Tinggalkan komentar

Transit – Surat Untuk Pak Kades

SURAT UNTUK PAK KADES
Odi Shalahuddin

 
Kopi pahit bertambah pahit,
Hidup rakyat semakin sulit
Bumi sudah semakin sakit
Melihat banyak orang munafik
.
Bumi terbatuk
Bumi terguncang
Bumi muntah
Bumi ….
.

Pak Kades, perjalanan saya lancar-lancar saja. Dari bandara desa Rangkat, saya transit di negara bernama Indonesia. Negara yang dulu dikenal sebagai negara yang elok, subur, kaya dengan kenaekaragaman hayati, penuh pesona, seperti desa Rangkat. Tapi sekarang memang sudah berubah. Hutan-hutan gundul, seringkali terbakar. Banjir menyeruak kemana-mana termasuk ke Ibukotanya. Itupun tidak disebut banjir. Hanya genangan. Sehingga air-pun malah asyik bermain-main, berkelompok meninggikan dirinya hingga sampai leher manusia. Tergenang, biar tetap terkenang, mungkin begitu kata air.

Bumi yang menggeliat, bermain dengan air laut. Peringatan dicabut. Tapi justru setelah itu air laut berbondong menyerang daratan. Tsunami… Ratusan jiwa mati, ratusan orang hilang.

Gunung Merapi batuk. Lebih keras dan sering tak seperti biasanya. Puluhan jiwa melayang, puluhan orang terluka, ribuan orang mengungsi.

Indonesia memang patut berduka. Oh, ya, saya lupa, ini bukan kabar baru karena desa Rangkat telah menyelenggarakan upacara setengah tiang, sehari sebelum saya berangkat. Ya, ini bukan kabar baru… Maaf ya, Pak Kades…

Di Sela perjalanan, sempat berbincang dengan orang-orang. Semuanya menyatakan, satu bulan sebelum bencana melanda, seluruh warga pedesaan di propinsi DIY, khususnya di Bantul, sudah beredar kabar bahwa bulan depan akan terjadi bencana besar. Dan bulan depan itu adalah bulan sekarang ini. Tapi ramalan-ramalan itu, yang sempat juga membuat geger satu desa, karena pernah mengungsi, tapi tidak terjadi apa-apa, benar-benar hanya sebuah ramalan. Terbukti sekarang, tetap saja ramalan.

Saya berkesempatan melihat foto-foto korban Merapi. Membuat bulu kuduk berdiri. Ketika foto-foto itu mau diposting, saya sempat mengingatkan, gambar-gambar itu tidak etis. Syukurlah kawan tersebut tidak jadi memposting gambar-gambar mayat itu. Ia hanya memposting gambar-gambar berisi kegiatan evakuasi.

Pak Kades, tanpa bermaksud mengabaikan rasa duka sebagai manusia, saya malah jadi kangen dengan desa Rangkat. Desa yang bisa mengharmonisasi kemajuan dengan alam sekitarnya. Tidak pernah bencana-bencana besar melanda karena ulah manusia.

Tapi perjalanan baru saja dimulai. Ini mumpung berada di sebuah rumah makan. Jadi bisa akses internet dan mengirimkan surat ke Pak Kades…

Begitu dulu Pak Kades, sampaikan salam kepada seluruh warga desa Rangkat.

Salam

Yogyakarta, 29 Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: