Tinggalkan komentar

Maaf Tiada Berita Hari Ini

MAAF, TIADA BERITA HARI INI
Odi Shalahuddin

Peristiwa memang datang silih berganti. Tapi engkau sudah tahu sendiri. Selalu pengulangan-pengulangan dari apa yang telah terjadi. Seperti anggota parlemen dan penguasa kota/propinsi tersandung korupsi. Tawuran antar kampung yang belum berhenti. Kekerasan oleh tentara dan polisi. Pejabat yang mulutnya selalu berbuih memuji diri sendiri. Ulah para selebriti yang selalu masuk televisi. Tentang perselingkuhan, narkoba, dan kawin lari. Rakyat yang susah untuk makan nasi. Segala kebutuhan sulit terbeli. Sedang pesta-pesta tak pernah berhenti. Eh, bom lagi, bom lagi. Oh, ya tidak terlupa tentang NII. Nah, bagaimana jemari ingin menari? Bukankah engkau tahu, sesuatu yang sering terjadi, tidak lagi menarik hati. Bisa menjadi berita basi?

Jadi, apakah berita hari ini? Manusia menggigit anjing malah juga sering terjadi. Sudah tak asyik lagi. Masak kita hanya akan bisa gigit jari? Ayo, kita tak pantang untuk terus mencari.

Menyusuri jalan, jalan di tepi. Menyebrang jalan hingga pinggir kali. Di traffick light perempatan jalan, anak-anak bernyanyi, menghampiri para pengendara yang berhenti. Tak lengkap selagu, kepingan kadang lembaran kertas telah mengisi. Sebuah gelas plastik atau kaleng, atau topi. Ah, terbayang bisa makan hari ini. Jadikan berita, itu sudah santapan hari-hari. Jadi bagaimana lagi.

Terus menyusuri, kota-kota tanpa tepi, sambil terus mencari, berita untuk hari ini. Sebuah motor, melaju, pengendaranya, meraih tas pengendara perempuan, lalu berlari, menembus keramaian, tak peduli, orang-orang yang memaki. Enggan untuk untuk menuliskan tentang hal ini.

Di sebuah warung angkringan, aku berhenti. Para pengemudi becak yang mendominasi. Tiada tempat duduk, maka harus berdiri. Pesan air putih dan kopi. Mereka berbincang, tentang para tamu luar kota yang tak bisa dibohongi lagi. Semakin seret rasanya kedatangan rejeki. Lalu mereka-pun mencari sasaran untuk bisa dimaki, sebagai pelampiasan sakit hati. Hiburan rakyat menghujat penguasa dan pengusaha yang selalu mengebiri. Ketika telah dapatkan roti, remah-remahnya-pun ternyata tak terbagi. Setelah itu membangun mimpi-mimpi. Namanya mimpi, sekalian yang tinggi. Toh, pasti tak akan pernah terjadi.  Tak akan ada petruk jadi raja walaupun cuma sehari. Atau kisah cinderela menjadi sang putri. Sekolah saja, tak tuntas, hanya mimpi sampai mati.

Ah, apakah berita hari ini? Masih saja belum tercari. Sebuah televisi dari pedagang rokok dekat angkringan, berisi kisah komedi. Ah, memang tak ada berita untuk ini hari. Terbayang membangun imajinasi, membuat sebuah karya fiksi. Siapa tahu bisa mengena di hati.

Jadi, maaf, memang tiada berita hari ini.

Yogyakarta, 11 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: