Tinggalkan komentar

Desa Rangkat Desa Pelopor Segala #3

MAMPIR WARUNG POJOK .

Tak terduga, Warung super lengkap Kang Ibay sudah dipenuhi oleh orang-orang. Mereka berdiri bergerombol di luar. Pandangan mereka sesekali mengarah kepada tikungan jalan, sekitar 500 meter dari warung itu. Sebuah tikungan yang mulai menghantarkan areal perumahan pertama Desa Rangkat. Jarak dari pintu Gerbang memang jauh. Sekitar empat kilometer. Tapi perjalanan tidak akan terasa walaupun berjalan kaki, mengingat indahnya pemandangan Desa Rangkat yang sangat luar biasa. Pemandangan yang hanya ada dalam kisah-kisah indah. Pemandangan yang ada di film-film, dengan tipuan editing menghasilkan gambaran satu wilayah padahal terekam dari berbagai wilayah keindahan. Pemandangan yang mungkin bisa hadir dalam mimpi dan selalu menjadi mimpi-mimpi umat manusia.

Di Desa Rangkat, segenap impian hadir dalam nyata. Pemandangan alamnya, tata kehidupan Sosial Budaya Politik Ekonomi-nya, keberagaman yang menjadi energi kekuatan bagi hubungan antar manusianya, keramahatamahan penduduk yang tersalurkan dari hati terdalam tanpa dibuat-buat untuk menyenangkan orang, semua ada di Desa ini. Desa Rangkat.

Janganlah terkejut, Desa ini teramat luas. Sangat luas sebagai Desa. Luasnya bisa menyamai sebuah kota atau bahkan sebuah Negara. Desa yang sempurna, yang memiliki sungai, gunung, perbukitan, danau, laut, dan hutan. Flora-Fauna juga sangat beragam dan terjaga di desa ini.

Sebagai Desa yang terjaga keasriannya dan terjaga keseimbangannya, yang menyatu dengan perkembangan jaman. Ada bandara kecil, dengan pesawat jenis fokker yang setiap hari bisa menghantarkan orang-orang ke berbagai kota di Negeri di mana desa Rangkat bernaung.

Masyarakat Desa Rangkat merasa hidup sejahtera. Dengan ukuran kesejahteraan yang mereka tentukan sendiri. Belum pernah terjadi kasus adanya orang kurang gizi atau mati kelaparan. Rumah-rumah di Desa Rangkat memang bukan bangunan tembok. Ia terbangun dari papan-papan dan atap jalinan dedaunan. Tapi tidak terlihat kumuh dan kotor. Mereka sangat bisa menata ruang dan lingkungannya. Sangat Asri, dan kau bisa betah berada di dalamnya karena tidak pernah merasakan panas atau dingin yang luar biasa. Terasa hangat dalam berbagai situasi. Rahasinya? Entahlah.. Hanya mereka yang tahu.

Orang-orang bersorak. Burung-burung terkejut, beterbangan. Pohon kelapa melambaikan nyiurnya. Semburat merah di langit, masih menyisakan cahayanya yang indah, yang bermain menyatu bersama awan yang bergerak pelan dalam hembusan angin lembah.

Bendera Desa Rangkat dalam ukuran kecil terpegang di tangan orang-orang. Mereka melambai-lambaikan, ketika Sepeda Onthel Bain Saptaman dan Becak Kang Joko Erdhianto alias Erdhieboni, mulai tampak di tikungan jalan. Mendekat. Semakin dekat.

Dua pelancong terpana. Ah, sambutan yang luar biasa. Masih di becak ia telah mengeluarkan kameranya. Pencet tombol berkali. Wajah-wajah yang terekam tampak sumringah.

Becak dan sepeda telah sampai di warung ini. Warung strategis karena berada di urutan pertama untuk memasuki perkampungan pertama Desa Rangkat. Tulisan dari kayu yang terukir. ”Warung Pojok Kang Ibay” (lihat DI SINI)

 Pasti menjadi tujuan pertama bagi orang-orang yang memasuki Desa Rangkat. Setelah letih menempuh perjalanan dari Pintu Gerbang ke perkampungan pertama Desa Rangkat.

Memang, Desa Rangkat adalah desa yang unik. Desa terbesar di seluruh penjuru dunia. Seperti kukatakan, luasnya menyamai sebuah kota atau sebuah negara kecil. Berbeda dengan desa-desa sekelilingnya yang mungkin tidak lebih 10% luasnya dari Desa Rangkat. Mengapa bisa begitu? Tentu ada sejarahnya. Soal itu kita tunda dulu. Kita kembali kepada para pelancong yang sudah memasuki perkampungan Desa Rangkat.

Orang-orang mendekat. Membungkukkan badannya, lalu menyalami sang lelaki yang turun dari becak. Mereka menyambut tamu. Siapapun ia, beginilah adanya. Ajaran yang tertanam sejak kecil. Dikisahkan dan terus berulang pada setiap generasi. Senantiasa dihidupkan dalam keseharian. Melekat, Menjadi budaya.

Demikian sang perempuan, ketika turun dari sepeda Onthel Kang Bain, langsung diserbu orang-orang untuk disalami dan mengucapkan selamat datang. Beberapa laki-laki jahil agak lama menggenggam telapak tangannya. Namun gadis itu hanya tersenyum. Menanggapi keramahan yang tidak dibuat-buat.

Bain menuntun sepedanya, mendekati Kang Joko yang tengah menghapus keringat di wajahnya. Joko menyikut Bain. Terhuyung. Sepeda hampir lepas dari genggaman.

”Enak kamu,”

Bain tertawa. Terbahak.

Kang Ibay, sosok yang memiliki tubuh kekar dengan kepalanya yang masih plontos, sebagai pemilik warung, turut pula mengucapkan selamat datang. Beramah tamah dengan kedua pelancong, lalu menghantar mereka memasuki warung pojoknya. Ia persilahkan duduk di sebuah kursi kayu. Memanggil seorang pelayan yang membawa menu.

”Hidangan dari segala penjuru dunia ada di sini. Pilihlah mana yang disuka,” kata Kang Ibay kepada kedua pelancong itu.

Kedua pelancong tertawa, menganggapnya bercanda. Tapi melihat daftar menu, terbukti memang demikian adanya.

“Saya dulu koki di kapal pesiar. Keliling dunia, lebih dari lima tahun, belajar aneka masakan dari seluruh penjuru negeri,” Kang Ibay tanpa ditanya untuk menjawab pertanyaan yang masih di kepala. Keduanya mengangguk-angguk.

Di kursi pojokan, Bain dan Joko memesan es teh. Sesekali matanya melirik ke arah sang gadis. Dua perempuan dengan masih menggenggam bendera Desa Rangkat masuk ke dalam.

”Suit..suit…” Bain dan Joko muncul keusilannya bersahut-sahutan.

”Ehmmm,” salah satu perempuan bernama Dwi Astini (Profilnya di Kompasiana bisa dilihat DI SINI) menoleh dan mencibir dengan memonyongkan bibirnya.

Bain dan Joko tergelak.

Sedangkan satu perempuan lagi yang berjalan beriringan dengannya adalah Dewi Wahyu Kurniati (Klik DI SINI).

Seseorang yang akhirnya berhasil tinggal di Desa Rangkat setelah dalam perjalanannya ia tersesat (lihat DI SINI)   . Lalu terpesona oleh auro desa Rangkat yang menentramkan hatinya. Ia merasa mendapatkan tempat yang tepat. Membujuk Bu Kades dan Uleng agar bisa tinggal di Desa Rangkat. Mendarmabaktikan ilmu yang diperolehnya sebagai lulusan universitas jurusan Farmasi.

Kedua perempuan itu mendekati meja kedua pelancong. Mereka menyerahkan bendera itu. Berbicara, entah apa, tak terdengar dari sini. Tapi terlihat kemudian keduanya duduk berhadap-hadapan, memanggil pelayan dan memesan makanan.

Sang tamu ternyata memesan menu khas Desa Rangkat. Terong goreng pedas dan sayur bayam merah. Ditambah tahu dan sate keong. Sedangkan Dwi dan Dewi memesan Pizza.

Sambil menunggu pesanan datang. Sang lelaki mengeluarkan kamera. Memotret orang-orang yang ada di sana. Bain dan Joko bergaya dengan menunjukkan wajahnya yang paling jelek, membuat Jack terbahak. Dwi, Dewi dan Laura tersenyum,

“Dasar ndeso,” teriak Dwi.

Ketika Dwi dan Dewi di-foto, mereka bergaya narsis. Mengacungkan dua jari dan mengeluarkan lidah yang disampirkan di pinggiran bibir. Setelah itu, mereka berfoto bersama Laura.

Makanan datang. Rasa lapar baru terasa. Lahap sekali. Membuat Bain dan Joko mengeluarkan air liur. Sebentar saja hidangan sudah ludes. Dewi, Dwi, Laura dan Jack, entah apa yang dibicarakan, tersenyum, tertawa, terbahak.

”Bagi-bagi dong, tawanya,” teriak Joko dari pojokan tempat duduknya yang belum berpindah.

”huuuuuuuuuu!” Dwi dan Dewi hampir berbarengan sambil menjulurkan lidahnya.

Terdengar suara mesin motor. Berhenti di depan warung. Joko terperangah. Kendaraan yang dilihatnya adalah becak bermotor. Wah, dapat saingan nih. Ia lihat pengendara dan penumpangnya, dua orang berpakian hansip.

”Lho, kok, Pak Hansip?” Joko.

”Ini sumbangan dari negeri sebrang untuk operasional pasukan Hansip. Mengingat desa yang luas., Harus menggunakan kendaraan bermotor. Nah, becak bermotor dianggap paling efektif karena bisa mengangkut tiga orang, bila dipaksa-pun bisa lima orang. He.h.eh.e.e.” Pak Triansyah cepat menjawab, seakan tahu pikiran dan kekhawatiran Joko. ”Tenang sajalah, kendaraan ini tidak akan digunakan sebagai angkutan desa Rangkat,”

Legalah hati Joko.

Pak Triansyah dan Pak Thamrin menemui Kang Ibay. Mereka berbincang. Setelah itu, keduanya mendekati Joko dan Bain.

”Jadi, kalian yang mengantar? Kami diperintahkan untuk mengawal sampai rumah Pak Kades. Tamunya dua orang itu?” sambil menunjuk dua pelancong.

Joko mengangguk. Wah, padahal dia berniat untuk bersaing secara sehat, berebut dengan Bain agar dapat mengangkut Laura. Ia telah mempersiapkan strategi. Tapi buyar sudah. Sedang Bain cengengesan saja.

Pak Triansyah dan Pak Thamrin Dahlan mendekati kedua tamu mereka. Memberi hormat, dan menyampaikan tugas yang diembannya. Jack dan Laura tampak tersenyum senang.

Kedua tamu naik becak bermotor. Dua tas besarnya tetap diletakkan  di becak Kang Joko. Sedang Bain, memboncengkan Pak Triansyah. Mereka bergegas menuju ke rumah Pak Lurah, yang harus melewati hutan dan empat perkampungan lagi. Rumah Pak Lurah yang terletak di ibukota desa Rangkat, yang ditetapkan tepat di tengah-tengah atau di pusaran pusat desa Rangkat. Mereka harus mengejar waktu, jangan sampai Maghrib terlalui. Syukur bisa sampai di rumah Pak Lurah tepat waktu Maghrib atau beberapa menit sebelumya.

Dwi dan Dewi melambaikan tangan. ”Kalau mau keliling, bolehlah kami di ajak. Kami hafal seluk-beluk Desa Rangkat,” teriak mereka kepada dua pelancong. (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: