Tinggalkan komentar

Kawan-kawanku Adalah Orang Hebat

KAWAN-KAWANKU ADALAH ORANG HEBAT
Odi Shalahuddin

Kawan-kawanku adalah orang hebat. Tidak ada yang tidak hebat. Hadir sekelibat, aku rasa ia telah berbuat. Walau mereka bukan pejabat, bahkan diantaranya dianggap penjahat, mereka tetap kuanggap sebagai orang-orang hebat.

Tidak berlebihan dan bukan mengada-ada kalau aku anggap kawan-kawanku adalah orang hebat. Memang kuakui, ini tergantung dari mana diri memandang.

Aku tengah belajar. Belajar memandang orang. Melihat dari kelebihan-kelebihannya. Anggap saja ini sebagai pertobatan. Lantaran bertahun melihat orang selalu dari apa yang kita anggap lemah dan kurang. Semakin digali, semakin kurang saja itu orang.

Berkembanglah bisik-bisik, berkembanglah segala gosip. Mending kalau kawan-kawanku adalah pejabat dan para selebritis. Tentu bisa setiap hari menghiasi berita infotainment. Tapi mereka, orang-orang hebat itu, adalah orang biasa-biasa saja. Orang-orang yang akan terabaikan oleh kamera. Orang-orang yang terabaikan oleh pena.

Sebut sajalah ”A”, ”B” dan ”C”, tiga orang kawanku yang berasal dari sebuah desa yang berbatasan dengan kota. Daerah urban yang ramai. Jaraknya lebih dekat ke ibukota kota terdekatnya, daripada ke ibukota kabupatennya. Aku sempat tinggal hampir dua tahun di desa ini. Setiap hari pastilah bertemu dengan ketiga orang itu. Tiga orang remaja yang energik. Sangat semangat bila terlibat dalam perkelahian.

Kami sering berbincang-bincang, nyangkut juga ke soal pendidikan. Ketiganya sempat sekolah di SMA, tak tuntas pada kelas satu (atau sekarang disebut kelas tujuh). Mereka bukanlah pengecualian. Mereka adalah bagian dari mayoritas yang memiliki pengalaman serupa. Berhenti sekolah hanya selepas lulus SMP atau terputus waktu SMA.

Menjelang tahun ajaran baru, akhirnya ketiganya bersedia untuk melanjutkan sekolah. Waktuku yang banyak luang pada saat itu, memungkinkan membantu mereka mengantar mencari sekolah. Akhirnya ketiganya berhasil masuk, melanjutkan sekolah lagi. Lulus SMA, dan satu bahkan berhasil meraih S 1.

Menurutku, mereka adalah orang-orang hebat yang mampu bertahan mempertahankan studinya, ditengah kawan-kawannya yang telah terputus. Generasi berikutnya yang kutahu hingga sekarang, tidak ada lagi anak yang berhenti di tengah jalan. Setidaknya lulus SMA. Gelar sarjana-pun sudah banyak yang mendapatkannya.

Aku pernah mengenal seorang kawan, sebut saja ”X” namanya. Berasal dari Medan, lama tinggal di Bandung dan Jakarta. Lalu lari ke Semarang, sebagai pelarian, tercatat sebagai DPO oleh pihak yang berwenang. Ia adalah copet, terakhir merampok sebuah rumah artis di perumahan mewah di Jakarta. Ia sempat dijuluki si raja tega. Pertama mengenalnya, ia masih beraksi, mencopet di bus-bus kota. Hal yang kulihat, ia selalu tidak pernah membuang dokumen-dokumen dalam dompet. Ia akan mencoba menghubungi pemiliknya, mengatakan akan mengirimkan dokumen-dokumen itu ke rumahnya. Selalu begitu.

Akhirnya ia memutuskan berhenti sebagai copet. Mencoba ganti profesi dengan mengamen. Ia tidak malu-malu belajar kepada anak-anak jalanan yang menjadi pengamen. ”Wah, nikmatnya menikmati uang hasil jerih payah sendiri. Sedikit, tapi kita jadi belajar mengatur pengeluaran,” katanya padaku suatu ketika.

Kehebatannya mencopet sudah menyebar diantara kawan-kawan. Ketika kami berlima dengan kawan yang lain, bersama-sama hendak ke Yogya dengan naik bus ekonomi, seorang kawan menantangnya untuk membuktikan kelihaiannya. Aku ikut mengompori. Apalagi ia pernah menyatakan padaku, dimanapun uang diletakkan ia bisa mengambilnya, kecuali yang diletakkan di balik BH. Kalau tersimpan di balik celana dalam, ia mengaku masih mampu.

”Aku hanya akan mencopet satu lembar uang seratus rupiah,” katanya.

Ada ketakutan ditempatkan sebagai rombongan copet, aku mengajak seorang kawan untuk duduk di depan, sedang tiga kawan lainnya duduk di belakang untuk menjadi saksi ia beraksi. Sampai di Magelang, seorang kawan mendatangi tempat dudukku.

”Dapat dua ribu lima ratus. Memang hebat dia,”

Aku tercengang. Artinya ada 25 orang yang sudah kecopetan di bus ekonomi yang kami tumpangi ini. Bukankah hebat kawanku yang satu ini?

Kawan-kawanku adalah orang-orang hebat. Tapi ada juga yang pada akhirnya menjadi tidak hebat lagi. Kawan-kawan yang dulu sangat aktif berteriak tanpa rasa takut menghabiskan waktunya untuk orang-orang yang tersingkirkan. Sekarang beralih haluan, masuk dalam gerakan politik formal. Ini sangat membingungkan dan di luar nalar, ketika mereka berkawan dengan orang-orang yang dulu selalu dianggap sebagai musuh bersama. Tapi inilah realitanya.

Kemudian mereka memiliki posisi di negeri ini. Menjadi bagian dari pengambilan kebijakan. Sering disoroti televisi karena telah menjadi pejabat, dan pejabat sekarang biasanya dianggap sebagai selebritis, sehingga tidak cukup dimunculkan di siaran berita, tapi juga muncul di berbagai media infotainmen.

Semakin sulit dihubungi, nomro-nomor telah terganti. Bila kebetulan bertemu, hanya basa-basi, setelah itu bergegas pergi. Atau bila terpaksanya harus tetap di tempat, pastilah mereka berputar otak, mencari pembenaran-pembenaran.

”Susah, apa-apa yang harus diperjuangkan bisa mental kalaut tidak sesuai dengan instruksi,”

”Ya, gimana ya, terpaksa menghindari, karena mereka menganggap saya selalu memiliki uang. Padahal gaji sudah terpotong, belum lagi sumbangan-sumbangan sosial yang tak habis-habisnya,”

”Kami tetap bekerja keras dalam sisten untuk melakukan perubahan, tapi memang belum banyak kawan,”

Ada terlalu banyak alasan. Kukira kehebatan mereka menjadi berkurang. Tapi aku tetap merasa bangga karena masih banyak kawan-kawanku sebagai orang hebat. Diantaranya adalah para sahabat yang tetap aktif menulis, berkarya dan berbagi di berbagai site jurnalisme warga ataupun jejaring sosial. Padahal tidak ada imbalan materi yang diberi. Tapi mereka semua tidak perduli, tetap saja berbagi yang tak jarang menguras energi.

Tentunya juga dirimu yang hadir di sini. Aduh, senangnya aku, memiliki kawan-kawan yang hebat, seperti kalian. Aku berharap kalian tidak berubah agar  kehebatan kalian tidak terkurangi! He.h.eh.e.h.eh.e

Yogyakarta, 5 Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: