2 Komentar

Namaku Buruh

NAMAKU BURUH 
Cerpen Odi Shalahuddin

Namaku Buruh. Benar, bukan mengada-ada. Atau sok cari sensasi. Lihat saja KTP-ku, jelas tertera Buruh sebagai namaku. Nama lengkap. Singkat. Masih kurang percaya? Aku bisa meng-copy-kan akta kelahiran, raport dan ijazah sekolah. Masih kurang, aku bisa bawakan seluruh identitas yang kupunya. Semuanya konsisten. Buruh. Jelas tertera di situ. Di kolom isian nama.

Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Bapakku ataukah ibuku yang memberi usulan bagi namaku. Atau nenek-kakekku? Entahlah. Aku telah ditinggal pergi mereka semua. Ya, saat aku masih bayi. Saat terjadi bencana. Kebakaran. Menghanguskan rumah-rumah bedeng. Ratusan jumlahnya. Banyak orang menjadi korban. Kehilangan harta benda. Juga nyawa puluhan orang. Termasuk orangtuaku, kakek dan nenekku.

Konon aku terselamatkan. Konon pula di dekat sosokku, ada beberapa surat yang terkait dengan kelahiranku. Akta kelahiran. Mungkin saat itu bapak atau ibuku tengah membaca ulang. Atau, ah, entahlah. Tak bisa kureka. Walaupun aku ada di sana. Tentunya sebagai bayi aku tidak memiliki kemampuan untuk mengingatnya. Akta kelahiran itulah yang menyebabkan namaku menjadi tidak hilang. Tetap melekat hingga aku dewasa. Sampai sekarang ini.

Aku tinggal di sebuah panti asuhan. Diselamatkan hidupku. Lantaran tidak ada satu orangpun yang mengetahui apakah aku masih memiliki keluarga. Jadi, pilihan yang tepat. Menyelamatkan. Menempatkan pada panti asuhan. Sejak bayi. Hingga dewasa. Hidup dalam komunitas anak-anak yang hampir sama nasibnya dengan diriku. Kehilangan kedua orangtuanya. Hanya berbeda-beda alasan dan peristiwanya.

Sekolahku lancar-lancar saja. Dari SD hingga SMP kurasa. Saat SMA, aku mulai tertarik dengan diskusi-diskusi bersama beberapa teman. Bukan diskusi tentang pelajaran. Tapi diskusi tentang pemberitaan mengenai kehidupan nyata. Modal kami hanya menonton televisi, membaca koran, atau menguping pembicaraan orang dewasa. Lantas, kami sering berdebat. Bisa sangat keras. Tapi setelah itu kami bisa terbahak-bahak dan saling berangkulan. Suatu hari iseng. Kami bersepakat memprotes keputusan dari pihak sekolah yang meminta sumbangan wajib kepada para siswa, bagi perbaikan gedung. Kami pun meniru seperti para mahasiwa yang sering kami lihat di jalan-jalan. Kami membuat poster-poster dari kardus. Menggalang kawan-kawan untuk ikutan aksi demonstrasi. Beberapa kawan berorasi. Akupun ikut. Wah, enak kalau orasi. Kita berteriak apapun, langsung saja disambut gempita. Pokoknya rame.

Tapi bermula dari aksi itulah, persoalan nama menjadi persoalan bagi hidupku. Sebelumnya orang hanya tertawa-tawa saja bila berkenalan denganku. Kemudian mengernyitkan kening ketika kuyakinkan. Benar, Namaku Buruh. Nah, pada aksi ini, pihak sekolah melapor ke kepolisian. Tidak beberapa lama, puluhan polisi sudah meminta kami untuk membubarkan diri. ”Atas nama undang-undang!” teriak seorang polisi melalui megaphone-nya, ”Kalian harus segera membubarkan diri,”

Seorang kawan, malah lantang berteriak, menyemangati kami untuk tetap bertahan. Kami diminta bergandengan tangan. Menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Benar-benar lagu perjuangan seperti Hallo-Hallo Bandung, Maju Tak Gentar, juga lagu Indonesia Raya. Kami merasa tersemangati. Merasa gagah dan bangga. Bisa seperti para mahasiswa.

Polisi merangsek, membubarkan paksa. Massa kocar-kacir. Kawan-kawan berlarian. Menyelamatkan diri. Anak-anak perempuan menjerit-jerit. Poster-poster dirobek oleh para petugas kepolisian. Beberapa orang ditangkap, termasuk diriku.

”Nama?”

”Buruh, Pak,”

”Nama?

”Buruh, Pak.

”Nama???!!!”

”buruh, Pak!”

Meja digebrak. Membuatku tersentak.

”Jangan main-main. Nama kamu?!”

”Bu..ruh…” terbata, lirih.

Sekali lagi meja digebrak dengan keras. Menimbulkan perhatian dari orang-orang yang ada di sana. Beberapa polisi mendekat ke arah kami.

“Hm… pasti ada yang menghasut dirimu. Jangan suka-suka mengaku sebagai buruh. Kamu itu anak SMA. Jangan mau dicuci otak. Ayo, siapa mahasiswa yang meracuni kamu? Sebutkan saja namanya. Kamu tahu, buruh itu komunis? Kamu mau dianggap komunis?” seorang polisi dengan nada lebih ramah dibandingkan polisi yang tadi menginterogasi diriku.

“Tapi, Pak. Nama saya memang buruh,”

 “Ah, dasar kamu anak kecil! Tidak mau mendengar omongan! Syukur kamu Cuma dinasihati” polisi lainnya.

”tapi… benar…”

”Diam!!!”

Meja digebrak lagi.

”Kamu tahu artinya komunis? Komunis itu tidak boleh hidup di sini!”

“Nama?”

Aku diam.

“Nama?”

Tetap diam. Menunduk. Bingung. Keringatan. Berdebar-debar. Terteror

”Nama?!”

”Bu..ruh.. Pak!”

Tangan hendak melayang menggebrak meja, tapi tercegah seorang polisi lainnya.

”Sebentar. Mana kartu pelajarmu?”

Aku segera mengeluarkan kartu pelajar dari dompet.

Polisi itu memandang dengan seksama. Berbisik-bisik dengan polisi yang lainnya. Beberapa orang berusaha menahan tawa. Tapi lepas juga.

”Oh, namamu memang buruh. Ya, sudah. Jadi kamu bukan komunis,”

Aku diinterogasi. Ditanyakan siapa yang merencanakan aksi demonstrasi. Dinasehati. Panjang lebar. Dari mulai ketahanan negara. Keamanan. Komunis. Teroris. Banyak sekali. Sampai tak muat otakku untuk menerimanya.

Aku bersama kawan-kawan dikeluarkan setelah pihak sekolah menjemput kami. Tapi kamu harus apel seminggu dua kali.

Kasus ini terdengar sampai ke telinga pengelola Panti. Aku beruntung, tidak dimarahi. Dia malah tertawa terbahak mendengar kisahku. ”Tidak apa-apa. Anak muda, memang harus memiliki pengalaman yang herois,” komentarnya. ”Bapak dulu juga pernah jadi aktivis,” Ah, legalah diriku.

Selepas SMA. Aku tahu tidak mungkin tergantung terus menerus kepada Panti. Aku tahu, kondisi keuangan mereka juga terbatas. Maka aku putuskan setelah lulus SMA mencari kerja. Keberuntungan memang tengah menyelimuti diriku. Tidak menunggu lama, aku diterima bekerja. Bekerja di sebuah pabrik. Di kota ini juga. Menjadi buruh.

Jadi namaku Buruh. Di kolom pekerjaan juga tertulis Buruh. Aku paham tentang hidupku. Aku tahu nasibku sebagai buruh tidaklah baik. Terus bergerak bersama mesin-mesin dalam nada dan irama yang statis. Bersama penghasilan yang jauh dari kebutuhan hidup. Aku paham, bila para buruh bersatu meneriakkan jeritan hatinya. Menyuarakan kepentingannya demi kehidupan yang lebih baik. Dan itu, bukan komunis. Sungguh. Aku berani meyakinkan itu. Ini soal manusia. Soal kemanusiaan.

Yogyakarta, 1 Mei 2010

(Selamat Hari Buruh)
__________________________

Cerpen ini pernah menjadi headline di Kompasiana dan juga dimuat di Kompas.com tanggal 24 Mei 2011

Iklan

2 comments on “Namaku Buruh

  1. Sebuah cerpen yg menggugah dari kediaman yg seolah benar, padahal semu, sebuah cerpen yg singkat tapi mengandung pesan khusus, SELAMAT HARI BURUH!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: