Tinggalkan komentar

Saya Bukan Kawan yang Baik

SAYA BUKAN KAWAN YANG BAIK
Odi Shalahuddin

Saya kira, saya bukanlah orang yang terlalu bermasalah dalam berkawan. Saya tidak memilih-milih, dan bisa dengan mudah menjadikan seseorang sebagai kawan. Kawan saya, walaupun tidak banyak, tapi memiliki berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari orang-orang yang dianggap sebagai tokoh, sebagai selebritis, ataupun orang-orang yang seringkali diabaikan seperti anak jalanan, PSK atau anak yang dilacurkan. Bisa sebagai orang yang dianggap sebagai sosok yang patut ditiru, hingga orang yang sama sekali tak patut digugu. Begitulah, seluruh kawan, saya rasa juga bisa saling berbaur satu sama lain. Tentulah ini menyenangkan menjalani kehidupan sebagai manusia yang katanya merupakan makhluk sosial.

Bila saya merasa bisa mudah berkawan, kawan lain bisa sama tapi bisa pula ada yang merasa rugi bila berkawan dengan saya. Itu sah-sah pula. Rambut sama hitam, perasaan dan pikiran orang siapalah yang tahu? Bukankah begitu kata pepatah.

Sebagai kawan, memang saya memiliki sifat yang tidak menyenangkan. Beberapa tahun belakangan, Saya bukanlah tipe orang yang bisa berlama-lama berkumpul di satu tempat, kongkow-kongkow berbicara tentang berbagai hal. Bukan tidak suka. Bukan pula menganggap itu hal yang sia-sia. Apalagi berprasangka bahwa saya tidak menyukai kawan-kawan. Sungguh, seluruh kawan bagi saya adalah para sahabat yang menenangkan dengan berbagai karakternya masing-masing. Tapi memang waktu yang tersedia, rasa-rasanya jarang bisa diperoleh. Perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, salah satu penyebab. Selain itu, entah, saya sekarang ini senang menikmati kesendirian.

Bersapa dan bersenda gurau ataupun berdiskusi melalui media seperti chatting, jejaring sosial, sms, atau apapun, saya juga sungguh jarang menggunakannya. Bukan apa-apa. Saya pernah bertahun larut di dalam komunikasi semacam, dan saya tahu persis apabila saya melakukannya, maka sayapun akan terlarut dan bisa melupakan segalanya. Jadi maafkan saya, kawan. Sungguh saya khawatir mengenal kelarutan saya.

Persoalan lain, saya adalah pelupa. Pelupa yang teramat parah. Seringkali saya melupakan sesuatu yang belum satu jam berlalu. Entah mengapa. Otak saya mungkin sudah rusak. Dalam hal perkawanan, ini juga terjadi. Saya sering melupakan nama-nama orang. Bertemu, wajah ingat, nama lupa. Maka berbagai strategi digunakan untuk mengetahui kembali nama sang kawan. Hal paling halus, misalnya berpura-pura nomor HP-nya hilang, dan meminta nomornya dengan cara mengirimkan sms ke nomor saya. ”Jangan lupa dikasih nama, biar tidak salah memasukkan ke dalam phonebook” . He.he.h.e.he.he. cara halus yang seringkali mendapatkan keberhasilan. Tentu saya tidak akan bertindak bodoh dengan mengatakan. ”Maaf, saya sungguh lupa nama anda. Hm, siapa ya?”

Jadi, kawan, maafkanlah saya, apabila dalam perkawanan ini saya tidak bisa menjadi kawan yang baik. Jangan sungkan menyatakan kepada saya bila itu kau alami terhadap diri saya. Kritiklah saya. Hujamkan dengan hujatan sekalipun. Saya akan menerima dengan hati lapang. Sekali lagi maafkan.

Yogya, 11 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: