2 Komentar

Pernikahan Modern

PERNIKAHAN MODERN
Cerpen Odi Shalahuddin

 

Pertama kali kenal, lewat jejaring sosial. Kemudian sering bersapa lewat status dan komentar. Torehan jempol pastilah tak terlupa. Kemudian ketika OL kedua-duanya, mulailah ngobrol.

Cinta karena kebiasaan? Apakah itu yang terjadi? Ah, tidak juga. Dalam sapa, dalam chatting, ada rayuan terselip malu-malu, saling tanggap, setelah itu tiada meragu lagi.

Tiba-tiba ada pesan masuk ke inbox:

”Siapa itu komentar mesra?” tanya perempuan

”yang mana? Semuanya mesra.” replay sang lelaki

”ah, jangan pura-pura,”

”Ada apa sih? Cemburu ya?”

”Gak?”

Sehari-dua hari, sang lelaki gelisah. Perempuan tidak pernah terlihat OL. Ia tiba-tiba menjadi rindu jempol yang ditorehkan, pesan ke wall yang sangat puitis, komentar becanda atau serius, dan sambutan rayuan-rayuan dalam chatting. Tapi kemana sang perempuan.

Sang lelaki telah mencoba melihat profil sang perempuan. Tidak ada data. Semua tersembunyi. Ah, kemanakah?

“Alo, sayang,” pesan ke inbox masuk.

Bagaikan anak-anak mendapat hadiah berisi mainan yang diharapkan.

“Alo.. bagaimana kabarnya? Kok menghilang? Tulisan terakhir dalam note-mu itu mendapat komentar banyak kawan. Tapi kamu sama sekali tidak menanggapi. Sepagi ini saja sudah ada lima komentar baru.” semangat lelaki menjawab. Replay….

Sehari-dua hari tidak ada kabar. Seminggupun lewat. Mendekati bulan. Melampaui bulan.

Sang lelaki tampak kuyu. Wall perempuan telah penuh dengan tulisan yang dikirimkannya. Pesan ke Inbox sudah beratus kali. Sama sekali tiada jawaban. 24 jam penuh dalam seharinya, ia hanya memandangi laptop-nya. Fasilitas chatting di jejaring sosial yang biasa ia matikan, kini selalu OL. Ia sama sekali tak bergairah menanggapi puluhan kawannya yang tiba-tiba menyergap. Ia diamkan saja. Demikian juga fasilitas YM, dan beragam program komunikasi, ia nyalakan. Berharap sang perempuan lewat dan melihatnya tengah menunggu.

Tapi memang sama sekali tak ada sinyal tentang kehadiran sang perempuan. Perempuan itu telah menghilang.

Pada saat kantuk menyerang. Tiba-tiba ada sapa pada fasilitas chatting. ”Hai, sayang,”

Sang lelaki bergairah kembali. Ia hujamkan berbagai kata yang paling manis. Ia tumpahkan segenap kerinduan. Terus menulis, tanpa memberi kesempatan kepada sang perempuan untuk membalasnya. ”Aku cinta padamu,” setelah itu barulah ia henti mengetuk tuts-tuts keyboard.

Menunggu. Tegang pula rasanya. Keringat dingin mulai mengalir.

”Aku juga cinta padamu,” 10 menit kemudian jawaban perempuan.

Lelaki bersorak. Lelaki berteriak keras. Tak peduli para penghuni kost marah dibangunkan menjelang dini hari. Ia merasa sangat bahagia.Bahagia sekali.

Dan jadilah mereka sepasang kekasih.

”Kita menikah?” tanya lelaki suatu hari.

”kamu melamarku?”

”Ya.”

”Baik,”

Diskusi menjadi serius. Mereka membuat rancangan rencana. Memilih siapa yang layak menikahkan diantara kawan-kawan yang berada dalam jejaring sosial ini.

”Mahmud tampaknya layak. Lihat saja status dan note-nya penuh dengan ayat-ayat.”

”boleh,” sahut lelaki.

”Apa?!!!!!” jawaban Mahmud. ”Kalian gila!!!”

Tulisan Mahmud menghilang. Ia tidak bisa disapa lagi. Sudah Off.

Namun Tuhan memberikan jalan. Tak terduga, Si Badu bersedia.

”Konferense, dengan web cam?” tanya si Badu.

Lelaki dan perempuan tersadar.

”Tidak perlu, kami saling percaya. Aku belum tahu wajah lelaki. Kita hanya bersapa dengan kata-kata, hati kami saling bicara, kami benar-benar percaya,” tulisan sang perempuan.

”Baiklah, tentukan jadwal pasti” tulis si Badu.

Tibalah saatnya, konferense diadakan dengan melibatkan lima puluhan kawan terdekat.

Semua khidmad di depan laptop atau PC-nya masing-masing.

Sah… sah..sah.. sah… tulisan berulang dari berbagai kawan.

Resmilah lelaki dan perempuan menjadi suami-istri…

Masa-masa bulan madu. Wall segera disetting, dibatasi hanya untuk mereka berdua. Segenap ruang terisi kata-kata manis. Gambar-gambar hati beraneka ragam menghiasi wall keduanya. Tiada foto-foto. Setiap malam, mereka saling memagut, bercumbu, bersenggama lewat kata-kata.

“Mas, aku hamil,” tulis sang perempuan.

Sang lelaki terperanjat. Ia sama sekali tidak menyangka.

”KITA CERAI,” tulis sang lelaki  di wall sang perempuan dan di wallnya sendiri

Yogyakarta, 4 Oktober 2010, 14.10

________________________________

Ilustrasi gambar diambil dari SINI

Iklan

2 comments on “Pernikahan Modern

  1. hemmmm…. menarik kang odi….. menikah dengan siapa hamilnya dengan siapa… hehehhehe…. 🙂

  2. K E R E N dan M A N T A F T….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: