh jadi, tapi pengeluaran tentunya harus disesuaikan dengan pendapatan bukan? Berpakaian perlente sekarang ini sudah menjadi kewajiban dari perusahaan. Jaga image.

Sungguh, suatu kebetulan masih tersisa kursi di pojokan di salah satu warung. Tidak nyaman memang. Bisa dipastikan udaranya panas. Tapi mau bagaimana lagi?

Kami duduk di sana, jejer.

“Siapa suamimu?”

”Ah, Mas. Gak laku-laku,”

”Ya, sukanya kawin melulu. Tapi menikah gak mau,”

“Bukan gak mau, gak ada yang mau…”  katanya sambil tertawa lepas.

”Hush!”

Ia menutup mulut dengan telapak tangannya. Mata berkeliling. Masih terdengar sisa tawanya.

Ingatanku melayang. Aku mengenal perempuan ini sejak dirinya masih anak-anak. Sekitar umur 10 tahun kukira. Wajahnya paling bersih diantara kawan-kawannya. Kulitnya masih putih saat itu. Berbeda dengan sekarang yang telah menghitam terkena sengat matahari. Suaranya bagus kalau bernyanyi. Ia sering terlihat beristirahat siang, di sebuah Taman tengah kota, di bawah rimbun pepohonan.

Aku teringat, ketika sekitar berumur 12 tahun, terdenga  kabar ia diperkosa oleh Bapak Kandungnya. Tidak ada yang melaporkan kasusnya ke kepolisian. Waktu berjumpa dengannya tanpa sengaja ketika turun dari Bus luar kota, aku mengajaknya ke sekretariat. Bersama dua orang kawan, kami mengajaknya ke ruang belakang. Setelah berbasa-basi menanyakan keadaannya, kegiatannya, dimana sekarang tinggal (setelah kasus itu ia melarikan diri dari rumah), barulah kami menanyakan peristiwa yang kami dengar. Ia diam saja tak mau menjawab. Ketika dikatakan sebaiknya melaporkan ke kepolisian. Ia hanya memandang kami dengan wajah mengundang iba.

”Jangan Mas-e, Mbak-e. Kasihan Ibu. Empat adik saya masih kecil-kecil,”

Seorang kawan perempuan memberikan tanda, aku dan seorang kawan laki-laki yang berada di ruangan, segera bergegas keluar. Setelah beberapa lama, kawan perempuan keluar.

”Bagaimana?” tanyaku setelah melihat ia keluar dari ruangan. Jawabannya adalah bahu yang terangkat sedikit.

Sayang, waktu itu kawan-kawan di kota ini tidak memiliki rumah khusus untuk anak perempuan. Anak ini juga menolak ketika kawan perempuan kami menawarkan untuk tinggal sementara di kost-nya. Ia lebih memilih berpindah-pindah tempat. Menghindari kedua orangtuanya yang terus mencari. Termasuk ke sekretariat beberapa kali didatangi oleh kedua orangtuanya. Kawan-kawan malah dituduh menyembunyikan anak mereka dan diancam akan dilaporkan ke kepolisian.

Aku dapat membayangkan bagaimana kehidupannya. Pengalaman dari kawan-kawan sesama anak jalanan yang sampai informasinya kepada kami, telah mengungkapkan banyak hal realitas yang mereka hadapi. Tapi kami memang tidak memiliki banyak daya. Hal yang kami lakukan adalah menitipkan pada orang-orang berpengaruh di berbagai lokasi tempat mangkal dan istirahat untuk turut menjaganya.

Setelah beberapa tahun, aku sendiri tidak banyak menghabiskan waktu di kota ini lagi. Hanya sesekali dalam sebulannya. Kabar tentangnya berulang kali kudengar dari kawan-kawan. Dan, memang seingatku, empat kali pertemuan dengannya pada tahun yang berlainan, ia selalu dalam kondisi hamil.

”Tinggal di mana sekarang?” tanyaku setelah menyerumput es teh.

”Masih sama, masih betah” katanya sambil tersenyum. Ia menyebutkan nama sebuah pasar. Ia biasa tinggal di sebuah los di lantai dua  bersama anak-anak jalanan lainnya.

”Gimana kabar anak-anak sekarang?”

”Wah, sekarang sudah sedikit. Anak perempuan juga sudah gak kelihatan lagi. Anak-anak lama, paling sudah ke Batam, Bandung, Jakarta, Surabaya, atau sekarang banyak juga yang ke Kalimantan,”

”Anak-anakmu sendiri?”

”Wah, gak tahu. Mbrojol, langsung diambil orang,”

Hidangan datang. Kami segera melahapnya. Nasi pecel. Di sela makan, kami ngobrol apa saja seputar perkembangan anak-anak jalanan di kota ini.

Selesai makan kami berpisah. Ia menolak ketika aku menyodorkan selembar seratus ribuan.

”Ada kok, Mas. Salam untuk keluarga, ya”  ia berpamitan, pergi meninggalkan diriku sambil melemparkan senyumnya seraya melambaikan tangan.

Matahari seperti tengah menghujamkan cahaya terpanasnya siang ini. Aku pun segera bergegas ke tempat parkir, mengambil motor yang tertunda. Pikiran membayang tentang perjalanan hidupnya. Ah…..

Yogyakarta, 02.01.11

 
 
Iklan

6 comments on “Dia Yang Selalu Hamil

  1. sedih ya mas,jadi teringat tragedi2 yang dialami anak2 jalanan terutama yang perempuan… saya tersentak terutama di bagian “Anak-anakmu sendiri?” ”Wah, gak tahu. Mbrojol, langsung diambil orang,” bagaimana emosinya sudah mati karena beratnya beban yang ditanggungnya sendiri. Persoalan seperti lingkaran setan, tidak terselesaikan namun menambah barisan anak2 menderita lainnya….

    • Selamat pagi Mbak DIan..
      GImana kabarnya?

      Ya, seperti lingkaran setan yang tiada henti. Anak jalanan perempuan selalu masih menjadi sasaran berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi, menjadi sasaran prostitusi dan perdagangan anak.

      Kehidupan seks bebas juga masih meraja. Tapi di Semarang, tampaknya sudah tidak banyak anak jalanan perempuan. bukan berarti masalah berkurang. Pertanyaannya, kemana mereka?

  2. membaca cerpen ini…..dan terbangun…terima kasih mas…

  3. .. wadhuh.. ini cerpen dari kisah nyata ya..

    .. banyak yg terjadi di luar sana ternyata.. ah saya terlalu memeras mata di depan meja kerja saja .. hahaha..

    Nice post… salam pak Oddi

    • Ya, Mbak Alia
      ini hanya sepenggal kisah kehidupan mereka
      senyatanya akan lebih banyak kisah yang bisa membuat kita sesak nafas
      semoga ke depan, kehidupan anak-anak bisa lebih baik
      sejahteralah anak Indonesia sebagai warga dunia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: