1 Komentar

Haus Kekuasaan

HAUS KEKUASAAN
Odi Shalahuddin

Pada dasarnya setiap manusia memiliki naluri untuk berkuasa. Naluri yang sangat kuat mendekam dalam diri. Ia bisa sontak hadir, ketika kesempatan terbuka. Siapapun, pastilah memiliki ruang kekuasaannya sendiri-sendiri. Dinikmati dan dijalani dengan caranya sendiri-sendiri pula. Pada ruang yang kecil seperti di dalam keluarga hingga pada ruang yang besar, sebagai penguasa Negara atau bahkan penguasa dunia.

Seringkali kita merasa sebal dengan cara orang-orang menunjukkan sikap sok kuasanya. Tapi seringkali kita tidak berdaya untuk menghadapinya. Ambillah contoh ketika kita membutuhkan dokumen surat-surat dari suatu instansi pemerintah. Kita dilempar dari satu meja ke meja yang lain. Kadang berhadapan dengan wajah yang melihat kitapun tidak. Hanya suaranya menyapa dingin. “Loket 5 dulu”

Saya jadi teringat pada tahun 80-an, ketika merintis kelompok teater di sekolah saya yang kemudian berkembang melibatkan berbagai pemuda/pemudi dari berbagai desa di kawasan Jalan Kaliurang Yogyakarta. Seorang kawan, mahasiswa jurusan olahraga, yang kemudian lama bermukim di Jerman dan sekarang secara rutin bolak-balik Indonesia-Jerman, yang memfasilitasi kelompok teater ini, mengembangkan satu metode pelatihan. Nama latihannya adalah menjadi Raja.

Maka, pada latihan yang biasanya berlangsung malam, di sebuah bangunan ditengah sawah, secara bergantian, satu orang berposisi sebagai Raja dan peserta latihan lainnya menjadi rakyat. Raja berkuasa penuh. Ia bisa memerintahkan apapun. Tidak ada satupun rakyat yang berani membantahnya Maka berhamburanlah segala titahnya:

“Ayo push-up 10 kali,”

“Kamu pijat kaki saya, kamu pijat punggung saya, dan yang lainnya semua menari!”

“Semua bergulungan,”

“Semua harus mendapatkan satu ikan,”

Ya, kira-kira sebagian diantara titahnya adalah begitu. Tidak mengherankan seorang kawan yang tidak ikut latihan yang memiliki kolam ikan harus marah besar lantaran banyak ikannya yang menghilang.

Selesai latihan, segera dilakukan diskusi tentang perasaan masing-masing. Perasaan ketika menjadi raja. Perasaan ketika menjadi rakyat.

Hasilnya, tidak ada raja yang berkehendak atau bertitah yang bisa menggembirakan rakyatnya. Semua bentuk titah adalah penghambaan ataupun hukuman yang memberatkan rakyatnya. Menjadikan rakyatnya tertindas. Membuat sang raja merasa puas.

Konon latihan metode demikian pada akhirnya berkembang dan dijadikan sebagai salah satu metode guna membangkitkan kesadaran tentang makna kekuasaan.

Terkait dengan raja, siapapun pastilah terbayang bahwa kekuasaan raja adalah mutlak. Guna membangun ketahanan dan kelanggengan kekuasaannya, maka diciptakan berbagai mitos, jargon, ataupun semboyan. Seperti pada masa kerajaan awal Sumeria sekita tahun 2700 SM, jabatan raja ini diyakini diberikan oleh para dewata dan dapat dialihkan dari satu kota ke kota yang lainnya melalui penaklukan  militer (lihat Wikipedia, DI SINI)

Kita juga mengenali adanya sebutan bagi para raja seperti Raja adalah wakil Tuhan; Raja, Manusia Setengah Dewa; Bayangan Tuhan di Muka Bumi; Bayangan Tuhan di Dunia, mandate dari surga dan sebagainya sehingga menempatkan posisinya yang sangat tinggi tak tersentuh rakyatnya. Monarki absolute.

Seorang pemikir asal Italia bernama Niccolo Machiavelli (1469-1527) menjelaskan bahwa dalam memerintah, seorang raja boleh bertindak/berkuasa tanpa batas terhadap negara, harta dan rakyatnya asalkan untuk kejayaan negara tersebut. Inilah yang disebut dengan absolutisme. Demikian dikatakan dalam bukunya “Il Principe” yang berarti Sang Raja.

Keberhasilan revolusi Perancis yang telah meruntuhkan kekuasaan raja dan menjadi cikal bakal bagi berdirinya Negara-negara modern yang lebih demokratis dengan pembagian kekuasaan yang dikenal dengan nama trias politika. Hal ini semakin menunjukkan peranan yang lebih jelas dari masa demokrasi yang ada pada saat pemerintahan kota di Negara Kota Athena Yunani pada abad  ke 5 SM. Oh, ya jangan lupa dengan adagium yang terkenal yang berasa dari bahasa latin: vox populi vox dei yang berarti Suara Rakyat adalah Suara Tuhan.

Keberhasilan revolusi Perancis dilanjutkan dengan menetapkan Deklarasi hak-hak manusia dan hak warga negara (Declaration des Droits de’l Homme et du Citoyen) Pada tanggal 27 Agustus 1789. Prinsip yang penting adalah menempatkan semua manusia sama di hadapan Tuhan dan manusia memiliki hak-hak asasi yang tidak dapat dihapuskan oleh siapapun.

Dunia terus bergerak. Tatanan kehidupan terus berkembang. Istilah, organisasi dan kebijakan yang tumbuh: Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Millenium Development Goals, Perserikatan Bangsa-bangsa, ASEAN, Perdagangan bebas, G-7. Berlompatan saling berebut pengaruh dan posisi. Apalagi bila bukan untuk kekuasaan dan untuk mengawasi kekuasaan. Semua terus hidup berdampingan, saling mencuri kesempatan, atau berusaha keras menjegal tidak berlangsungnya kekuasaan penuh.

Loh, kok jadi jauh sih. Kembali lagi pada kita. Sungguh, di dalam diri kita, sebagai makhluk sosial, kita juga dikenal sebagai serigala atas manusia lain. Seringkali kita luput menjaga keseimbangannya. Lebih larut untuk menunjukkan kekuasaannya.

Saya jadi teringat tentang gambar sebuah kartun yang menunjukkan seorang lelaki, bekerja sebagai buruh yang tertindas dan tak berdaya di pabriknya, tapi sangat berkuasa dan menindas istrinya, istrinya melampiaskan pada anak-anaknya. Anaknya melampiaskan pada tikus-tikus. Gambaran yang menunjukkan hasrat orang haus kuasa dengan berbagai motif walaupun dalam posisinya yang tengah tertindas.

Eh, sudah siang ternyata. Kusampaikan padamu para sahabat, selamat siang, semoga tetap semangat. Bila sekarang sudah lapar, segera tuntaskan nafsu makanmu pada sepiring nasi. Jangan lampiaskan hasrat untuk memangsa manusia lain. Ayo…

Yogya, 9 Juni 2011

Ilustrasi gambar diambil dari SINI

Iklan

One comment on “Haus Kekuasaan

  1. Haus kekuasaan berbeda dengan rasa haus yang dialami tenggorokan atau mulut. Kalo hausnya mulut dapat dipuaskan dengan beberapa gelas air, tapi haus kekuasaan tidak pernah akan terpuaskan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: