Tinggalkan komentar

Desa Rangkat, Desa Pelopor Segala #4

BERMALAM DI RUMAH PAK KADES

matahari benar-benar menepi hendak menenggelamkan diri 
hanya sisa cahaya bermain petak umpet di awan-awan 
gelap sebentar lagi menjelang 
orang-orang telah bergegas pulang 
meninggalkan ladang-sawah mereka 
membasuh wajah, membersihkan tubuh, di sungai-sungai  

air yang semakin dingin, tubuh terasa segar 
keletihan ikut larut bersama air sungai yang terus mengalir  

Lampu-lampu mulai menyala 
Kerlap-kerlip mulai tampak terlihat di atas perbukitan

Pak Triansyah, benar-benar menikmati kendaraan dinasnya yang baru. Bila biasanya berjalan kaki atau meminjam sepeda Onthel-nya Bain atau naik becaknya Kang Joko alias Eboni, kini ia bisa mengemudi dengan bebas.

Jalan aspal yang bertahan kehalusannya, lantaran tidak ada kendaraan berat yang boleh melalui jalan Desa Rangkat, siapapun tanpa terkecuali, presiden atau tamu agung sekalipun, semua harus menggunakan kendaraan ala Desa ini.

Sepeda, kereta kelinci, dan becak. Hampir semua warga memiliki sepeda. Ada beraneka ragam sepeda di sini. Walau tetap ada yang menonjol, sepeda Onthel Bain yang tersohor, lantaran seluruh perangkatnya masih asli buatan sebelum tahun 45, kelihatan sangat terawat – karena tiap hari sedikitnya tiga kali sepeda dicuci air kembang dari tujuh sumber air.

Sedang untuk angkutan umum Desa Rangkat adalah Kereta Kelinci. Pertimbangannya bukan soal kecepatan. Tidak ada yang tergesa-gesa, tapi juga tidak ada yang bermalas-malasan. Semua berjalan santai tapi serius. Pertimbangan utamanya adalah soal keamanan, agar tidak terjadi kecelakaan lalu-lintas. Kabar dari desa, kota dan negara-negara tetangga, sudah terlalu banyak kecelakaan lalu lintas. Nyawa yang hilang sia-sia. Kereta kelinci tersebar di berbagai terminal kecil seperti di Bandara Rangkat, di Pasar, di pojok-pojok Dusun, dan dekat Balai Desa. Musik kereta Kelinci juga enak didengar, karena selalu berganti-ganti sesuai dengan lagu yang tengah populer di negeri ini, dengan catatan tidak mengandung lirik-lirik yang tidak sehat.

Angkutan termahal karena hanya satu-satunya yang ada di Desa Rangkat adalah becak Kang Joko alias Eboni. Saya tidak tahu apakah karena ia berhasil meyakinkan seluruh penduduk Desa Rangkat untuk tidak protes dengan memonopoli angkutan atau karena tidak ada satupun yang berminat untuk menyainginya. Bayangkan saja, Desa Rangkat yang terdiri dari daerah hutan, perbukitan, laut, danau, gunung, banyak jalan naik-turun, pasti melelahkan bila harus menggenjot. Tapi entahlah kekuatan darimana diperoleh Kang Joko alias Eboni ini, ia enteng-enteng saja. Mahalnya tarif becak, karena bersikap manasuka. Tergantung suara hati dari Kang Joko alias Eboni. Kalau lagi suram hati, ia bisa mematok 1 juta rupiah dari pintu gerbang Desa Rangkat sampai ke Ibukota dimana Pak Kades berdiam. Ia akan memilih penumpang kosong bila penumpang tak berminat. Tapi kalau hati senang, ia bisa saja menggratiskan penumpangnya. Tapi ini sulit, karena ekspresi wajah Kang Joko alias Eboni ini di kala susah dan senang sama saja.

Senja makin merayap mendekati malam. Lampu sorot dari becak bermotor, telah dinyalahkan oleh Pak Triansyah. Demikian juga lampu kabut. Jalan yang sengaja dilewati adalah jalan pinggiran, tidak menempuh pertengahan kampung. Pasti akan banyak gangguan, sapaan-sapaan yang bisa membuatnya jalan perlahan atau bahkan berhenti dulu untuk menghormati warga. Ini tamu harus sampai rumah Pak Kades menjelang Maghrib.

”Hutan di sebelah kanan yang tadi dilewati dari Pintu Gerbang Rangkat hingga Warung Pojok adalah Hutan kata,” terang Pak Triansyah kepada kedua tamunya. Setelah itu, ia selalu memperkenalkan nama-nama wilayah yang terlewati. ”Itu perbukitan Humor, katanya menunjuk sebelah kiri jalan  kata.  ”Itu Teluk Bahagia, Itu Danau berwarna, Itu Gunung Naras…. Itu….. Itu…..” kata Pak Triansyah kepada kedua tamunya. Kedua tamunya mengangguk-angguk. Entah terekam dalam kepala atau tidak. Tapi kelelahan sudah memancar. Pagi hingga sore tadi sebelum bertemu Kang Joko, perjalanan adalah jalan kaki. Menaiki buki. Menyusuri sungai, dan mandi cahaya matahari.

Keduanya saat ini memegang erat tiang di sisi mereka, sambil sesekali memejamkan mata untuk mengurangi rasa kengerian. Becak bermotor ini melaju kencang. Ketika melewati tikungan seolah hendak terguling. Jalanan memang sepi. Sesekali berpapasan dengan kereta Kelinci.

Jalan naik turun, berkelok-kelok, pepohonan melambai-lambai ringan, gunung Rangkat yang masih tegak terlihat puncaknya, sedang segenap badan sudah terbalut kabut. Keindahan alam semakin tersamar.

Empat perkampungan akhirnya telah terlewati. Ini kampung ke lima. Kampung Rangkat di Desa Rangkat, yang menjadi pusat. Masih ada empat kampung lainnya. Ya, di desa Rangkat ini ada sembilan Kampung. Sembilan angka yang baik. Angka tertinggi. Angka sempurna.

Setelah Balai Desa, melewati lahan kososng yang biasa dijadikan sebagai tempat bermain anak atau olahraga Bulutangkis dan tenis meja, sampailah mereka di rumah Pak Kades Yoyok.

David Solvide, yang berpakaian Hansip memberi hormat kepada Pak Triansyah. Setelah itu bergegas, menurunkan dua tas besar yang hampir menutupi kedua penumpangnya. Wajah dua pelancong kelihatan lelah dan pucat. Perjalanan yang tidak menyenangkan? Ih, terus-terang mereka memang tegang, Becak bermotor dibawa lari kencang, sedang jalan naik-turun dan berkelok-kelok.

”Kita sudah sampai,”

Di bagian depan ada sebuah bangunan yang terbuka dengan empat tiang kokoh pada lingkaran dalamnya. Bangunan itu menyerupai pendopo di Jawa. Bedanya mungkin hanya atap yang terbuat dari rangkaian daun tebu atau dikenal dengan sebutan rapak. Jadi kita sebut saja pendopo.

Sekitar 20 orang terlihat tengah duduk dalam lingkaran. Ada Pak Kades, Bu Kades, Sekretaris Desa,  dan beberapa orang tokoh masyarakat dan tokoh pemuda. Mendengar suara mesin becak bermotor, secara spontan kepala mereka bergerak, pandangan mata menatap sosok-sosok yang hadir bersama becak itu.

”Hm, baiklah, kita sudahi pertemuan ini. Maghrib tinggal beberapa menit lagi,” Pak Kades menutup pertemuan.

Mereka berdiri, bersalam-salaman.

Triansyah, David, dan kedua tamu, masih berdiri di depan bangunan itu. Satu persatu menuruni anak tangga, mengambil alas kaki, mengangguk dan bersalaman dengan mereka lalu bergegas pulang. Hikmat Nugraha, yang tampak sangat tergesa, hanya mengangguk dan setengah berlari. Ia harus segera sampai di Masjid. Tak berselang lama, terdengar suaranya mengumandangkan adzan.

”Mari silahkan, naik…” Suara Pak Kades dengan suara bass-nya. Di belakangnya Bu Kades dan Sekdes.

Triansyah dan David memberi hormat kepada Pak Kades. Selanjutnya, mereka menaiki empat anak tangga.

”Maaf, saya ke Masjid dulu. Ada Bu Kades dan yang lainnya. David, kalau nanti tas mereka datang, tolong dimasukkan ke kamar Uleng saja dulu, ya…”

”Siap, Pak!”

Pak Kades diikuti Triansyah bergegas ke Masjid. Letaknya tidak jauh dari situ. Tadi mereka melewati, tiga rumah di utara Balai Desa.

”Selamat datang ke desa Rangkat,” salam dari Mommy, Bu Kades, sambil menyalami dua orang tamu. Kepada Lauran lalu ke Jack. Mata Bu Kades menatap agak lama kepada lelaki. Lelaki muda, yang walau terlihat letih, tidak mengurangi kegantengannya. Dan tangan masih tergenggam. Sambi Jeng Ana, Sekretaris Desa menarik tangannya, dan menggantikan tangan Bu Kades bersalaman dengan Jack.

”Saya Sekretaris desa di Sini. Panggil saja Jeng Ana. Lengkapnya Triana Septiarini (http://www.kompasiana.com/triana.septiarini). Jangan lupa panggil Jeng Ana saja ya….” dengan nada renyah dan sempat mengerlingkan matanya.

Mommy kelihatan jengkel.

”Ssst, jangan genit-genit,” bisiknya yang tetap terdengar orang di sekitarnya.

”Mari, masuk saja…,” Mommy, sambil membalikkan badan, berjalan hingga ada tangga menurun dari pendopo, memasuki bangunan utama. Di teras ada kursi plastik. Mommy membuka pintu, ”Mari….”

”Uleng, Cinta…..”

Uleng dan Cinta datang. ”Hm… nanti biar… Hm.. siapa tadi namanya?” tanyanya kepada Laura.

”Laura,”

”Ya, Laura biar tidur di kamar Cinta, kamu juga Uleng. Kamarmu, biar ditempati oleh.. hmm.. siapa?”

”Jack”

”Sekarang biar mereka istirahat, antarkan ke kamar kalian, tunjukkan kamar mandi, ya…”

”Siap…!” Cinta semangat sekali.

”Lho…Tidak diajak ngobrol dulu, Bu.. Setidaknya si Jack,” bisik Jeng Ana kepada Bu Kades.

”Hush!”

Jeng Ana kelihatan kecewa. Ini pasti siasat dari Bu Kades, biar mengambil kesempatan sendiri tanpa terganggu olehnya. Takut bersaing rupanya.

”Ya, sudah, Bu.. Saya pamit pulang, ya….”

Satu jam kemudian, Bain yang membonceng Pak Thamrin dan Kang Joko alias Eboni terlihat memasuki halaman rumah Pak Kades. (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: