Tinggalkan komentar

Pak Guru Bingung

PAK GURU BINGUNG
Odi Shalahuddin

Desa Rangkat. Siapa tak mengenalnya? Siar kabar telah menyebar seantero negeri. Bahkan ke Negara-negara tetangga.  Pemberitaan berisi informasi ataupun gossip telah bercampur baur, menyatu, sulit untuk memilahnya lagi. Namun, jutaan telinga dan jutaan mata telah tersentuh olehnya. Terpesona. Menggelitik jiwa. Menggeliat hasrat.

Desa langkat memang desa penuh pesona. Sebuah desa kecil di kaki gunung Naras. Air yang mengalir dari berpuluh mata air, masih terlihat sangat jernih. Lihatlah pula air terjunnya. Duhai luar biasa indahnya. Sejuknya udara yang menyapa sepanjang perjalanan waktu, akan menyebabkan dirimu senantiasa bergairah.

Desa rangkat yang unik. Di sebelah utara di balik gunung terlihat lautan, sedang di hadapan kita terbentang danau dengan kemilau yang memendarkan cahaya tujuh warna.

Bukit-bukit kecil, ketika tertutup kabut, seakan menjadi tonggak-tonggak yang menyangga suatu istana. Bagaikan Negeri di Awan.

Desa Rangkat memang laksana surga. Tiada tempat di manapun di dunia ini yang akan kau temukan serupa dengannya. Desa Rangkat bagaikan dunia dalam mimpi atau harapan akan keindahan alam semesta. Itulah, tak berlebihan kukatan laksana surga.

Penduduk desa Rangkat adalah manusia-manusia pilihan. Manusia-manusia dengan kemanusiaannya yang sejati. Manusia sempurna yang menyadari akan ketidaksempurnaannya. Sehingga tidak mengherankan bila ada orang yang senang bercanda, senang merayu, senang berpantun atau berpuisi, senang membuat huru-hara, dan beragam karakter manusia lainnya. Ya, sempurnalah sudah.

Dapat terbayangkan, bagaimana kehidupan sosial-politik-budaya dan ekonominya (sospol-budek) tercipta dengan mengedepankan kesejahteraan kolektif. Desa Rangkat mampu memadukan modernitas dan kesahajaan yang alami. Harmonisasi teknologi dan alam semesta. Tentu tidak mudah membangun desa demikian. Dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan berpihak, mampu membangun demokrasi, menampung segala aspirasi warganya, sehingga tidak mudah terbius oleh  para pemilik modal yang terus berdatangan dengan membujuk dan seringkali memaksa disertai ancaman kepada Kepala Desanya. Kebersamaan dan keterbukaan yang tercipta, telah menjadi kekuatan maha dahsyat untuk menghadapi intervensi dari luar yang berlebihan. Tak mudah untuk dipecah belah dari dalam.

Warga desa Rangkat bukanlah orang-orang kolot. Mereka percaya bahwa kemajuan ataupun perubahan juga ditentukan oleh interaksi dan saling berbagi dengan orang-orang luar. Namun mereka juga tahu, bahwa kemajuan dan perubahan haruslah sesuai dengan kebutuhan mereka. Bukan mengekor dan terbuai oleh pandangan tentang perubahan yang tidak mampu mereka kuasai. Karena itulah, mereka tidak segan-segan untuk belajar berbagai bahasa, yang juga ditularkan kepada anak-anaknya, mendirikan warnet-warnet untuk membuka cakrawala dunia. Tanpa adanya aturan yang tegas, para pengguna warnet sudah tahu menahan diri untuk tidak membuka situs-situs yang akan memporak-porandakan budaya yang telah terbangun dari sekian generasi. Selain itu, ada bandara kecil pula di desa ini.

”Jadi kami berharap anda tidak ragu menjadi guru di desa Rangkat,” demikian kalimat terakhir dari surat yang kuterima dari Mommy, yang konon pernah kudengar sosoknya bagaikan dewi, satu-satunya penerus dari pendiri desa Rangkat. Ia adalah istri dari Kepala Desa yang bisa memainkan peran bersama demi menjaga keberlangsungan kehidupan desa Rangkat sesuai dengan cita-cita para pendirinya.

Tentu ini merupakan penghargaan luar biasa dari Desa Rangkat. Ketika semua berlomba-lomba untuk bisa hidup di desa itu, yang sayangnya jumlah rumahnya dibatasi agar tidak mengganggu keselarasan dengan alam, tawaran menjadi guru yang telah menjadi obsesi hadir. Suatu tawaran yang  menjadi anugrah besar dalam kehidupan. Bisa tinggal di desa Rangkat, tak perlu mengantri menunggu para penghuni dari 10 rumah yang disediakan khusus bagi orang luar yang berkunjung ke desa itu.

Sangsi memang menggelayut. Sangsi akan kemampuan untuk menjadi guru yang baik, yang mampu mendidik bukan sekedar sebagai pengajar yang sering khilaf malah jadi penghajar para anak didiknya. Sangsi bahwa ilmu yang dimilikinya akan mampu melengkapi ilmu para penghuni desa Rangkat  yang sesungguhnya telah menjangkau hakekat dari pendidikan itu sendiri yang membebaskan dan memerdekan diri sebagai manusia. Mereka semua adalah para guru, desa Rangkat sendiri adalah sebuah sekolah.

Masih tepekur, dengan menggenggam lembaran-lembaran berita, syair-syair, dan foto-foto desa Rangkat yang benar-benar luar biasa dan membangkitkan hasrat bagi kehidupan yang sempurna. Ya, sudah seminggu ini, peristiwa selalu berulang, membaca surat dari Mommy, membaca lembaran-lembaran berita dan syair, serta memandangi foto-foto yang menggambarkan berbagai pelosok desa Rangkat. Tapi masih saja, tangan belum mampu tegak untuk membalas surat Mommy itu.

Catatan: Ini tulisan pertama saya mengenai Desa Rangkat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: