Tinggalkan komentar

Gugatan

Cerpen Odi Shalahuddin

Fajar baru saja tiba dengan belaian hangat sinar mentari. Terbuka jendela kehidupan yang sesak setelah  sesaat sebelumnya diberi waktu untuk istirahat sejenak. Namun cengkraman kuat bentangan waktu yang tak bersahabat telah melelahkan pikiran. Meski pun henti sejenak, otak terus dipacu untuk mempersiapkan pertahanan esok hari. Terasa tiada waktu untuk merefleksikan segala  gerak, pikiran dan  tindakan. Putaran waktu begitu cepat bagaikan cambuk yang menghela. Bagaikan binatang. Tak enak didengar di telinga mungkin. Tapi begitulah yang terjadi bila kejujuran yang menjadi alur pembicaraan. Namun otak terlanjur rusak sehingga kita tidak mau mencoba mempermasalahkan bahasa. Bahasa yang kita gunakan adalah bahasa penjerat leher di tiang gantungan. Hanya mimpi!

Oh, mungkin itu penyebabnya. Ya hanya itu yang tersisa dari kita. Dalam kediaman, pikiran berusaha terbang mencari diri. Wahai, mengapa hidup jadi demikian? Entah darimana datangnya, sebuah tangan raksasa telah merampas keseluruhan  waktu.

Perjalanan hidup ini bagaikan perahu di tengah lautan. Sepanjang mata memandang hanya air. Hanya air. Tak  bisa diminum. Berjalan  diombang-ambingkan ombak, badai. Arah perjalanan kemana sulit diterka. Yang jelas bukan lagi kehendak  nurani.

Oh! Bagaimana mempersiapkan perlawanan dalam suatu pertarungan hidup?

Terjaga dari tidur, segera ke kamar mandi, berbasuh  muka dan badan sekedarnya untuk mempersingkat waktu, lalu  berangkat. Bertempur? Sama sekali tidak! Hanya wayang. Hanya wayang yang dimainkan.

Tangan raksasa itu meletakkan posisi orang seenaknya. Sepertinya tidak adil. Sebagian besar orang justru diletakkan di pinggiran jalan, di dalam ruang penuh gemuruh mesin, atau di atas gedung-gedung bertingkat tanpa atap sehingga matahari bersuka cita membakar tubuh, atau di luaran gedung menggelantung. Posisi  batas  antara hidup dan kematian. Sedangkan sebagian kecil orang justru mendapat ruang yang menyenangkan dengan tugas mengatur! Astaga!

Hidup kemudian menjadi mainan tanpa kita banyak tahu aturan mainnya. Seluruh nafas berburu saling bersaing dengan gerak. Pikiran telah beku. Tindakan mana kita tahu? Kita bukan lagi kesatuan antara diri, antara badan dan jiwa, tetapi semuanya telah terpisah-pisah. Jiwa kita entah di mana, hati kita entahlah, tangan, kaki, kepala, mulut, hidung, telinga bermain sendiri-sendiri. Darah? Telah kering terhisap oleh udara beracun. Itu semua lantaran kita merasa tidak mempunyai waktu, itu semua lantaran tangan raksasa yang mengatur tanpa kita tahu.

Apakah  mampu  melawan? Rasa-rasanya tidak. Kita telah terlanjur merusak diri kita sendiri. Wajah telah kehilangan bentuk terkoyak cakaran-cakaran kuku-kuku kita lalu kita sibuk untuk meneliti satu persatu sayatan-sayatan yang berserakan untuk menyusun kembali bentuk wajah kita. Untuk mengurus diri sendiri saja belum bisa, mana sempat kita menoleh dan memandang orang-orang sekeliling kita. Sedangkan tangan raksasa itu adalah kekuatan maha dahsyat yang telah merusak segalanya tanpa rasa bersalah. Mengekploitasi seluruh isi bumi termasuk manusia dengan teramat canggih dan mengkampanyekan kebenaran-kebenaran menurut kepentingan mereka yang menyilaukan hati. Anehnya kita malah dengan cepat berlomba bersandar pada tangan raksasa itu untuk meminta perlindungan, meminta daya hidup, meminta anugrah, sehingga kita yang menjadi korban memberikan legitimasi kepadanya untuk menetapkan keputusan yang menyangkut seluruh sumber kehidupan  kita.

Lalu  kita berbangga dan bercerita kemana-mana bahwa hidup kita telah terjaga oleh suatu tatanan rapi yang menentramkan.

Dengan kondisi demikian, dengan apa kita dapat melawan? Mungkin kata lawan sendiri tidak ada dalam kamus berbahasa kita.

Tangan raksasa itu menjelma menjadi suatu sistem yang teratur. Seperti putaran rolet. Berputar dengan pasti tapi entah kemana angka kan berhenti.

Kesadaran kritis kita, mampukah kita munculkan? Itu pertanyaan mendasar bila kita menginginkan suatu perubahan.

Bukan kesadaran magis dan kesadaran naif. Karena sesungguhnya ini masalah kita bersama yang harus kita tangani secara bersama-sama. Dan janganlah terlalu heran, bila ketika satu titik saja kesadaran kritis kita muncul, tangan raksasa itu akan menjulur ke arah kita. Pertama akan meraba-raba, selanjutnya akan mencubit, selanjutnya lagi akan menampar, selanjutnya pukulan peringatan, lalu pukulan bertubi-tubi, selanjutnya bila tangan itu tak kuasa, maka tangan-tangan itu akan mempergunakan alat-alat pembunuh dari yang sederhana sampai yang teramat canggih sebagai jalan keluar untuk mengamankan kepentingan mereka. Masalahnya sekarang, bisakah kita secara tekun menjalin  tali-tali menjadi jaring? Lantas kita persiapkan untuk menyergap dan memenjarakan tangan raksasa itu. Dengan demikian kita bisa memulai lembaran baru. Menjadikan manusia sebagai manusia.

Ah, lihatlah, tangan raksasa itu telah menjitak kepalaku dan menyergap mulutku. Namun aku berusaha untuk tidak menyerah. Aku tetap akan bersuara dan terus bergerak!

1994-1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: