Tinggalkan komentar

Resah

R E S A H
Odi Shalahuddin 

Hujan tak henti dari semalam. Tidak deras, tapi bila nekat tanpa mengendarai angkutan tanpa atap, bisa dipastikan basah kuyup pula dirimu. Memang, pada situasi seperti itu, tiduran sambil menonton televisi akan menyenangkan. Eh, tidak juga. Tergantung apa acaranya.

Bila hanya berita-berita yang terus berputar dengan analisis-analisis yang menunjukkan pertarungan tersembunyi untuk mengabarkan kebenaran tanpa fakta, hanya berdasarkan prasangka, tentu akan membuat kita muak adanya. Sudah bosan dengan berbagai pengalaman ketika semua terjungkir balik. Gosip sebagai fakta. Fakta menjadi gosip. Tergantung sejauh mana mempengaruhi opini publik. Tapi dunia memang terus berputar. Sehingga bila kita tak memiliki daya, tak memiliki perisai untuk melindungi diri dan pikiran, maka kita akan dihanyutkan saja. Bukankah demikian?

Bila hanya infotainment, yang berisi sensasi, namun sesungguhnya menawarkan nilai-nilai baru yang merangsang naluri keingintahuan kita tentang rahasia-rahasia pribadi seseorang, apalagi yang disebut selebriti, maka kita hanya akan terhenyak saja menyaksikan realita yang bila terjadi di hadapan kita akan menjadi bahan pergunjingan yang berkepanjangan. Realita yang dihadirkan dalam layar kaca, tentang gosip percintaan, perselingkuhan, perceraian, pernikahan kembali, penangkapan terhadap selebritis yang mengkonsumsi narkoba, secara perlahan mengendap dalam diri, membangun kesadaran baru. Mentolerir bahkan membangun nilai-nilai baru yang mengesahkan bahwa sesungguhnya semua itu bukan lagi persoalan yang perlu diperdebatkan. Hanya kurang untung saja, sehingga terbongkar. Tapi esensinya bisa menjadi daya tarik untuk membangun sensasi baru dalam kehidupan kita sendiri.

Bila hanya sinetron, sama juga. Kisah-kisah yang berpanjang-panjang dengan tokoh dan peristiwa yang teramat bodoh. Membangun klik antara sesama saudara, atau anak dengan orangtua, untuk melakukan penistaan dan kejahatan terhadap sesama anggota keluarga yang lain. Lihatlah, wajah-wajah bengis anak dan para ibu yang dihadirkan menebar senyum tatkala sanak saudaranya cilaka. Ah, tidaklah. Lebih baik ganti channel saja.

Lha, terus, katanya suasana semacam ini enak untuk dinikmati dengan menonton televisi, tapi tidak ada yang membuat senang hati?  Menulis sajalah. Tapi mau menulis apa? Berbatang rokok telah terbakar. Asapnya entah sudah bermain kemana. Dua cangkir kopi juga sudah tinggal ampas.

Hujan masih saja di luar. Belum membangkitkan inspirasi untuk menulis sesuatu. Berselancar membaca tulisan-tulisan kawan. Menjadi iri hati pula. Betapa rangkaian kata-kata begitu mudah tercipta. Berbahagialah kawan-kawan yang bisa menuangkannya dengan mudah.

Lantas, bagaiamana sekarang? Ah, sudahlah. Kudekap saja erat-erat resahku bersama dingin angin yang menyelinap masuk ke dalam rumah.

Yogyakarta, 3 April 2011

_________________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: