Tinggalkan komentar

Aku Antek Asing

AKU ANTEK ASING
Odi Shalahuddin
 

Hati-hatilah dengan diriku. Berpikir ulanglah berkawan, mengobrol apalagi berdiskusi dengan diriku. Siapa tahu aku akan menularkan pikiran-pikiran “jahat” kepada dirimu untuk peduli dengan sesama, memperhatikan anak-anak agar tidak menjadi korban kekerasan (fisik, mental dan seksual), agar tidak menjadi korban perdagangan, agar tidak dilibatkan dalam dunia kerja, agar tidak dijadikan sebagai pasukan perang. Berhati-hatilah, sekali lagi hati-hati, lantaran pikiranku dipengaruhi oleh pikiran-pikiran dari luar! Pikiran-pikiran asing!!!

Aku bekerja sebagai buruh harian lepas. Majikanku bisa berganti-ganti. Majikan dari Inggris, majikan dari Amerika, Majikan dari Australia, majikan dari Belanda, Majikan dari Jerman, dan dari berbagai negara lainnya, termasuk dari organisasi-organisasi PBB.

Aku pernah dibayar untuk berkegiatan bersama anak-anak jalanan di Semarang selama lima tahun lebih.

Aku pernah dibayar pada periode pertengahan tahun 80-an hingga awal 90-an untuk mengembangkan kelompok-kelompok teater di DIY dan Jawa Tengah, mengelola buletin bulanan, dan memfasilitasi diskusi-diskusi yang berkaitan dengan persoalan kehidupan anak dan remaja.

Aku pernah dibayar selama tiga tahun untuk melatih dan bekerjasama dengan para polisi di wilayah Kepolisian Daerah DIY, di setiap Polres-nya dan di wilayah Kepolisian Kota Besar Semarang dengan lima Polresnya agar dalam penanganan terhadap anak-anak yang berkonflik dengan hukum tidak melakukan kekerasan, melakukan BAP di ruangan yang nyaman bagi anak, memperhatikan kebutuhan dan hak-hak anak, tidak mencampur anak dengan orang dewasa, memberikan menu yang baik.

Aku pernah dibayar untuk bersama-sama dengan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Anak bersama para sipir-sipirnya melakukan kegiatan pendidikan bagi anak didik mereka, memberikan hiburan dan mempersiapkan mereka agar ketika keluar dari LP bisa hidup bersama keluarga dan lingkungannya.

Aku pernah dibayar untuk membantu pemerintah kota mendesain program untuk memberikan perlindungan agar anak-anak tidak menjadi korban prostitusi, perdagangan dan pornografi.

Aku pernah dibayar pada awal tahun 90-an untuk melakukan pendokumentasian program buruh anak di beberapa kota di Jawa.

Aku pernah dibayar untuk melakukan penelitian mengenai pekerja anak di sembilan kota/kabupaten di Indonesia.

Aku pernah dibayar untuk membuat banyak buku mengenai persoalan-persoalan anak di Indonesia.

Aku pernah dibayar untuk melakukan penilaian terhadap pengembangan organisasi-organisasi masyarakat di seputar hutan di Riau di tengah hutan-hutan yang semakin habis.

Banyak lagi aku dibayar untuk berbicara di depan aparat negara di tingkat nasional dan di tingkat lokal di berbagai daerah.

Ya, aku orang bayaran. Buruh Harian Lepas. Dibayar oleh asing. Jadi kalian memang harus berhati-hati padaku. Kalian boleh meragukan nasionalisme-ku. Kalian boleh mengatakan aku adalah antek asing.

Tapi percayalah, selalu kugemakan lagu-lagu anak/rakyat merdeka! Selalu kudorong agar semua pihak memberikan perhatian terhadap persoalan-persoalan anak. Selalu mempromosikan tentang hak-hak anak. Selalu mendorong tentang kebersamaan kolektif bagi masyarakat yang terpinggirkan. Selalu protes terhadap ketidakadilan dan ketidakbecusan aparat pemerintah dalam layanan publik khususnya terhadap anak-anak. Jadi… Tidak nasionaliskah diriku?   

20 November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: